0072. 20 (Duapuluh) Keutamaan Sahabat “UMAR BIN KHOTOB R.A.”, di HADIST SHAHIH BUKHORI (1.Orang Ditakuti Setan, Jin dan Manusia di Zaman Nabi, 2. Pertama kali yang Berinisiatif mengusulkan pembukukan Al-Qur’an, 3.Salah satu sahabat (kaum Laki2) yang dicintai Rosullulloh setelah Abu Bakar, 4.Islam mendapat kemuliaan (kemenangan & Kekuatan) Sejak Umar masuk Islam, 5.Salah satu manusia yang bukan nabi yang Mendapat Ilham, 6.Orang yang lebih bersungguh sungguh dan lebih dermawan setelah Rosullulloh SAW, 7.Kesaksian dan Doa Ali Bin Abi Tolib tatkala Umar Bin Khotob Meninggal, 8.Salah satu sahabat yang Dimimpikan Rosullulloh mempunyai Istana di Surga, 9.Salah satu dari dua orang yang mati syahid “sesuai sabda Rasullulloh”, 10.Orang yang Mendapat Kabar Gembira dari Rosulluloh akan “Masuk Surga”, 11. Manusia yang paling baik No. 3 setelah Rosullulloh dan Abu Bakar, 12.Sahabat yang pendapatnya menjadi sebab turunnya beberapa ayat Alquran, 13. Sahabat yang berdoa Minta Hujan dengan perantaraan Paman Nabi dan Doanya dikabulkan oleh Alloh, 14.Sahabat yang mengusulkan Panggilan Adzan dan Iqomah dengan Mengumandangkanya, 15.Sahabat yang di beri ilmu Alloh lewat Rosullulloh dalam mimpinya, 16.Orang yang kuat dan teguh kepada agamanya, 17.Sosok Pemimpin yang Cerdas dan Adil, 18.Salah satu sahabat yang paling berani membela Islam dengan Akan selalu membunuh Siapapun yang akan menghancurkan/Menjelekan Islam, 19.Orang yang membenarkan Abu Bakar dalam menegakan Agama Alloh & Rhosulnya dengan memerangi Orang yang murtad tidak mau membayar zakat setelah Rhasullulloh Wafat, 20. Orang yang peduli Politik utk menyelamatkan umat islam dari perebutan kekluasaan setelah rahasullulloh wafat.

24 Agustus 2019,

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, Subhanalloh, wal hamdulillah, wala ilaha ilalloh, huallohu akbar. Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah.

Keutamaan2 Sahabat “Umar Bin Khotob R.A” di SHAHIH BUKHORI ((d) da’wahrights 2010| http://abinyazahid.multiply.com, izin terbuka untuk menyebarluaskan dalam rangka da’wah, Sumber konten dari: http://telkom-hadits9imam.com)

Dalil hadist Shahih Bukhori

  1. Orang Ditakuti Setan, Jin dan Manusia di Zaman Nabi
    • Shahih Bukhari No. 3407. Telah bercerita kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah bercerita kepada kami Ya’qub bin Ibrahim berkata, telah bercerita kepadaku bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul Hamid bahwa Muhammad bin Sa’ad mengabarkan kepadanya bahwa bapaknya berkata. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepadaku ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari Shalih dari Ibnu Syihab dari ‘Abdul Hamid bin ‘Abdur Rahman bin Zaid dari Muhammad bin Sa’ad bin Abu Waqqash dari bapaknya berkata; ‘Umar meminta izin masuk kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat ada wanita-wanita Quraisy sedang berbin cang bersama Beliau dan berlama-lama berbicara hingga suara mereka terdengar lebih keras dari suara beliau. Ketika ‘Umar terdengar meminta izin, para wanita itu berdiri lalu pergi berlindung di balik tabir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkannya Maka ‘Umar masuk lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa. ‘Umar berkata; “Semoga Allah selalu membuat gigi baginda tertawa wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Aku heran dengan para wanita yang tadi bersamaku. Ketika mereka tendengar suaramu mereka langsung saja menghindar dan berlindung di balik tabir”. ‘Umar berkata; “Bagindalah, wahai Rasulullah, seharusnya yang lebih patut untuk disegani”. Selanjutnya ‘Umar berkata; “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi diri kalian sendiri, mengapa kalian segan (takut) kepadaku dan tidak tidak segan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Para wanita itu menjawab; “Ya, karena kamu lebih galak dan keras hati dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan- Nya, tidak ada satu setanpun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong melainkan dia akan mencari lorong lain selain lorong yang kamu lalui”
    • Shahih Bukhari No. 3051. Telah bercerita kepada kami ‘Ali bin ‘Abdullah telah bercerita kepada kami Ya’qub bin Ibrahim telah bercerita kepada kami bapakku dari Shalih dari Ibnu Syihab berkata telah mengabarkan kepadaku ‘Abdul Hamid bin ‘Abdur Rahman bin Zaid bahwa Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqash mengabarkan kepadanya bahwa Sa’ad bin Abi Waqash berkata; ‘Umar meminta izin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat ada wanita-wanita Quraisy sedang berbincang bersama Beliau dan berlama-lama berbicara hingga suara mereka terdengar dengan keras. Ketika ‘Umar terdengar meminta izin, para wanita itu berdiri lalu pergi berlindung di balik tabir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan’Umar masuk lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa. ‘Umar berkata; “Semoga Allah selalu membuat gigi baginda tertawa wahai Rasulullah”. Beliau berkata: “Aku heran dengan para wanita yang tadi bersamaku. Ketika mereka mendengar suaramu mereka langsung saja menghindar dan berlindung dari balik tabir”. ‘Umar berkata; “Kamulah wahai Rasulullah, seharusnya yang lebih patut untuk disegani”. Selanjutnya ‘Umar berkata; “Wahai para wanita yang menjadi musuh bagi diri kalian sendiri, mengapa kalian segan (takut) kepadaku dan tidak tidak segan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Para wanita itu menjawab; “Ya, karena kamu lebih galak dan keras hati dibanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam”. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada satu setanpun yang berjumpa denganmu pada suatu lorong melainkan dia akan mencari lorong lain yang tidak kamu lalui”.
