0067. 20 KEUTAMAAN DAN PENTING-NYA “DOA” BAGI SEORANG MUSLIM & MUKMIN (1. Doa Bisa Mengubah Takdir, 2. Diberikan Kekuatan Menghadapi Musuh, 3. Doa adalah Inti Ibadah, 4. Doa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah, 5. Menghindari Diri dari Kejelekan, 6. Menghindari Murka Allah, 7. Memperoleh Rahmat dari Allah, 8. Memberikan Manfaat Bagi Kehidupan (Menangkis Ketetapan Tuhan), 9. Dikabulkan Keinginannya, 10. Mendekatkan Diri pada Allah, 11. Mempermudah Segala Urusan, 12. Menghilangkan Duka Cita dan Kesulitan (Menghindarkan Bencana dan Musibah), 13. Menentramkan Jiwa, 14. Mendatangkan Pahala, 15. Diampuni Dosa-Dosa, 16. Diangkat Derajatnya di Sisi Allah, 17. Meninggal Dalam Keadaan Fitrah, 18. Dicintai oleh Allah, 19. Seluruh Nabi dan Orang Sholeh Melakukan-nya, 20. Doa adalah Senjata seorang Mukmin+Pilar Agama+Cahaya Langit dan Bumi)

Minggu, 30 Juni 2019

Astaghfirullah, Subhanalloh, Walhamdulillah, Wala Illa Haillalloh, HuAllohu Akbar. Lhahaula wala kuata illa bilah, Allohuma Sholli Washolim Ala nabiyyina Muhammad, Wa ala ali Washohbihi aj’main.

Doa adalah senjata bagi orang orang beriman, jika banyak orang muslim dan mukmin berdoa maka mereka kaya akan senjata, dan jika mereka kaya akan senjata maka mereka akan selamat dari musuh musuhnya. Jika ada musuh islam yang menyerang, maka mereka akan mudah mengalahkan-nya. Maka sudah selayaknya, masing masing orang muslim secara pribadi, keluarga, kelompok maupun masyarakat harus berusaha menguasai, menghapalkan dan mengamalkan doa yang diajarkan oleh Alloh dalam Alquran dan yang diajarkan Rasulullah, Para Sahabatnya dalam hadist (Sunnah), dan Para ulama warosatul ambiya lainya. Sangat disayangkan bahwa sampai saat ini kebanyakan umat muslim (baik perorangan, keluarga dan masyarakat) masih sangat kurang peduli (atau meremehkan) untuk meyakini, menguasai, menghapalkan dan mengamalkan doa. Banyak dari kita yang sudah hapal atau menguasai doa (dari waktu kita masih kecil disekolah) namun jarang diamalkan karena orang tua masing masing, keluarga, dan masyarakat tidak memberi motivasi dan tidak memberi contoh untuk pengamalan-nya. Masih banyak keluarga muslim yang tidak hapal atau sudah hapal namun tidak mengamalkan-nya, misalnya DOA TENTANG MAKAN ; doa mau makan ” Bismillah” atau Allohuma Bariklana Fima Rozaktana Wakina Ada Bannar, doa sudah makan “Alhamdulillahilladi at’amani hada warozakonihi  wamin ghoiri khauli minni wala kuwatti” atau Alhamdullilahilladzi at’amana wasakhona wajaalna minal muslimin”, doa jika diberi makan/minum orang lain ” Allohuma At’im man amani waskhi man sakhoni”, doa jika bertamu dan diberi makan/minum penghuni rumah “Allohuma bariklahum fima rozaktahum wagfirlahum warhamhun” dan lain lainya

Doa juga merupakan senjata yang kuat yang digunakan seorang muslim dan mukmin dalam mencari kebaikan dan menolak kemadharatan, Rosulullah saw bersabda: “ Barang siapa diantara kalian telah dibukakan baginya pintu doa, pasti dibukakan pula baginya pintu rahmat, dan tidaklah Allah SWT diminta sesuatu yang Dia berikan lebih Dia senangi dari pada diminta kekuatan, sesungguhnya doa itu bermanfaat baik terhadap apa yang terjadi maupun belum terjadi, maka hendaklah kalian berdoa.” (HR: tirmizi, dihasankan oleh Al-Albani).

