0063. “WAHAI…. PARA PEMIMPIN …..PERBAIKILAH MASYARAKAT DAN NEGARA INI DENGAN CINTA DAN KASIH SAYANG”

Selasa, 11 Juni 2019

Masayarakat dan Negara…., betapapun kebobrokan, bagaimanapun kerusakanya, seberapa banyak pun kesalahan kesalahan-nya, maka demi Alloh, kesalahan kesalahan ini tidak akan hilang dan kerusakan kerusakan ini tidak mungkin terhapus dari nya, kecuali dengan menggunakan motif fundamental yang dapat meresap ke setiap hati seluruh individu masyarakat  (Negara) ini, yaitu tidak lain adalah CINTA DAN KASIH SAYANG.

Kekuatan cinta dan kasih sayang mengalahkan kebencian, mengikis permusuhan dan meredakan konflik. Begitu dahsyat arti cinta dan kasih sayang. Cinta itu buta dan menggiring orang untuk melalukan apapun sesuai kemauan yang dicintainya. Kasih sayang adalah rahmat yang luar biasa yang diberikan Alloh kepada manusia.

Cinta dan kasih sayang adalah sebuah kenikmatan yang dirasakan manusia di dunia. Dengan adanya rasa cinta dan kasih sayang, tercipta kepedulian, kedamaian dan rasa empati kepada orang lain. Tidak hanya itu, cinta dan kasih sayang bisa mendorong manusia untuk membantu meringankan penderitaan yang dialami oleh manusia lainnya. Tanpa adanya rasa cinta dan kasih sayang, mungkin manusia akan menjadi sangat individualistis, egois dan tidak memikirkan kepentingan orang lain

Dengan Cinta dan kasih sayang, kita semua bergerak dalam ranah amar makruf dan nahi mungkar. Dengan Cinta dan kasih sayang, kita semua akan marah untuk kehormatan kehormatan Alloh yang dinodai. Dengan Cinta dan kasih sayang, jika kita semua disakiti dijalan Alloh Swt, kita semua akan mampu bersabar dan bersabar. Dengan Cinta, jika kita menyaksikan orang yang mengucilkan kita, karena kita berjalan dijalan hidayah, maka kita mampu mengangkat tangan seraya berdoa : “Ya Alloh , ini adalah saudaraku dan saudara kita. Dia tidak mengetahui”. “Seandai-nya ia tahu, niscaya ia tidak akan bersikap demikian kepada kita.”

Dengan Cinta dan kasih sayang, saudara saudaraku, kita sebagai para Da’i yang mengajak manusia kepada Alloh SWT, Kita akan mampu menghadapi orang orang yang jahil, menyimpang, dan menjahui dari jalan lurus layaknya seorang dokter bagi orang yang sakit. Dan demi Alloh, sama sekali tidak akan berhasil upaya seorang Dokter mengobati pasien-nya, kecuali jika ia mengobati pasien-nya itu dengan motif rasa balas kasih kepadanya, dengan motif rasa sayang kepadanya.

Kita semua mengetahui fakta ini. Seorang Da’i yang mengajak kepada Alloh Swt, wahai saudara sekalian, adalah dokter. Tetapi dokter seperti apa? Ulama adalah Dokter, Tapi dokter apa? Dokter yang ditugaskan Alloh Swt untuk mengobati hati dan jiwa dan membersihkan-nya dari segala kotoran-nya, dokter ini tidak akan bisa bekerja kecuali jika didorong dengan dorongan Cinta dan kasih sayang kepada pasien-nya. Orang sakit dalam kontek ini adalah pelaku penyimpangan, pelaku kefasikan dan pelaku pembelotan dari jalan Alloh Swt, bagaimanapun tingkatan-nya, dan dari golongan manapun ia berasal.