  2. Orang Pertama kali yang Berinisiatif mengusulkan pembukukan Al-Qur’an
    • Shahih Bukhari No. 4311. Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri dia berkata; Telah mengabarkan kepadaku Ibnu As Sabbaq bahwa Zaid bin Tsabit Al Anshari radliallahu ‘anhu -salah seorang penulis wahyu- dia berkata; Abu Bakar As shiddiq datang kepadaku pada waktu perang Yamamah, ketika itu Umar disampingnya. Abu Bakr berkata bahwasanya Umar mendatangiku dan mengatakan; “Sesungguhnya perang Yamamah telah berkecamuk (menimpa) para ahabat, dan aku khawatir akan menimpa para penghafal Qur’an di negeri-negeri lainnya sehingga banyak yang gugur dari mereka kecuali engkau memerintahkan  engumpulan (pendokumentasian) al Qur`an.” Abu Bakar berkata kepada Umar; “Bagaimana aku mengerjakan suatu proyek yang tidak pernah dikerjakan Rasulullah  hallallahu ‘alaihi wasallam?” Umar menjawab; “Demi Allah hal itu adalah sesuatu yang baik.” Ia terus mengulangi hal itu sampai Allah melapangkan dadaku  ebagaimana melapangkan dada Umar dan aku sependapat dengannya. Zaid berkata; Abu Bakar berkata; – pada waktu itu disampingnya ada Umar sedang duduk, dan dia  idak berkata apa-apa.- “Sesungguhnya kamu adalah pemuda yang cerdas, kami tidak meragukanmu, dan kamu juga menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi  asallam, karena itu kumpulkanlah al Qur’an (dengan seksama).” Zaid berkata; “Demi Allah, seandainya mereka menyuruhku untuk memindahkan gunung dari gunung- unung yang ada, maka hal itu tidak lebih berat bagiku dari pada (pengumpulan atau pendokumentasian al Qur’an). kenapa kalian mengerjakan sesuatu yang tidak pernah  ikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Abu Bakar menjawab; “Demi Allah hal itu adalah baik.” Aku pun terus mengulanginya, sehingga Allah melapangkan  adaku sebagaimana melapangkan dada keduanya (Abu Bakar dan Umar). Lalu aku kumpulkan al Qur’an (yang ditulis) pada kulit, pelepah kurma, dan batu putih lunak,  uga dada (hafalan) para sahabat. Hingga aku mendapatkan dua ayat dari surat Taubah berada pada Khuzaimah yang tidak aku temukan pada sahabat mana pun.  aitu ayat: Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan)  agimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak  da Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (9: 128- 129). Dan mushaf yang telah aku kumpulkan itu  erada pada Abu Bakr hingga dia wafat, kemudian berada pada Umar hingga dia wafat, setelah itu berada pada Hafshah putri Umar. Diriwiyatkan pula oleh ‘Utsman  in ‘Umar dan Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab; Al Laits berkata; Telah menceritakan kepadaku ‘Abdur Rahman bin Khalid dari Ibnu Syihab; dia berkata; ada  ada Abu Huzaimah Al Anshari. Sedang Musa berkata; Dari Ibrahim Telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab; ‘Ada pada Abu Khuzaimah.’ Juga  iriwayatkan oleh Ya’qub bin Ibrahim dari Bapaknya. Abu Tsabit berkata; Telah menceritakan kepada kami Ibrahim dia berkata; ‘Ada pada Khuzaimah atau Abu
    • Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidullah Abu Tsabit, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin sa’d dari Ibnu Syihab dari Ubaid bin Sibaq dari Zaid bin tsabit mengatakan, Abu bakar mengutus seseorang menemuiku karena banyaknya korban yang gugur pada perang Yamamah, ketika itu Abu bakar bersama Umar. Abu Bakar berkata; ‘Umar mendatangiku dan mengatakan; ‘Korban perang telah meluas pada perang yamamah hingga merenggut qurra` (penghafal) alquran, dan saya khawatir jangan-jangan dengan meninggalnya qurra` alquran di banyak tempat, mengakibatkan sekian banyak ayat quran akan menghilang, dan saya berpendapat jika engkau perintahkan untuk mengumpulkan alquran.’ Maka Saya menjawab; ‘bagaimana aku lakukan sesuatu yang belum pernah Rasulullah lakukan? ‘ Umar kontan mengemukakan pendapatnya; ‘Demi Allah, ini adalah suatu kebaikan, ‘ Umar tiada henti-hentinya mendorongku untuk melakukan pekerjaan ini, hingga Allah melapangkan dadaku untuk melakukan pekerjaan yang dada Umar telah lebih dahulu dilapangkan terhadapnya, dan aku sependapat dengan pendapat Umar.’ Zaid mengatakan, Abu Bakar berkata; ‘Sungguh engkau adalah laki-laki yang masih muda, cerdas, dan kami sama sekali tidak menyangsikan kemampuanmu, sebab engkau sudah terbiasa menulis wahyu untuk Rasulullah. Maka susurilah alquran (yang masih terpencar-pencar) dan kumpulkanlah.’ Maka Zaid menjawab; “Demi Allah, sekiranya Abu bakar menugasiku untuk memindahkan sebuah gunung, itu tidak lebih berat bagiku daripada menugasiku untuk menghimpun alquran. Maka aku berkata; ‘Bagaimana mungkin anda berdua melakukan sesuatu yang tidak pernah di lakukan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam? ‘ Abu Bakar menjawab; ‘demi Alllah, pekerjaan ini adalah kebaikan.’ Tiada henti-hentinya Abu Bakar memotivasi pertimbanganku hingga Allah melapangkan dadaku untuk melakukan suatu hal yang Allah telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar untuk melakukannya. Dan aku sependapat dengan keduanya, maka kutelusuri alquran yang terpencar-pencar dan kuhimpun dari pelepah, kulit, tembikar, tulang dan dada para penghapal, dan kutemukan di akhir surat at taubah ayat yang berbunyi; ‘Telah datang kepada kalian seorang rasul dari jenis kamu sendiri,,,, hingga akhir ayat (QS. Attaubah 128) bersama Khuzaimah atau Abu Khuzaemah, sehingga aku masukkan dalam suratnya. Kemudian shuhuf (manuskrip pencatatan asli alquran) ini berada di Abu Bakar ketika hidupnya sampai Allah mewafatkannya, kemudian keberadaan shuhuf ini pada Umar ‘azza wajalla semasa hidupnya sampai Allah mewafatkannya, kemudian pada Hafshah binti Umar.’ Muhammad bin Ubaidullah mengatakan; maksud al likhaf ialah tembikar (tanah liat yang dibakar).
  3. Salah satu sahabat (kaum Laki2) yang dicintai Rosullulloh setelah Abu Bakar
    • Shahih Bukhari No. 4010. Telah menceritakan kepada kami Ishaq Telah mengabarkan kepada kami Khalid bin ‘Abdullah dari Khalid Al Hadzdza’ dari Abu ‘Utsman bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutusnya Amru bin Ash untuk memimpin pasukan kaum muslimin dalam perang Dzatus Salasil. Amru bin Al Ash berkata; Aku menemui Rasulullah seraya bertanya; Ya Rasulullah, siapakah orang yang engkau cintai? Rasulullah menjawab; ‘Aisyah.’ Lalu saya tanyakan lagi; Kalau dari kaum laki-laki, siapakah orang yang paling engkau cintai? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Ayah Aisyah (Abu Bakr).’ saya bertanya lagi; lalu siapa? Rasulullah menjawab: ‘Umar bin Khaththab.’ Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang sahabat lainnya. Setelah itu aku pun diam karena aku takut termasuk orang yang paling terakhir
  4. Islam mendapat kemuliaan (kemenangan & Kekuatan), Sejak Umar masuk Islam
    • Shahih Bukhari No. 3391. Telah bercerita kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami Abdullah dari Yunus dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Al Musayyab, dia mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku sedang tidur, aku (bermimpi) melihat diriku ada di samping sebuah sumur yang memiliki timba lalu aku mengambil air dengan timba itu sesuai kehendak Allah. Kemudian timba itu diambil oleh Ibnu Abu Quhafah lalu dia menimba sebanyak satu atau dua timba air dan pada tarikannya itu ada kelemahan dan Allah telah mengampuni kelemahannya itu. Kemudian timba itu menjadi besar alu diambil oleh Ibnu Al Khaththab. Sungguh aku belum pernah melihat di tengah-tengah manusia ada sesuatu yang begitu luar biasa yang dilakukan oleh seseorang kemudian dia membagi-bagikan kepada manusiaseperti yang dilakukan oleh ‘Umar sehingga manusia menjadi puas”.
    • Shahih Bukhari No. 3400. Telah bercerita kepadaku Ahmad bin Sa’id Abu Abdullah telah bercerita kepada kami Wahb bin Jarir telah bercerita kepada kami Shakhr dari Nafi’ bahwa Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku sedang berada di dekat sumur saat aku melepaskan sarungku, Abu Bakr dan ‘Umar datang menemuiku. Lalu Abu Bakr mengambil (air) dengan satu atau dua timba dan pada tarikannya itu ada kelemahan dan Allah mengampuninya. Kemudian Ibnu Al Khaththab mengambil timba itu dari tangan Abu Bakr sehingga dapat mengambil air  yang banyak. Aku belumpernah melihat di kalangan manusia ada orang yang berbuat saperti apa yang diperbuat oleh ‘Umar hingga manusia menjadi puas karenanya”. Wahb berkata; Al’Athan adalah tempat menderum unta”. Dia berkata; “Hingga unta-unta dapat minum dengan puas dan beristirahat”.
    • Shahih Bukhari No. 3408. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al Mutsannaa telah bercerita kepada kami Yahya dari Isma’il telah bercerita kepada kami Qais berkata, ‘Abdullah bin Mas’ud berkata; “Kami senantiasa mulia sejak ‘Umar masuk Islam”.
    • Shahih Bukhari No. 3574. Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Isma’il bin Abu Khalid dari Qais bin Abu Hazim dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu berkata; “Kami selalu mendapat kemuliaan (kemenangan) sejak ‘Umar masuk Islam”.