Doa adalah senjata yang digunakan para nabi dalam menghadapi situasi-situasi sulit, begitu pun nabi Muhamad saw dalam perang badar, ketika ia melihat jumlah kaum musyrikin sebanyak seribu sedang pasukan islam tiga ratus Sembilan belas, ia segera menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tanganya berdoa: “ Ya Allah wujudkanlah untuk kami apa yang engkau janjikan, ya Allah berikanlah kepada kami apa yang engakau janjikan, ya Allah jika sekumpulan kaum muslimin ini binasa, maka tidak ada yang akan menyembah engkau di muka bumi ini.” Rasulullah saw terus melantunkan doa seraya membentangkan kedua tanganya menghadap kiblat hingga selempangnya jatuh, maka datanglah Abu Bakar mengambil selempang Rasulullah saw dan meletakanya di atas pundaknya dan menjaganya dari belakang dan berkata: wahai nabi Allah, doa engkau kepada Tuhanmu sudah cukup, karena Dia pasti akan mewujudkan apa yang Dia janjikan untukmu.” (HR: Muslim). Demikian pula nabi Ayub a.s., ia menggunakan senjata doa ketika mengalami berbagai macam cobaan, terisoler dari manusia, tidak ada lagi yang menyayanginya selain istrinya sendiri, dalam kondisi seperti itu ia tetap bersabar dan mengharap ridho Allah SWT, dan ketika cobaan itu telah berlarut lama, ia berdoa: “ Dan ingatlah (kisah ayub), ketika ia menyeru Tuhanya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka kami-pun memperkenankan seruan-nya itu, lalu kami lenyap kan penyakit yang ada padanya…” ( QS: Al-Anbiya’: 83-84).

Doa adalah jalan keselamatan, tangga pengantar, sesuatu yang dituntut oleh orang-orang yang berpengetahuan, kendaraan para Nabi dan orang-orang shalih, tempat berlindung bagi kaum yang terdzalimi dan tertindas, melalui doa nikmat diturunkan dan melaluinya pula murka dihindarkan. Alangkah besar kebutuhan para hamba Allah akan doa, seorang muslim tidak akan pernah bisa lepas dari kebutuhan akan doa dalam setiap situasi dan kondisinya. Doa adalah obat yang paling mujarab, ia ibarat musuh bagi penyakit, ia senantiasa melawan, menghilangkan atau meringankan nya. Begitulah kedudukan doa, seyogyanya bagi seorang muslim untuk mengetahui keutamaan-keutamaan doa.

Doa memiliki keutamaan dan faedah yang tak terhitung, kedudukannya sebagai satu bentuk ibadah cukup menjadi bukti keutamaan-nya, bahkan ia adalah ibadah itu sendiri, sebagaimana yang sabda kan Rasulullah saw,” Doa adalah ibadah.” (HR: Tirmizi, disahihkan Al-Albani). Meninggalkan doa adalah bentuk menyombongkan diri dari menyembah Allah SWT, sebagaimana Allah SWT berfirman: “ Dan Tuhamnu berfirman: “ berdoalah kepada-Ku, niscaya akan ku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku(berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS: Gafir:60).

Dan doa itu menunjukan tawakal kepada Allah SWT, hal itu dikarenakan orang yang berdo’a dalam kondisi memohon pertolongan kepadaNya, menyerahkan urusan hanya kepada-nya bukan kepada yang lain-Nya. Sebagaimana doa juga merupakan bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan bentuk pemenuhan akan perintah-Nya. Allah SWT berfirman: “ Dan Tuhamnu berfirman: “ berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan
kuperkenankan bagimu” ( Gafir: 60).

Di samping itu doa juga dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan, menjadikan hati lapang, mempermudah urusan, dalam doa seorang hamba bermunajat kepada Tuhanya, mengakui kelemahan dan ketidak berdayaanya, mengungkapkan rasa butuhnya kepada Pencipta dan Pemiliknya, doa juga sarana untuk menghindari murka Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “ Barang siapa tidak mau meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya” ( HR: Ahmad, Tirmizi, dihasankan Al-Albani).