Saudara saudaraku semua , saya dan kita semua merasakan kepedihan karena kita tidak memahami hakekat cinta dan kasih sayang ini, atau sering kali kita tidak memahaminya. Bahkan persoalan telah membawa kita pada tingkatan dimana sebagian kita mengira bahwa yang menjadi tolok ukur kepedulian terhadap kehormatan kehormatan Alloh Swt, dan yang menjadi ukuran komitmen terhadap agama Alloh Swt adalah penuhnya hati dengan kebencian, kedengkian, dan kemarahan terhadap setiap pelaku kesesatan dan pelaku kerusakan, dan pelaku penyimpangan dari jalan Alloh Swt.

Baiklah,…… anggap saja sikap seperti itu diperlukan. Tapi saya ingin kita mengukur persoalan ini dengan akal. Jika saya (Kita) harus menerapkan sikap seperti ini terhadap orang tersebut, yaitu dengan memasang tirai antara saya (Kita) dan dia yang berupa kebencian dan kedengkian ini, lalu kapan saya (Kita) dapat berbicara dengan-nya? Bagaimana saya mampu membetangkan jembatan menyambungkan komunikasi antara saya (Kita) dan dia? Dan bagaimana mungkin dia mau mendengarkan saya (Kita), sementara dia mencium aroma kedengkian yang membucah dari hati saya (Kita) dan juga menyaksikan-nya?

Bagaimana caranya agar ia mempercayai kata kata saya (Kita), saat saya (Kita) menasehatinya, atau agar ia terpengaruh oleh pembicaraan saat jika saya (Kita) mengingatkan-nya? Tidak ada cara sama sekali! Hendaklah kita jujur terhadap diri kita sendiri. Hendaknya kita jujur terhadap saudara saudara kita semua. Dalam kondisi seperti ini, sungguh kita bertindak atas dasar ke egoan diri, bukan atas dasar kepedulian kepada agama Alloh Swt.

Islam adalah agama yang sejak keberadaannya selalu menebarkan cinta dan kasih sayang di muka bumi. Dalam surat At Taubah ayat 128, Allah subhanahu wa ta’alah berfirman, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa Islam sendiri diturunkan dengan penuh kasih sayang kepada semua umat manusia.

Untuk mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang dalam Islam juga telah diatur dengan mengikuti ajaran yang telah dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bentuk kasih sayang ini dibungkus dengan iman. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”.

Untuk mewujudkan rasa cinta dan kasih sayang dalam Islam, manusia diajarkan untuk melakukan perbuatan yang nyata. Cinta dan kasih sayang kepada manusia lain bisa berbentuk perbuatan tolong menolong, menjaga silaturahmi, meringankan beban dan kesulitan orang lain, mengajak orang lain ke jalan Allah, menjaga kedamaian dan lain sebagainya. Sementara itu, cinta dan kasih sayang kepada makhluk lain dan lingkungan bisa berupa menjaga kebersihan, keasrian, dan kelestarian lingkungan. Maka, cinta dan kasih sayang dalam Islam dapat terwujud sepanjang waktu, sepanjang usia manusia tersebut hidup di bumi.

Hai para PEMIMPIN, perbaiki dan ajarkan kepada masyarakat dengan rasa Cinta dan kasih sayang. Jika ada masyarakat yang menyimpang atau salah atau keliru dalam bermasyarakat dan bernegara….. dengan rasa cinta dan kasih sayang, datangi dan dengarkan apa masalah-nya dan berikan ruang untuk berdialog untuk jalan solusinya……. jelaskan sejelas jelasnya mengenai persolalan yang terjadi (Apa, kenapa, bagaimana, dll)…… janganlah malah ditangkap dan disakiti/didzalimi, dipenjara, apalagi dibunuh!!! Naudzubillahi mindalik……

Sadarlah….. wahai para Pemimpin……. Semoga Alloh memberikan kelapangan, memberi pentujuk dan hidayah dan keridhoan dalam kepemimpinan-mu. Sehingga Negara ini  menjadi aman, damai, adil dan makmur. Aamiin

Cisitu lama bandung