    • Shahih Bukhari No. 3406. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Numair telah bercerita kepada kami Muhammad bin Bisyir telah bercerita kepada kami ‘Ubaidullah berkata, telah bercerita kepadaku Abu Bakr bin Salim dari Salim dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dalam tidurku, aku bermimpi menarik timba (mengambuil air) untuk memberi minum unta dari suatu sumur. Kemudian Abu Bakr datang lalu menarik (mengambil air) satu atau dua timba dan pada tarikannya itu ada kelemahan dan Allah mengampuninya. Kemudian ‘Umar bin Al Khaththab datang lalu mengambil timba tersebut sehingga dapat mengambil air yang banyak. Aku belum pernah melihat di kalangan manusia ada orang yang berbuat saperti apa yang diperbuat olehnya lalu memberi minum unta-unta hingga manusia menjadi puas karenanya”. Ibnu Jubair berkata; Al ‘Abqariy artinya ladang luas yang indah”. Yahya berkata az-Zaraabiyyu artinya permadanipermadani yang bersabut halus pada permukaannya yang (mabtsuutsah) terhampar sangat banyak. Dalam firman Allah Ta’ala QS Al Ghasyiyah ayat 16.
    • Shahih Bukhari No. 3361. Telah bercerita kepadaku Abdurrahman bin Syaibah telah bercerita kepada kami Abdurrahman bin Al Mughirah dari bapaknya dari Musa bin ‘Uqbah dari Salim bin Abdullah dari Abdullah radliallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat manusia berkumpul di tanah lapang lalu Abi Bakr tampil berdiri kemudian dia menarik sebuah atau dua buah timba (untuk mengisi air dari sumur) dan diantara tarikannya itu ada kelemahan dan Allah mengampuninya. Kemudian timba itu diambil oleh ‘Umar lalu di tangannya timba itu menjadi besar. Dan aku belum pernah melihat di tengah-tengah manusia ada sesuatu yang begitu luar biasa yang dilakukan oleh seseorang (seperti yang dilakukan oleh ‘Umar), kemudian dia membagi-bagikan kepada manusia sehingga mereka menjadi puas”. Dan Hammam berkata; Aku mendengar Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Maka Abu Bakr menarik sebuah atau dua buah timba…”.
  1. Salah satu manusia yang bukan nabi yang Mendapat Ilham (Pembicaraanya selalu benar/Firasatnya sangat tinggi)
    • Shahih Bukhari No. 3210. Telah bercerita kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh telah ada pada setiap umat-umat sebelum kalian para muhaddits (orang-orang yang selalu berpandangan lurus/punya firasat tinggi) dan seandainya mereka ada pada umatku ini tentu dia adalah ‘Umar bin Al khaththab radliallahu ‘anhu”.
    • Shahih Bukhari No. 3413. Telah bercerita kepada kami Yahya bin Qaza’ah telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyalahu’anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh telah ada pada setiap umat-umat sebelum kalian para muhaddits (orang-orang yang selalu berpandangan lurus/punya firasat tinggi) dan seandainya ada seseorang pada umatku ini tentu dia adalah ‘Umar”. Zakariya’ bin Abu Za’idah menambahkan dari Sa’ad dari Abu Salamah dari Abu Hurairah Radhiyalahu’anhu berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh telah ada pada orang-orang sebelum kalian dari kalangan Bani Isra’il mereka yang dianugerahkan pembicaraannya selalu benar padahal mereka bukanlah dari kalangan para Nabi. Dan seandainya ada pada umatku ini seorang dari mereka, maka tentu dia adalah ‘Umar”. Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma menjelaskan dengan redaksi; “Dari kalangan Nabi bukan muhaddats”.
  2. Orang yang lebih bersungguh sungguh dan lebih dermawan (Dalam harta) setelah Rosullulloh SAW
    • Shahih Bukhari No. 3411. Telah bercerita kepada kami Yahya bin Sulaiman berkata, telah bercerita kepadaku Ibnu Wahb berkata, telah bercerita kepadaku ‘Umar, dia adalah Ibnu Muhammad bahwa Zaid bin Aslam bercerita kepadanya dari bapaknya berkata, Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bertanya kepadaku tentang sebagian aktifitas yang biasa dilakukannya, maksudnya ‘Umar radliallahu ‘anhu, maka dia mengabarkan aku, katanya; “Tidak pernah aku melihat seorangpun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang lebih bersungguh-sungguh dan lebih dermawan (dalam harta) hingga meninggal dunia daripada ‘Umar bin Al Khaththab”.
    • Shahih Bukhari No. 2558. Telah bercerita kepada kami Harun bin Al Asy’ats telah bercerita kepada kami Abu Sa’id, maula Bani Hasyim telah bercerita kepada kami Shokhr bin Juwairiyah dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa ‘Umar radliallahu ‘anhu menshadaqahkan hartanya pada masa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam dimana hartanya itu dinamakan Tsamagh yakni kebun kurma. ‘Umar berkata: “Wahai Rasulullah, aku mendapatkan bagian harta dan harta itu menjadi yang paling berharga bagiku dan aku ingin  enshadaqahkannya”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Shadaqahkanlah dengan pepohonannya dan jangan kamu jual juga jangan dihibahkan dan jangan pula diwariskan akan tetapi ambillah buah-buahannya sehingga dengan begitu kamu dapat bershadaqah dengannya”. Maka ‘Umar menshadaqahkannya dimana tidak dijualnya, tidak dihibahkan dan juga tidak diwariskan namun dia menshadaqahkan hartanya itu untuk fii sabilillah (di jalan Allah), untuk membebaskan budak, orang-orang miskin, untuk menjamu tamu, ibnu sabil dan kerabat.. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma’ruf (benar) dan untuk memberi makan teman-temannya asal bukan untuk maksud menimbunnya.
    • Shahih Bukhari No. 2565. Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Yazid bin Zurai’ telah bercerita kepada kami Ibnu ‘Aun dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata; ‘Umar mendapatkan harta berupa tanah di Khaibar lalu dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Aku mendapatkan harta dan belum pernah aku mendapatkan harta yang lebih berharga darinya. Bagaimana Tuan memerintahkan aku tentangnya?” Beliau bersabda: “Jika kamu mau, kamu pelihara pohon-pohoinnya lalu kamu shadaqahkan (hasil) nya”. Maka ‘Umar menshadaqahkannya, dimana tidak dijual pepohonannya tidak juga dihibahkannya dan juga tidak diwariskannya, (namun dia menshadaqahkan hartanya itu) untuk para fakir, kerabat,. untuk membebaskan budak, fii sabilillah (di jalan Allah), untuk menjamu tamu dan ibnu sabil. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma’ruf (benar) dan untuk memberi makan teman-temannya asal bukan untuk maksud menimbunnya
    • Shahih Bukhari No. 2570. Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah bercerita kepada kami Hammad dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa ‘Umar memberi persyaratan pada harta yang diwaqafkannya yaitu pengurusnya boleh memakannya, boleh juga memberi makan temannya dan tidak untuk menimbun harta”.
  1. Kesaksian dan Doa Ali Bin Abi Tolib tatkala Umar Bin Khotob Meninggal “Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala”
    • Shahih Bukhari No. 3401. Telah bercerita kepadaku Al Walid bin Shalih telah bercerita kepada kami ‘Isa bin Yunus telah bercerita kepada kami ‘Umar bin Sa’id bin Abu Al Husain Al Makkiy dari Ibnu Abu Mulaikah dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; “Ketika aku berada di tengah-tengah kaum (Muslimin), ternyata mereka sedang mendo’akan ‘Umar bin Al Kthaththab, saat jasadnya sudah diletakkan di atas tempat tidurnya, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari belakangku yang meletakkan siku lengannya pada bahuku seraya berkata; “Semoga Allah merahmatimu. Sungguh aku berharap Allah akan menjadikan kamu bersama kedua shahabatmu (Abu Bakar dan Umar) dikarenakan aku sering mendengar Rasulullah hallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Aku, Abu Bakr dan ‘Umar mengerjakan sesuatu dan Aku, Abu Bakr dan ‘Umar berangkat (bepergian) “. Maka, sungguh aku berharap Allah menjadikan kamu bersama keduanya (di pemakaman). kemudian aku menoleh, ternyata orang itu adalah ‘Ali bin Abu Thalib “.