Alangkah indahnya ungkapan seorang penyair: Janganlah engkau meminta manusia satu kebutuhan, Mintalah kepada yang pintu-Nya tak pernah tertutup, Allah marah jika engkau tidak meminta-Nya, Sedang manusia justru marah ketika meminta,

Doa juga menjadi senjata bagi orang-orang yang terdzalimi, ia adalah tempat berlindung bagi orang-orang lemah yang putus harapan, tertutup segala pintu di hadapan-nya, imam Syafi’I mengatakan: Apakah engkau meremehkan doa dan memandangnya sepele
Padahal engkau tidak tahu apa yang diperbuat doa Ia adalah anak panah-anak panah malam yang tak kan meleset Akan tetapi ia memiliki masa dan masa itu ada Penghujungnya.

Keutamaan dan fadilah “Doa”

  1. Doa Bisa Mengubah Takdir,
    • Dijelaskan dari Tsauban RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada yang dapat mencegah takdir, kecuali doa. Tidak ada yang dapat menambah umur, kecuali kebaikan. Dan seseorang benar-benar akan dihalangi dari rezeki, disebabkan oleh dosa yang diperbuatnya.” (HR. Al-Hakim)
  2. Diberikan Kekuatan Menghadapi Musuh,
    • Nabi berdoa di malam Perang Badar. Setelah seluruh persiapan dilakukan, tinggal satu, mengharapkan pertolongan Allah SWT. Malam itu pun Nabi bersama sahabat melakukan shalat malam. Di belakangnya ada Abu Bakar as-Shiddiq. Doa yang dipanjatkannya pun tidak main-main: اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ لا تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ Allahumma in tuhlika hadzihi al-‘ishabata la tu’bad fi al-ardhi “Ya Allah, sekiranya Engkau binasakan kelompok yang tersisa ini (dalam Perang Badar), maka Engkau tidak akan disembah lagi di muka bumi.” [Dikeluarkan Ibn Mundzir, al-Ausath fi as-Sunan] Doa ini dipanjatkan di tengah pekatnya malam, saat Allah turun ke langit bumi. Diulang-ulang Nabi, dengan khusyu’, sambil menangis hingga tubuh baginda yang mulia itu bergetar, sampai surbannya jatuh. Abu Bakar yang berada di belakang Nabi pun memungut surban itu, lalu bertutur kepada Nabi, “Cukup ya Rasul, cukup ya Rasul, Allah pasti telah mendengarkan doa Tuan.” Maka, lihatlah kemudian, Allah menurunkan 5000 pasukan malaikat-Nya untuk membantu Nabi saw.
    • Ketika Nabi dikepung pasukan koalisi, yang terdiri dari kaum Kafir Quraisy, Yahudi dan kabilah-kabilah lain, saat Perang Khandak, setelah seluruh persiapan dilakukan, dan rencana penjanjian dibatalkan, Nabi saw bermunajat kepada Allah di atas bukit. Tiga malam berturut-turut, Nabi saw. memanjatkan doa: اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ سَرِيْعَ الْحِسَابِ، اللَّهُمَّ اهْزِمِ الأحْزَابَ، اللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ Allahumma ya Munzila al-kitab, Sari’a al-hisab, Allahumma ahzimh al-Ahzab, Allahumma ahzimhum wa zalzilhum.. “Ya Allah, Dzat yang Maha menurunkan Kitab (al-Qur’an), yang Maha Cepat perhitungan-Nya, ya Allah kalahkanlah pasukan koalisi (musuh), ya Allah kalahkanlah mereka, dan goncanglah mereka..” [Hr. Bukhari dan Muslim]. Setelah doa itu dipanjatkan, Abu Sa’id al-Khudri menuturkan, “Allah SWT memukul musuh-musuh kami dengan angin. Allah pun mengalahkan mereka dengan angin.” [Hr. Ahmad dalam Musnad]
  3. Doa adalah Bentuk Ibadah,
    • Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi no. 2969. Dinilai shahih oleh Syaikh Al-Albani) [1]
    • Alloh berfirman: “ berdoalah kepada-Ku, niscaya akan ku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku(berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS: Gafir:60).
  4. Doa adalah ibadah yang paling mulia di sisi Allah,
    • Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Tidak ada sesuatu yang paling mulia di sisi Allah daripada doa”. [Sunan At-Timidzi, bab Do’a 12/263, Sunan Ibnu Majah, bab Do’a 2/341 No. 3874. Musnad Ahmad 2/362].
  5. Menghindari Diri dari Kejelekan,
    • Diriwayatkan dari Abu Sa’id: “Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: Allah akan segera mengabulkan do’anya, Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdoa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad).
  6. Menghindari Murka Allah,
