0065. “PRAKTEK MONOPOLI” DALAM BISNIS YANG BERKEMBANG DAN TERJADI DI-INDONESIA SAAT INI (JUNI’19) SANGAT MENGKAWATIRKAN? PRAKTEK MONOPOLI UNTUK KEPENTINGAN INDIVIDU DAN GOLONGAN(KORPORASI) “SANGAT DILARANG” DALAM ISLAM??? KARENA SANGAT BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP-PRINSIP SYARIAH YANG ADIL DAN FAIR. “MONOPOLI” INDIVIDU DAN GOLONGAN (KORPORASI) AKAN MENCIPTAKAN KETIMPANGAN DAN MENCIPTAKAN KESENJANGAN EKONOMI DALAM MASYARAKAT. DALAM ISLAM MONOPOLI “DIBOLEHKAN” JIKA UNTUK KEPENTINGAN UMUM (BANGSA DAN NEGARA) . PEMERINTAH SEBAGAI WASIT HARUS BERPERAN SECARA OPTIMAL DAN NETRAL UNTUK MENGATUR DAN MENJAMIN AGAR BISNIS YANG DILAKUKAN OLEH MASYARAKAT DAN KORPORASI BETUL BETUL TIDAK MERUGIKAN KEPENTINGAN RAKYAT BANYAK.

Senin, 17 Juni 2019

Setelah lebaran (Juni 2019), saya berkunjung ke kerabat di sariwangi, cisarua dibandung dengan “Nge-GRAP”, dalam mobil saya mendengar keluhan kegelisahan dan kesedihan Driver, bahwa dia sekarang “Nge-grap” karena usaha dia (grosir dipasar) jatuh dan didzolimi oleh Pengusaha Mini Market yang sekarang lagi menjamur di Indonesia. Semua barang yang ia jual, semuanya juga ada di Mini Market Tersebut.  Bagaimana mau bersaing?

Saya juga menengok saudara melahirkan di salah satu Rumah Sakit Terkemuka di Bandung, pagi pagi saya membeli “Kupat Tahu” untuk sarapan Suami dari saudara yang melahirkan, ternyata kata Suami-nya bahwa kenapa membelikan sarapan dari luar, lha wong di Rumah Sakit banyak yang jual sarapan pagi Kok….. Setelah saya lihat memang di Rumah Sakit Tersebut banyak sekali penjual makanan sehingga tidak perlu jauh2 atau membeli makanan dari luar. Waktu sorenya Istri dan Saya ingin membelikan hadiah untuk bayi yang lahir, ternyata di Rumah Sakit Tersebut juga ada yang ngejual segala macam untuk keperluan bayi. Juga ada mini market……… wah pokoknya sangat komplit dech…..Pokoknya semua kebutuhan pasien dan pengunjung Rumah Sakit sudah disediakan dan tidak perlu keluar uang lagi untuk membelinya diluar.

Sekilas hal tersebut sangat baik dan sangat membantu para pasien dan pengunjung Rumah Sakit, namun saya merasa sedih dan gelisah, Fungsi RUMAH SAKIT kok seperti PASAR? Jika semua dibolehkan seperti ini (MONOPOLI), apakah adil dan fair buat banyak orang dan masyarakat?…… Lihat Rumah Sakit untung besar tapi bagaimana dengan Penjual Kupat Tahu? PENJUAL KUPAT TAHU yang nota bene pedagang kecil yang ingin hidup lebih berkembang dan lebih sejahtera bisa bangkrut karena pembelinya berkurang? Mereka menghadapi persaingan yang tidak seimbang dan tidak sehat? Coba pikir? Penjual tahu punya keluarga dan anak yang perlu dibiayai, yang mana jaman sekarang ini memerlukan biaya yang tidak sedikit dan jika sakit perlu biaya yang besar pula?

Saya pagi ini membaca tulisan di Surat kabar harian umum “PIKIRAN RAKYAT” mengenai =Revitalisasi Pasar Tradisional, BERIKAN BUKTI, JANGAN LAGI MENEBAR JANJI…. saya sebagai orang awan merasa gelisah dan sedih, bahwa masyarakat yang jualan di Pasar tradisional semakin terpuruk (bukan tambah maju namun semakin susah). Karena di Rumah sakit sudah ada PASAR, karena di Mini Market semua barang dan kebutuhan sudah ada dan harganya lebih murah, Karena ada pasar ON LINE, Karena ada Pasar di Kantor – kantor Pemerintah dan Perusahaan Swasta.

Persoalan monopoli sesungguhnya merupakan persoalan yang sangat menarik untuk dibahas. Bahkan permasalahan ini telah mendapat perhatian yang sangat serius dari ajaran Islam, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Swt: “...agar harta itu jangan hanya berputar di kalangan orang-orang kaya diantara kamu sekalian…” (QS Al-Haysr ayat 7). Selain riba, monopoli adalah komponen utama yang akan membuat kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir kelompok, sehingga menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi. Para ulama terkemuka abad pertengahan pun, seperti Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, dan Ibn Khaldun, telah pula melakukan kajian yang mendalam tentang praktik monopoli. Ibn Taimiyyah misalnya, dalam kitabnya Al-Hisbah fil Islam menyatakan bahwa ajaran Islam sangat mendorong kebebasan untuk melakukan aktivitas ekonomi sepanjang tidak bertentangan dengan aturan agama. Kepemilikan dan penguasaan aset kekayaan di tangan individu adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam Islam. Namun demikian, ketika kebebasan tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan praktik praktik monopolistik yang merugikan, maka adalah tugas dan kewajiban negara untuk melakukan intervensi dan koreksi