    • Shahih Bukhari No. 3409. Telah bercerita kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah bercerita kepada kami ‘Umar bin Sa’id dari Ibnu Abu Mulaikah bahwa dia mendengar Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; “Setelah jasad ‘Umar diletakkan di atas tempat tidurnya, orang-orang datang berkumpul lalu mendo’akan dan menshalatinya sebelum diusung. Saat itu aku ada bersama orang banyak, dan tidaklah aku terkaget melainkan setelah ada orang yang meletakkan siku lengannya pada bahuku, yang ternyata dia adalah ‘Ali bin Abu Thalib. Kemudian dia memohonkan rahmat bagi ‘Umar dan berkata; “Sama sekali tidak engkau tinggalkan seorangpun yang lebih aku sukai agar Allah berikan pembalasan sesuai keistimewaan amalnya daripadamu.” Dan demi Allah, sungguh aku yakin sekali bahwa Allah akan menjadikan kamu bersama kedua sahabatmu (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr) dikarenakan aku sering kali mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku berangkat (bepergian) bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Aku masuk bersama Abu Bakr dan ‘Umar. Aku keluar bersama Abu Bakr dan ‘Umar”.
  2. Salah satu sahabat yang Dimimpikan Rosullulloh, Mempunyai Istana di Surga.
    • Shahih Bukhari No. 3403. Telah bercerita kepada kami Hajjaj bin Minhal telah bercerita kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Al Majisyun telah bercerita kepada kami Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin ‘Abdullah RAa berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku bermimpi memasuki surga. Disana aku bertemu seorang wanita yang bertahi mata, yaitu istri dari Abu Thalhah lalu aku mendengar suara langkah sandal. Aku bertanya; “Siapakah dia?”. Dia menjawab; “Dia adalah Bilal”. Kemudian aku melihat istana yang di halamannya ada seorang sahaya wanita. Aku bertanya: “Untuk siapakah istana itu?”. Dia menjawab; “Untuk ‘Umar”. Semula aku ingin masuk ke dalam istana itu untuk melihat-lihat namun aku teringat kecemburuanmu”. Maka ‘Umar berkata; “Demi bapak dan ibuku, wahai Rasulullah, apakah aku boleh cemburu kepadamu?”.
  3. Salah satu dari dua orang yang mati syahid “ sesuai sabda Rasullulloh diatas Gunung Uhud dan “Menjadi Kenyataan)
    • Shahih Bukhari No. 3399. Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Yahya dari Sa’id dari Qatadah bahwa Anas bin Malik radliallahu ‘anhu bercerita kepada mereeka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mewndaki bukit Uhud, diikuti oleh Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman. Lalu gunung Uhud itu bergetar, maka beliau bersabda: “Tenanglah wahai Uhud, karena di atasmu sekarang ada Nabi, Asshiddiq (orang yang jujur, maksudnya Abu Bakar) dan dua orang (yang akan mati) syahid”.
    • Shahih Bukhari No. 1757. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Khalid bin Yazid dari Sa’id bin Abu Hilal dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari ‘Umar radliallahu ‘anhu berkata: “Ya Allah berilah aku mati syahid dijalanMu, dan jadikanlah kematianku di negeri RasulMu, shallallahu ‘alaihi wasallam). Dan Ibnu Zurai’ berkata, dari Rauh bin Al Qasim dari Zaid bin Aslam dari bapaknya dari Hafshah binti ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata; “Aku mendengar ‘Umar seperti hadits ini”. Dan Hisyam berkata, dari Zaid dari bapaknya dari Hafshah; Aku mendengar ‘Umar radliallahu ‘anhu
  4. Orang yang Mendapat Kabar Gembira dari Rosulluloh akan “Masuk Surga”
    • Shahih Bukhari No. 3398. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Miskin Abu Al Hasan telah bercerita kepada kami Yahya bin Hassan telah bercerita kepada kami Sulaiman dari Syarik bin Abu Namir dari Sa’id bin Al Musayyab berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Musa Al Asy’ariy bahwa dia berwudlu’ di rumahnya lalu keluar. (Lalu dia bercerita); Aku berkata; ‘Aku akan mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bersamanya hari ini”. Dia berkata; “Maka dia menuju masjid lalu bertanya tentang keberadaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Orang-orang menjawab; “Beliau keluar dan menuju ke arah sana”. Maka aku keluar menelusuri bekas jejak beliau mencari keberadaannya hingga (aku lihat) beliau memasuki sebuah sumur Aris (di suatu ladang pusat kota Madinah). Aku duduk di samping pintu yang terbuat dari pelepah kurma hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan keperluannya kemudian berwudlu’. Aku segera menghampiri beliau yang ternyata beliau sedang duduk dekat sumur Aris tersebut dan berada di tengah-tengah tepi sumur tersebut. Beliau menyingkap pakaiannya) hingga kedua betisnya dan mengulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Aku memberi salam kepada beliau lalu berpaling dan kembali duduk di samping pintu. Aku berkata; “Sungguh aku menjadi penjaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari ini”. Kemudian Abu Bakr datang dan mengetuk pintu. Aku tanya; “Siapakah ini?. Dia berkata; “Abu Bakr”. Aku katakan; “Tunggu sebentar”. Kemudian aku menemui (beliau shallallahu ‘alaihi wasallam) lalu aku katakan; “Wahai Rasulullah, ada Abu Bakr minta izin masuk”. Beliau berkata; “izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga”. Aku kembali lalu aku katakan kepada Abu Bakr; “Masuklah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga”. Maka Abu Bakr masuk lalu duduk di samping kanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengangkat pakaiannya setinggi kedua betisnya. Kemudian aku kembali dan duduk. Aku telah  meninggalkan saudaraku berwudlu’ dan menyusulku. Aku berkata; “Seandainya Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, – yang dia maksud saudaranya, – pasti Allah memberinya”. Tiba-tiba ada orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya; “Siapakah ini?”. Oang itu menjawab; “Aku ‘Umar bin Al Khaththab”. Aku katakan; “Tunggu sebentar”. Kemudian aku  menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan memberi salam kepada beliau lalu aku katakan; “Wahai Rasulullah, ada ‘Umar bin Al Khaththab minta izin masuk”. Beliau berkata; “izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga”. Maka aku temui lalu aku katakan; “Masuklah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga”. Maka ‘Umar masuk lalu duduk di samping kiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tepi sumur kemudian menjulurkan kedua kakinya ke dalam sumur. Kemudian aku kembali dan duduk. Aku berkata;”Seandainya Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, pasti Allah memberinya”. Tiba-tibaada lagi orang yang menggerak-gerakkan pintu, aku bertanya; “Siapakah ini?”. Oang itu menjawab; “‘Utsman bin ‘Affan”. Aku katakan; “Tunggu sebentar”. Kemudian aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu aku kabarkan kepada beliau, maka beliau berkata;”izinkan dia masuk dan sampaikan kabar gembira kepadanya dengan surga, dengan berbagai cobaan yang menimpanya”. Maka aku menemuinya lalu aku katakan kepadanya; “Masuklah, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan surga, sekaligus berbagai cobaan yang menimpamu”. Maka ‘Utsman masuk namun dia dapatkan tepi sumur telah penuh. Akhirnya dia duduk di hadapan beliau dari sisi yang lain”. Berkata Syarik bin Abdullah, berkata Sa’id bin Al Musayyab; “Aku tafsirkan posisi dudukmereka bertiga sebagai posisi kuburan mereka sedangkan kuburan ‘Utsman terpisah dari mereka”
  5. Manusia yang paling baik No. 3  setelah Rosullulloh dan abu abakar
    • Shahih Bukhari No. 3395. Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Katsir telah mengabarkan kepada kami Sufyan telah bercerita kepada kami Jami’ bin Abu Rasyid telah bercerita kepada kami Abu Ya’laa dari Muhammad bin Al Hanafiyyah berkata; Aku bertanya kepada bapakku (yaitu, ‘Ali bin Abu Thalib); “Siapakah manusia paling baik setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Bapakku menjawab; “Abu Bakr”. Aku bertanya lagi;; “Kemudian siapa?”. Dia menjawab; “‘Umar”. Aku khawatir bila dia mengatakan ‘Utsman”. Kemudian aku tanya; “Kemudian kamu?”. Dia berkata; “Aku ini tidak lain hanyalah seorang laki-laki biasa dari kaum Muslimin”
    • Shahih Bukhari No. 3389. Telah bercerita kepada kami Mu’allaa bin Asad telah bercerita kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Al Mukhtar yang berkata, bahwa Khalid Al Hadzdza’ telah bercerita kepada kami, dari Abu ‘Utsman berkata, telah bercerita kepadaku ‘Amru bin Al ‘Ash radliallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengutusnya beserta rombongan pasukan Dzatus Sulasil. Lalu aku (‘Amru) bertanya kepada beliau; “Siapakah manusia yang paling baginda cintai? ‘. Beliau menjawab: “‘Aisyah”. Aku katakan; “Kalau dari kalangan laki-laki?”. Beliau menjawab: “Bapaknya”. Aku tanyakan lagi; “Kemudian siapa lagi?”. Beliau menjawab; “‘Umar bin Al Khaththab”. Selanjutnya beliau menyebutkan beberapa orang laki-laki”.
  6. Salah satu sahabat yang pendapatnya menjadi sebab turunnya beberapa ayat Alquran, disebut dengan istilah muwafaqatu ‘umar (pendapat Umar yang disepakati dalam Alquran).
    • Shahih Bukhari No. 1190. Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari ‘Ubaidullah berkata, telah menceritakan kepada saya Nafi’ dari Ibnu’Umar radliallahu ‘anhuma bahwa ketika ‘Abdullah bin Ubay wafat, anaknya datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berikanlah kepadaku baju anda untuk aku gunakan mengafani (ayahku) dan shalatlah untuknya serta mohonkanlah ampunan baginya”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan bajunya kepadanya lalu berkata: “izinkanlah aku untuk menshalatkannya”. Ketika Beliau hendak menshalatkannya tiba-tiba ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu datang menarik Beliau seraya berkata: “Bukankah Allah telah melarang anda untuk menshalatkan orang munafiq?” Maka Beliau bersabda: “Aku berada pada dua pilihan dari firman Allah Ta’ala (QS. At-Taubah ayat 80, yang artinya): “Kamu mohonkan ampun buat mereka atau kamu tidak mohonkan ampun buat mereka (sama saja bagi mereka). Sekalipun kamu memohonkan ampun buat mereka sebanyak tujuh puluh kali, llah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka”. Maka Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkannya. Lalu turunlah ayat: (QS. At-Taubah ayat 84 yang  rtinya): “Janganlah kamu shalatkan seorangpun yang mati dari mereka selamanya dan janganlah kamu berdiri  i atas kuburannya”.
    • Shahih Bukhari No. 143. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits berkata, telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Urwah dari ‘Aisyah, bahwa jika isteri-isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ingin buang hajat, mereka keluar pada waktu malam menuju tempat buang hajat yang berupa tanah lapang dan terbuka. Umar pernah berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Hijabilah isteriisteri Tuan.” Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melakukannya. Lalu pada suatu malam waktu Isya` Saudah binti Zam’ah, isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, keluar (untuk buang hajat). Dan Saudah adalah seorang wanita yang berpostur tinggi. ‘Umar lalu berseru kepadanya, “Sungguh kami telah mengenalmu wahai Saudah! ‘ Umar ucapkan demikian karena sangat antusias agar ayat hijab diturunkan. Maka Allah kemudian menurunkan ayat hijab.” Telah menceritakan kepada kami Zakaria berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam bin ‘Urwah dari Bapaknya dari ‘Aisyah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Allah telah mengizinkan kalian (isteri-isteri Nabi) keluar untuk menunaikan hajat kalian.” Hisyam berkata, “Yakni buang air besar.
  7. Salah Satu Sahabat yang berdoa Minta Hujan Kepada Alloh dengan perantaraan Paman Nabi (Abbas bin Abul Muththolib) dan Doanya dikabulkan oleh Alloh
    • Shahih Bukhari No. 954. Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah Al Anshari berkata, telah menceritakan kepadaku bapakku ‘Abdullah bin Al Mutsanna dari Tsumamah bin ‘Abdullah bin Anas dari Anas bin Malik bahwa ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu ketika kaum muslimin tertimpa musibah, ia meminta hujan dengan berwasilah kepada ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib seraya berdo’a, “Ya Allah, kami meminta hujan kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, kemudian Engkau menurunkan hujan kepada kami. Maka sekarang kami memohon kepada- Mu dengan perantaraan paman Nabi kami,, maka turunkanlah hujan untuk kami.” Anas berkata, “Mereka pun kemudian mendapatkan hujan.
  8. Salah satu sahabat yang mengusulkan Panggilan Adzan dan Iqomah dengan Mengumandangkanya (Bukan Memukul Lonceng atau Meniup Terompet)
    • Shahih Bukhari No. 569. Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku Nafi’ bahwa Ibnu ‘Umar berkata, “Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan lonceng seperi loncengnya Kaum Nashrani dan sebagaian lain mengusulkan untuk meniup terampet sebagaimana Kaum Yahudi. Maka ‘Umar pun berkata, “Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat.”
  9. Salah satu sahabat yang di beri ilmu Alloh lewat Rosullulloh dalam mimpinya.
    • Shahih Bukhari No. 80. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ufair berkata, Telah menceritakan kepadaku Al Laits berkata, Telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Hamzah bin Abdullah bin Umar bahwa Ibnu Umar berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku tidur, aku bermimpi diberi segelas susu lalu aku meminumnya hingga aku melihat pemandangan yang bagus keluar dari kuku-kukuku, kemudian aku berikan sisanya kepada sahabat muliaku Umar bin Al Khaththab”. Orangorang bertanya: “Apa ta’wilnya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ilmu”.
  10. Orang yang kuat dan istikomah berpegang teguh kepada agamanya
    • Shahih Bukhari No. 22. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidillah berkata, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d dari Shalih dari Ibnu Syihab dari Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif bahwasanya dia mendengar Abu Said Al Khudri berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku tidur, aku bermimpi melihat orang-orang dihadapkan kepadaku. Mereka mengenakan baju, diantaranya ada yang sampai kepada buah dada dan ada yang kurang dari itu. Dan dihadapkan pula kepadaku Umar bin Al Khaththab dan dia mengenakan baju dan menyeretnya. Para sahabat bertanya: “Apa maksudnya hal demikian menurut engkau, ya Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ad-Din (agama) “
    • Shahih Bukhari No 6429. Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Abbad dari Isma’il aku mendengar Qais aku mendengar Sa’id bin Zaid mengatakan; aku pernah bermimpi bahwa Umar adalah peneguhku terhadap Islam, dan sekiranya gunung Uhud runtuh karena perlakuan kalian terhadap Utsman, niscaya gunung itu pun runtuh.’
    • Shahih Bukhari No 6698. Telah menceritakan kepada kami ‘Ali telah menceritakan kepada kami Sufyan, ‘Amru mengatakan, telah menceritakan kepada kami ‘ Atho’ mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menangguhkan shalat isya’ agak malam, maka Umar keluar (dari masjid) dan mengatakan; ‘Mari tegakkan shalat ya Rasulullah, wanita dan anak-anak telah tidur! ‘ Nabi muncul dari kamarnya dan kepalanya meneteskan air sambil berkata: “Kalaulah tidak memberatkan umatku -atau dengan redaksi; tidak memberatkan manusia -, ” sedangkan Sufyan mengatakan; atas umatku – niscaya kuperintahkan kepada mereka untuk shalat dengan waktu seperti ini.” Ibnu Juraij mengatakan, dari ‘Atho` dari Ibnu ‘Abbas menuturkan; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menangguhkan shalat ini, maka Umar datang dan mengatakan; ‘Ya Rasulullah, para wanita dan anak-anak telah tertidur’ lantas beliau muncul sedang beliau sambil mengusap air dari lambungnya sambil mengatakan; “inilah waktu untuk shalat isya’, kalau saja tidak memberatkan umatku.” Dan Amru mengatakan telah menceritakan kepada kami ‘Atho, dalam sanadnya tidak menyebutkan Ibnu Abbas. Amru mengatakan; kepalanya meneteskan (air). sedang Ibnu Juraij mengatakan; mengusap air dari lambungnya. Dan Amru mengatakan; “Kalaulah tidak memberatkan atas umatku.” Sedang Ibnu Juraij mengatakan; “sungguh ini adalah waktu semestinya, kalaulah tidak memberatkan umatku.” Sedang Ibrahim bin Al Mundzir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’an, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Muslim dari ‘Amru dari ‘Atho` dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
  11. Sosok Pemimpin yang Cerdas dan Adil
    • Shahih Bukhari No. Telah bercerita kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab berkata Tsa’labah bin Abu Malik bahwa ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu membagikan kain selimut terbuat dari wol kepada para wanita Madinah lalu tersisa satu kain selimut yang baik. Maka sebagian orang yang berada di dekatnya berkata: “Wahai Amirul Mu’minin, berikanlah ini kepada cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang berada disisi anda itu”. Yang mereka maksud adalah Ummu Kultsum binti ‘Ali. Maka ‘Umar berkata: “Ummu Salith lebih berhak”. Ummu Salith adalah wanita Anshor yang berbai’at kepada Rasululloh Shallallhu ‘Alaihi Wasallam. ‘Umar selanjutnya berkata: “Sesungguhnya ia pernah membawakan qirab untuk kami ketika perangbUhud”. Abu ‘Abdullah Al Bukhariy berkata: “tazfiru artinya takhithu’, ” yaitu menjahitkan
    • Shahih Bukhari No.4043. Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah Telah menceritakan kepada kami Abdul Malik dari Amru bin Huraits dari Adi bin Hatim dia berkata; Kami menemui Umar bersama beberapa utusan. Lalu dia memanggil satu persatu dengan menyebutkan namanya. Aku berkata kepadanya; ‘Apakah kamu mengenaliku wahai Amirul mukminin? Dia menjawab; “Tentu, kamu adalah orang yang masuk Islam pada saat orang-orang menjadi kafir, kamu adalah orang yang maju ke garis depan pada saat orang-orang mundur kebelakang, kamu adalah orang yang menepati janji ketika semua orang berkhianat, dan kamu adalah orang yang mengakui kebenaran saat orang-orang mengingkarinya.” Kemudian Adi berkata; ‘Kalau begitu, aku tidak peduli siapa saja yang kamu panggil lebih dahulu.