Monopoli tidak akan lepas dari konsep pasar bebas. Pasar bebas merupakan salah bentuk pasar yang di konsep oleh para tokoh ekonomi barat dimana segala bentuk kebijakan baik harga maupun yang lainnya tidak ada sebuah patokan maupun batasan baik berupa paksaan dari pihak lain maupun pemerintah. Perlu diketahui bahwa harga yang tercipta dalam pasar bebas ditentukan oleh permintaan dan penawaran yang dilakukan antara penjual dan pembeli. Sehingga yang terjadi adalah monopoli akan bebas berkembang dikarenakan kebebasan diberikan seluas-luasnya pada semua pihak. Pihak yang memiliki modal yang besar akan berusaha menguasai berbagai bentuk dari faktor produksi. Maka hal tersebut berimbas pada masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah dengan kesenjangan ekonomi yang semakin besar sehingga yang kaya akan memiliki kekuatan dalam mengendalikan pasar dan yang lemah akan semakin terpuruk.

Tujuan utama adanya pasar bebas adalah untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, tidak memperdulikan dengan cara apa atau strategi apa yang digunakan. Maka hal ini menimbulkan tidak adanya rasa empati maupun kerjasama, hanya kepentingan sendirilah yang dipikirkan dengan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Dalam pasar bebas, hak perorangan sangat diakui dan semua pihak memiliki hak untuk memiliki kekayaan dan mengelola berbagai faktor produksi. Hal ini akan menciptakan suatu masyarakat yang produktif dalam perekonomian. Kreatifitas dan inovasi masyarakat dapat dikembangkan sehingga perekonomian akan semakin meningkat. Kekreatifan dari masyarakat akan meningkatkan motivasi untuk bersaing dalam upaya menghasilkan produk yang berkualitas. Dengan pasar bebas, persaingan akan timbul namun Tugas pemerintah adalah menjaga iklim persaingan yang sehat dan dapat berjalan di rel yang benar.

Dalam UU No. 5 Tahun 1999, pengertian monopoli dibedakan dari praktik monopoli. Pengertian “praktik monopoli” dikemukakan dalam Pasal 1 angka 2 UU No.5 Tahun 1999, yaitu pemusatan kegiatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasai-nya produksi dan/atau pemasaran atas barang dan/atau jasa tertentu, sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa monopoli yang tidak mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat dan tidak merugikan kepentingan umum tidak dilarang, yang dilarang berdasarkan UU adalah praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Dalam sejarah, Rasulullah saw. Juga selalu melakukan “monopoli” sumber sumber ekonomi dalam rangka kepentingan umum. Sumber-sumber ekonomi Madinah tidak diberikan kepada kepemilikan pribadi, namun sebaliknya sumber sumber ekonomi yang menghidupi orang banyak yang melibatkan kepentingan umum harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Saat itu, sumber ekonomi yang sangat dominan adalah tanah yang berisikan padang rumput sebagai tempat makanan binatang ternak. Demikian juga lokasi sumber garam, sumber air, dan sebagainya tidak diberikan kepemilikannya kepada pribadi.

Kebijakan ini jelas terlihat dalam kisah sahabat yang bernama Abyad bin Hammal (HR. Abu Daud dan Imam Tirmidzi). Awalnya Abyad menuntut diberikan satu bidang tanah di daerah ma’rib, kemudian Rasulullah saw. Mengabulkan permintaan itu. Namun seorang bernama Aqra’ bin Habis berdiri sambil bertanya kepada Rasulullah Saw. Adakah engkau tahu kondisi lokasi itu sebenarnya? Sembari menjelaskan bahwa kawasan itu adalah sumber air yang menghasilkan garam. Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah saw menarik kembali pemberian daerah yang telah diberikannya kepada Abyad bin Hammal. Demikian juga ketika Abyad bin Hammal mengajukan permohonan untuk memiliki tanah yang berisikan pohon Al-Arak (kayunya dapat dimanfaatkan sebagai kayu sugi). Rasulullah hanya mengizinkan daerah itu dengan syarat harus jauh dari tempat pemukiman penduduk pusat pasar Madinah. Sebab kawasan pinggiran Madinah adalah kawasan perumahan dan padang rumput sebagai tempat makanan hewan-hewan ternak. Kisah di atas menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw. Melakukan monopoli bagi sumber-sumber ekonomi yang merupakan hajat hidup orang banyak. Kebalikannya, Rasulullah menolak dilakukannya privatisasi (kepemilikan secara pribadi atau sekelompok orang) dari sumber-sumber ekonomi negara. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan kedaulatan negara terhadap wilayah dan seluruh kekayaan yang terkandung didalamnya untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Sebaliknya, negara yang tidak berdaulat adalah negara dan kekayaannya dapat dimiliki oleh kepentingan pribadi ataupun korporasi.

Oleh karena itu, sektor-sektor ekonomi seperti air (PAM ), listrik (PLN), telekomunikasi, kekayaan alam seperti minyak bumi, gas dan barang tambang lainnya harus dikuasai oleh negara untuk kepentingan rakyat dan tidak boleh dikuasai swasta sepenuhnya, karena itu merupakan tindakan monopoli.

Hayoo…… bersama kita bisa mencerdaskan bangsa.

Cisitu Lama , bandung