    • Shahih Bukhari No.2863. Telah bercerita kepada kami Ishaq bin Muhammad Al Farwiy telah bercerita kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Malik bin Aus Al Hadatsan, bahwa Muhammad bin Jubair menyebutkan kepadaku suatu cerita dari hadits yang disampaikannya maka aku berangkat menemui Malik bin Aus lalu aku bertanya kepadanya tentang hadits yang dimaksud, maka Malik berkata; “Ketika aku sedang duduk bersama keluargaku di tengah hari tiba-tiba datang utusan ‘Umar bin Al Khaththab menemuiku lalu berkata; “Penuhilah panggilan Amirul Mu’minin”. Maka aku pergi bersamanya menemui ‘Umar yang ketika itu sedang duduk di atas tikar yang tidak dialasi kasur namun bersandar pada bantal terbuat dari kulit. Aku memberi salam kepadanya lalu duduk. Maka dia berkata; “Wahai Maal (Malik), sesungguhnya telah datang kepada kami para ahli bait dari kaummu dan aku sudah memerintahkan untuk memberi mereka pemberian yang sedikit dan tidak bernilai, maka terimalah ini dan bagikanlah kepada mereka”. Aku berkata; “Wahai Amirul Mu’minin, andai engkau perintahkan hal ini kepada selain aku”. Dia berkata; “Terimalah, hai laki-laki”. Di tengah aku sedang duduk bersamanya, datang kepadanya penjaga pintu yang bernama Yarfaa lalu berkata; “Apakah kamu membolehkan ‘Utsman, ‘Abdur Rahman bin ‘Auf, Az Zubair dan Sa’ad bin Abi Waqash, mereka minta izin masuk”. ‘Umar menjawab; “Ya”. Lalu dia mengizinkan mereka masuk. Maka mereka masuk dan memberi salam lalu duduk. Begitu juga Yarfaa duduk sebentar lalu berkata; “Apakah kamu juga membolehkan ‘Ali dan ‘Abbas masuk?”. ‘Umar enjawab; “Ya”. Lalu ‘Umar mengizinkan keduanya masuk. Keduanya pun masuk dan memberi salam lalu duduk. ‘Abbas berkata; “Wahai Amirul Mu’minin, putuskanlah antara aku dan orang ini”. Keduanya sedang bertengkar urusan harta yang Allah karuniakan kepada Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam berupa fa’i dari harta Bani an-Nadlir.  Kelompok orang yang bersama ‘Utsman dan para shohabatnya berkata; “Wahai Amirul Mu’minin, putuskanlah perkara mereka berdua dan legakanlah salah seorang diantara keduanya”. ‘Umar berkata; “Tenanglah kalian!. Dan aku aku minta kepada kalian, demi Allah yang dengan izin-Nya tegak langit dan bumi, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam telah bersabda: “Kami tidak mewariskan, Apa-apa yang kami tinggalkan menjadi shadaqah?”. Yang Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam maksudkan (dengan kata kami) adalah diri Beliau sendiri. Kelompok (‘Utsman) berkata; “Ya, Beliau  udah bersabda demikian”. Maka ‘Umar kembali menghadap dan berbicara kepada ‘Ali dan ‘Abbas; “Aku minta kepada kalian berdua, demi Allah, apakah kalian berdua mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaiwasallam telah bersabda seperti itu?”. Keduanya menjawab; “Ya, Beliau sudah bersabda demikian”. ‘Umar kemudian berkata; “Untuk itu aku akan berbicara kepada kalian tentang masalah ini. Sesungguhnya Allah tekah mengkhusukan Rasul-Nya Shallallahu’alaihiwasallam dalam masalah fa’i ini sebagai sesuatu yang tidak Dia berikan kepada siapapun selain Beliau Shallallahu’alaihiwasallam”. Lalu ‘Umar membaca firman  llah (QS Al Hasyr ayat 6 yang artinya: (“Dan apa saja yang dikaruniakan Allah berupa fa’i (rampasan perang) kepada Rasul-Nya dari (harta benda) mereka…) hingga firman-Nya (dan Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu”), ayat ini merupakan kekhususan buat Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam. Demi Allah, tidaklah Beliau mengumpulkannya dengan mengabaikan kalian dan juga tidak untuk lebih mementingkan kalian. Sungguh Beliau telah memberikannya kepada kalian dan menyebarkannya di tengah-tengah kalian (kaum Muslimin) dan hingga sekarang masih ada yang tersisa dari harta tersebut. Dan Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam telah memberi nafkah belanja kepada keluarga Beliau sebagai nafkah tahunan mereka dari harta fa’i ini lalu sisanya Beliau ambil dan dijadikannya sebagai harta Allah dan Beliau sudah menerapkan semua ini selama hidup Beliau. Aku tanya kepada kalian, bukankah kalian sudah mengetahui ini semua?”. Mereka menjawab; “Ya. Lalu ‘Umar berbicara kepada ‘Ali dan ‘Abbas; “Aku tanya kepada kalian berdua, bukankah kamu berdua sudah mengetahui ini semua?”. ‘Umar melanjutkan; “Kemudian Allah mewafatkan Nabi-Nya shallallahu’alaihiwasallam, kemudian Abu Bakr berkata; “Akulah wali Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam. Lalu Abu Bakr menjadi yang memegang kepemimpinan, maka dia melaksanakan seperti apa yang dilaksanakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam dan apa yang telah dilakukan oleh Abu Bakr, sungguh Allah mengetahuinya, bahwa aku dalam perkara ini berpendapat bahwa dia orang yang jujur, bijak, lurus dan pengikut kebenaran. Lalu kalian berdua datang kepadaku dan berbicara kepadaku, sedang ucapan kalian satu dan maksud urusan kalian juga satu. Engkau, wahai ‘Abbas, datang kepadaku meminta kepadaku bagian dari anak saudara kamu. Dan orang ini, yang ‘Umar maksud adalah ‘Ali, datang meminta bagian istrinya dari ayahnya. Aku katakan kepada kalian berdua, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaiwasallam telah bersabda: “Kami tidak mewariskan. Apa-apa yang kami tinggalkan menjadi shadaqah”. Setelah jelas bagiku bahwa aku harus memberikannya kepada kalian berdua maka aku akan katakan, jika memang kalian menghendakinya aku akan berikan kepada kalian berdua namun wajib kalian berdua ingat janji Allah dan ketentuan-Nya bahwa kalian sungguh mengetahui tentang urusan ini apa yang telah Rasulullah shallallahu’alaiwasallam lakukan dan apa yang telah Abu Bakr lakukan, dan juga apa yang telah aku lakukan sejak aku memegang kekuasaan ini dan jika kalian berdua mengatakan berikanlah kepada kami, maka dengan ketentuan seperti itu aku akan berikan kepada kalian berdua. Dan aku ingatkan kepada kalian semua, demi Allah, apakah aku berikan kepada keduanya dengan ketentuan seperti ini. Kelompok ‘Utsman berkata; “Ya”. Kemudian ‘Umar menghadap ‘Ali dan ‘Abbas seraya berkata; “Aku ingatkan kalian berdua, demi Allah, apakah aku memberikannya kepada kalian berdua berdasarkan ketentuan ini?”. Keduanya menjawab; “Ya”. ‘Selanjutnya ‘Umar berkata; “Lalu kalian menghampiri aku agar aku memutuskan perkara ini dengan ketentuan lain. Sungguh demi Allah yang dengan izin-Nya tegaklah langit dan bumi, aku tidak akan pernah memutuskan masalah ini dengan selain ketentuan ini. Seandainya kalian berdua tidak sanggup atasnya maka serahkanlah kepadaku karena sungguh aku akan mengganti kalian untuk mengurus harta itu.”
    • Shahih Bukhari No 6742. Telah menceritakan kepadaku Ismail telah menceritakan kepadaku Ibn Wahb dari Yunus dari Ibn Syihab telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, bahwa Abdullah bin Abbas radliallahu ‘anhuma berkata, “Uyainah bin Hishn bin Khudaifah bin Badr datang dan singgah menemui anak saudaranya (keponakannya), Al Hurr bin Qais bin Hishn, dan dia termasuk sekian di antara sekelompok orang yang selalu didekati oleh Umar, qurra` (ahli baca alquran), dan selalu mengikuti majlis Umar dan musyawarah musyarahnya, baik yang berusia dewasa atau muda. Kemudian ‘Uyainah berkata kepada keponakannya, ‘Wahai keponakanku, apakah engkau mempunyai kedekatan dengan amir ini sehingga bisa memintakannya ijin untukku sehingga aku bisa menemuinya? Al Hurr bin Qais slalu menjawab, “Baik, aku akan memintakannya ijin untukmu.” Ibn Abbas berkata, “Lantas Al Hurr bin Qais meminta ijin untuk ‘Uyainah. Tatkala Uyainah sudah menemui Umar, ia berkata “Wahai Ibnul khattab, demi Allah, engkau belum memberi pemberian yang banyak kepada kami, dan belum juga engkau berbuat adil diantara kami.” Spontan Umar marah hingga ia ingin menghukumnya. Namun Uyainah mengatakan, “Bebaskan aku dari hukumanmu wahai amirul mukminin, sebab Allah berfirman kepada nabi shallallahu ‘alaihi wasallam-Nya: ‘(Maafkanlah, lakukanlah yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang-orang jahil’ (Qs. Al A’raf 199), dan hukuman ini di antara kelakuan orang-orang bodoh. Demi Allah, maka Umar tidak jadi melakukan hukumannya ketika Uyainah membacakan kepadanya, Umar adalah orang yang selalu memegang teguh Kitabullah.”

 

  1. Salah satu sahabat yang paling berani membela Islam dengan Akan selalu membunuh Siapapun yang akan menghancurkan/Menjelekan Islam.
    • Shahih Bukhari No.3257. Telah bercerita kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Makhlad bin Yazid telah mengabarkan kepada kami Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin Dinar bahwa dia mendengar Jabir radliallahu ‘anhu berkata; “Kami pernah berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika itu orang-orang Kaum Muhajirin sudah bergabung dan jumlah mereka semakin banyak. Di antara Kaum Muhajirin itu ada seorang laki- laki yang pandai memainkan senjata lalu dia memukul pantat seorang shahabat Anshar sehingga menjadikan orang Anshar ini sangat marah, lalu dia berseru seraya berkata; “Wahai Kaum Anshar”. Laki-laki Muhajirin tadi menimpali dan berseru pula; “Wahai Kaum Muhajirin”. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam datang dan bersabda: “Mengapa seruan-seruan kaum jahiliyah masih saja terus dipertahankan? ‘. Kemudian beliau bertanya; “Apa yang terjadi dengan mereka?”. Lalu beliau diberitahu bahwa ada seorang shahabat Muhajirin yang memukul pantat seorang shahabat Anshar. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tinggalkanlah seruan itu karena hal semacam itu tercela (buruk) “. Setelah itu ‘Abdullah bin Ubbay bin Salul berkata; “Apakah mereka (Kaum Muhajirin) tengah mengumpulkan kekuatan untuk melawan kami?. Seandainya kita kembali ke Madinah maka orang yang kuat pasti akan mengusir orang yang hina” (Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengabadikan perkataannya ini dalam QS al-Munafiqun ayat 8). Spontan’Umar berkata; “Tidak sebaiknyakah kita bunuh saja orang tercela ini, wahai Rasulullah!” Yang dimaksudnya adalah ‘Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak, agar orang-orang tidakberdalih bahwa dia (Muhammad) membunuh shahabatnya’.
    • Shahih Bukhari No.3341. Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; “Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; “Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil”. Maka beliau berkata: “Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil”. Kemudian ‘Umar berkata; “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: “Biarkanlah dia.Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan). (Karena sangat cepatnya anak panah yang dilesakkan), maka ketika ditelitilah ujung panahnya maka tidak ditemukan suatu bekas apapun, lalu ditelitilah batang panahnya namun tidak ditemukan suatu apapun lalu, ditelitilah bulu anak panahnya namun tidak ditemukan suatu apapun, rupanya anak panah itu sedemikian dini menembus kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah laki-laki berkulit hitam yang salah satu dari dua lengan atasnya bagaikan payudara wanita atau bagaikan potongan daging yang bergerak-gerak. Mereka akan muncul pada zaman timbulnya firqah/golongan”. Abu Sa’id berkata, Aku bersaksi bahwa aku mendengar hadits ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan aku bersaksi bahwa ‘Ali bin Abu Thalib telah memerangi mereka dan aku bersamanya saat itu lalu dia memerintahkan untuk mencari seseorang yang bersembunyi lalu orang itu didapatkan dan dihadirkan hingga aku dapat melihatnya persis seperti yang dijelaskan ciri-cirinya oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam”.
    • Shahih Bukhari No.1267. Telah menceritakan kepada kami ‘Abdan telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah dari Yunus dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepada saya Salim bin ‘Abdullah bahwa Ibnu’Umar radhiyallahu’anhuma mengabarkannya bahwa ‘Umar dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat bersama rambongan untuk mememui Ibnu Shayyad hingga akhirnya mereka mendapatinya sedang bermain bersama anak-anak yang lain di bangunan yang tinggi milik Bani Magholah. Ibnu Shayyad sudah mendekati baligh dan dia tidak menyadari (kedatangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) hingga akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menepuknya dengan tangan Beliau kemudian berkata kepada Ibnu Shayyad: “Apakah kamu bersaksi bahwa aku ini utusan Allah?”. Maka Ibnu Shayyad memandang Beliau lalu berkata: “Aku bersaksi bahwa kamu utusan kaum ummiyyin (kaum yang tidak kenal baca tulis) “. Kemudian Ibnu Shayyad berkata, kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apakah kamu juga bersaksi bahwa aku ini utusan Allah?”. Maka Beliau menolaknya dan berkata, “Aku beriman kepada Allah dan kepada Rasul-rasulNya”. Kemudian Beliau berkata: “Apa yang kamu pandang sebagai alasan (sehingga mengaku sebagai Rasul). Berkata, Ibnu Shayyad: “Karena telah datang kepadaku orang yang jujur dan pendusta”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Urusanmu jadi kacau”. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, kepadanya: “Sesungguhnya aku menyembunyikan (sesuatu dalam hatiku) coba kamu tebak?”. Ibnu Shayyad berkata: “Itu adalah asap”. Beliau berkata:”Hinalah kamu, dan kamu tidak bakalan melebihi kemampuanmu sebagai seorang dukun. Lalu ‘Umar bin Al Khaththob Radhiyallahu’anhu berkata: “Wahai Rasulullah, biarkanlah aku memenggal leher orang ini!”. Maka Beliau berkata: “Jika dia benar, kamu tidak akan berkuasa atasnya dan bila dia benar maka tidak ada kebaikan buatmu dengan membunuhnya”. Berkata, Salim; Aku mendengar Ibnu ‘Umar Radhiyallahu’anhuma: “Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan Ubay bin Ka’ab pergi menuju satu pohon kurma tempat Ibnu Shayyad sebelumnya berada di situ dengan harapan Beliau dapat mendengar sesuatu dari Ibnu Shayyad sebelum dia melihat Beliau. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat Ibnu Shayyad sedang tertidur dibalik baju tebalnya dengan mendengkur ringan. Dalam keadaan itu ibu dari Ibnu Shayyad melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang duduk di bawah pohon kurma, maka ibunya berkata, kepada Ibnu Shayyad: “Wahai Shaf, (ini nama dari Ibnu Shayyad), Muhammad shallallahu’alaihi wasallam“. Maka Ibnu Shayyad kembali pada keadaannya semula (berbaring). Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Seandainya ibunya biarkan, pasti jelaslah persoalannya (dajjal atau bukan)”. Dan Syu’aib berkata; ‘menekannya dengan ramramah (suara halus) atau zamzamah. Sedangkan Ishaq Al Kalbi dan ‘Uqail berkata; “ramramah”. Ma’mar berkata; ramzah
    • Shahih Bukhari No.3684. Telah menceritakan kepadaku Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Idris berkata, aku mendengar Hushain bin ‘Abdur Rahman dari Sa’ad bin Ubadah dari Abu ‘Abdur Rahman as-Sulamiy dari ‘Ali radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus aku, Abu Martsad Al Ghanawiy dan Az Zubair bin Al ‘Awwam, yang mana kami adalah penunggang kuda yang ulung. Beliau berkata: “Berangkatlah kalian hingga sampai di sebuah taman yang bernama Khakh, disana ada seorang wanita dari kaum Musyrikin yang membawa sepucuk surat dari Hathib in Abi Balta’ah yang ditujukan untuk kaum Musyrikin”. Maka kami dapati wanita itu sedang berjalan dengan untanya persis seperti apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kami bertanya; “Mana surat itu?”. Wanita itu menjawab; “Tidak ada surat pada kami”. Maka kami memeriksanya, namun kami tidak melihat adanya sepucuk suratpun. Kami katakan; “Tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdusta. Kamu keluarkan surat itu atau kami akan menggeladah kamu”. Setelah wanita melihat kesungguhan kami, dia melirik pada kain ikat pinggangnya, yaitu yang ternyata surat itu disembunyikan dibalik kain ikat pinggangnya. Akhirnya dia mengeluarkan surat itu. Kemudian kami berangkat menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa surat itu. Lalu ‘Umar berkata; “Wahai Rasulullah, dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga kaum m’uminin. Biarkan aku memenggal leher orang ini”. Kemudian beliau bertanya: “Apa yang mendorongmu berbuat seperti?”. Hathib menjawab; “Demi Allah, tidaklah aku bermaksud untuk tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maksudku, hanyalah agar aku memiliki penjamin di tengah kaum (musyrikin) yang dengannya Allah melindungi keluarga dan hartaku. Juga tidak ada satupun dari shahabat anda melainkan dia punya kerabat di sana yang dengannya Allah akan melindungi keluarga dan hartanya”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Dia benar. Dan janganlah kalian katakan padanya kecuali kebaikan”. Namun ‘Umar tetap berkata; “Dia telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan juga kaum m’uminin. Biarkan aku memenggal leher orang ini“Maka beliau bersabda: “Bukankan dia termasuk ahlu Badar. Dan Allah telah mendatangi Ahlu Badar dan berfirman: “Silakan kalian berbuat apa yang kalian suka karena telah wajib bagi kalian untuk masuk ke dalam surga” atau: “Sungguh Aku telah mengampuni kalian”. Maka air mata ‘Umar bercucuran lalu berkata; “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”.
    • Shahih Bukhari No 6421. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Hisyam Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Salamah dai Abu Sa’id mengatakan; Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedang membagi (harta rampasan), tiba-tiba Adbdullah bin Dzil huwaishirah At Tamimi datang seraya menegur Nabi;’Hendaklah engkau berbuat adil! ‘ Spontan Nabi menjawab: “siapa lagi yang berbuat adil jika aku tak berbuat adil?” Umar kemudian berujar; ‘Biarkan aku yang memenggal lehernya! Nabi bersabda; “Biarkan saja dia, sebab dia mempunyai beberapa kawan yang salah seorang diantara kalian meremehkan shalatnya dibanding dengan shalatnya, dan meremehkan puasanya dibanding puasanya, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busur, ia melihat bulu anak panahnya namun tak ada apa-apa, kemudian memperhatikan mata anak panahnya namun tidak ditemukan apa-apa, kemudian melihat kain panahnya namun tidak didapatkan apa-apa, dan telah didahulu oleh kotoran dan darah. Tanda-tanda mereka adalah salah satu diantara kedua tangannya -atau- diantara kedua putingnya seperti puting kaum perempuan atau ia seperti daging yang bergerak-gerak, mereka muncul ketika manusia mengalami perpecahan.” Sedang Abu Sa’id mengatakan; aku bersaksi bahwa aku mendengar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shallallahu ‘alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa ‘Ali membunuh mereka dan aku bersamanya ketika didatangkan seseorang yang ciri-cirinya seperti yang disifatkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas diturunlah ayat; ‘Diantara mereka ada yang mengolok-olokmu karena sedekah yang kamu infakkan’ (QS. Attaubah 58).
  2. Orang yang membenarkan Abu Bakar dalam menegakan Agama Alloh & Rhosulnya dengan memerangi Orang yang murtad tidak mau membayar zakat setelah Rhasullulloh Wafat.
    • Shahih Bukhari No 6413. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah, bahwasanya Abu Hurairah mengatakan; Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam wafat dan Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, beberapa orang arab menjadi kafir, lalu Umar bertanya; ‘Hai Abu bakar, bagaimana engkau memerangi manusia padahal Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda; “Saya diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mengucapkan laa-ilaaha-illallah, siapa yang telah mengucapkan laa-ilaaha-illallah, berarti ia telah menjaga kehormatan darahnya dan jiwanya kecuali karena alasan yang dibenarkan dan hisabnya kepada Allah.” Abu Bakar menjawab; ‘Demi Allah, saya akan terus memerangi siapa saja yang memisahkan antara shalat dan zakat, sebab zakat adalah hak harta, Demi Allah, kalaulah mereka menghalangiku dari anak kambing yang pernah mereka bayarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, niscaya aku perangi mereka karena tidak membayarnya.’ Umar kemudian berkata; ‘Demi Allah, tiada lain kuanggap memang Allah telah melapangkan Abu Bakar untuk memerangi dan aku sadar bahwa yang dilakukannya adalah benar.
  3. Orang yang peduli Politik utk menyelamatkan umat islam dari perebutan kekluasaan setelah rahasullulloh wafat.
    • Shahih Bukhari No 6679. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Hisyam dari Ma’mar dari Az Zuhri telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik radliallahu ‘anhu, ia mendengar khutbah Umar yang terakhir ketika dia duduk diatas minbar, itu terjadi keesokan harinya setelah kewafatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar mengucapkan syahadat sedang Abu Bakar diam membisu tidak berbicara sama sekali. Kata Umar; ‘aku sangat berharap seandainya Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam masih hidup hingga beliau hidup di belakang kita.’ -Maksud Umar adalah seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang meninggal terakhir kali diantara para sahabat.- ‘meskipun Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam telah meninggal, tapi sesungguhnya Allah ta’ala telah menjadikan cahaya ditengah-tengah kalian yang bisa kalian jadikan untuk petunjuk. Allah telah menganugerahkan petunjuk kepada Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam, dan sesungguhnya Abu Bakar adalah sahabat Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam, satu diantara  dua orang (yang bersama beliau di gua tsur), dia adalah manusia yang paling utama untuk memegang amanat kepemimpinan urusan kalian, maka berdirilah kalian dan berbaiatlah kepadanya.’ Sebagian diantara mereka ketika itu telah berbaiat kepadanya sebelum  oment itu di Saqifah Bani Sa’idah, dan itulah bai’at umum diatas minbar. Az Zuhri mengatakan, dari Anas bin Malik, aku mendengar Umar mengatakan kepada Abu bakar ketika itu; “Naiklah engkau ke minbar!” Umar tiada henti-hentinya membujuknya hingga Abu bakar naik minbar, serta merta manusia secara umum berbaiat kepadanya.

Referensi;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.