    • “Barang siapa tidak mau meminta kepada Allah, niscaya Dia akan marah kepadanya.” (HR. Ahmad II/442 no.9699, dan At-Tirmidzi V/456 no.3373, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Dan dihasankan syaikh Al-Albani)
  7. Memperoleh Rahmat dari Allah,
    • “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah Amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf : 55-56)
  8. Memberikan Manfaat Bagi Kehidupan (Menangkis Ketetapan Tuhan),
    • “Barangsiapa dibukakan pintu doa untuknya, berarti telah dibukakan pula untuknya segala pintu rahmat. Dan tidak dimohonkan kepaia Allah, yang lebih disukai-Nya selain daripada dimohonkan ‘afiyah. Doa itu memberi manfaat terhadap yang telah diturunkan dan yang belum diturunkan. Dan tak ada yang dapat menangkis ketetapan Tuhan, kecuali Doa. Sebab itu berdoa kamu sekalian.” (HR. Al-Tirmidzî)
  9. Dikabulkan Keinginannya,
    • “Tiap Muslim di muka bumi yang memohonkan suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah, atau dijauhkan Allah daripadanya sesuatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang.” (HR Al-Thirmidzi).
  10. Mendekatkan Diri pada Allah,
    • “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186).
  11. Mempermudah Segala Urusan,
    • Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Quran yang artinya: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu“. (QS. Al-Mu’min: 60)
    • “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS. An-Namal : 62)
  12. Menghilangkan Duka Cita dan Kesulitan (Menghindarkan Bencana dan Musibah),
    • “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim’. Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya: 87-88).
  13. Mententramkan Jiwa,
    • “……… Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. At-Taubah: 103).
  14. Mendatangkan Pahala Terus Menerus,
    • “Apabila anak Adam meninggal, maka terputus darinya semua amalan kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim 4310)
  15. Diampuni Dosa-Dosa,
    • “Hai anak Adam, sesungguhnya selama kamu berdoa kepada-Ku dan kamu mengharapkan kepada-Ku, Aku ampuni kamu bagaimanapun keadaanmu sebelumnya, Aku tidak perduli. Hai anak Adam, sekiranya dosa-dosamu mencapai awan dilangit, kemudian kamu minta ampun kepada-Ku, Aku ampuni kamu dan Aku tidak perduli. Hai anak Adam, sekiranya kamu mendatangi Aku dengan membawa kesalahan-kesalahan yang hampir memenuhi bumi, kalau kamu bertemu Aku nanti dan tidak menyekutukan Aku dengan sesuatu, pasti Aku mendatangi kamu dengan membawa ampunan yang hampir memenuhi bumi pula.” (HR. Tirmidzi)
  16. Diangkat Derajatnya di Sisi Allah,
    • Sesungguhnya Allah berfirman dalam hadits Qudsi: “Barangsiapa berdo’a (memohon) kepada-Ku di waktu dia senang (bahagia) maka Aku akan mengabulkan do’anya di waktu dia dalam kesulitan, dan barangsiapa memohon maka Aku kabulkan dan barangsiapa rendah diri kepada-Ku maka aku angkat derajatnya, dan barangsiapa mohon kepada-Ku dengan rendah diri maka Aku merahmatinya dan barangsiapa mohon pengampunanKu maka Aku ampuni dosa-dosanya.”
  17. Meninggal Dalam Keadaan Fitrah,
    • “Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhulah seperti kamu hendak melakukan sholat. Kemudian berbaringlah di atas bagian tubuh yang kanan. Lalu ucapkanlah: Ya Allah, aku menyerahkan diriku kepadaMu, aku menyerahkan urusanku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena senang dan takut. Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dariMu kecuali kepadaMu. Aku beriman kepada kitab yang telah Engkau turunkan, dan Nabi yang telah Engkau utus. Apabila kamu meninggal dunia, maka kamu meninggal dalam keadaan fitrah. Dan jadikanlah ia ucapan terakhirmu.” (HR.Bukhari).
  18. Dicintai oleh Allah,
    • Allah mencintai orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam berdoa”. [Hadits Dhaif, Al-Albani berkata dalam Silsilah Dhaifah bahwa hadits ini bathil 2/96-97].
  19. Seluruh Nabi dan Orang Sholeh Melakukan-nya,
    • Doa Nabi Adam a.s.“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Al-A’raf/7:23)
    • Doa Nabi Nuh a.s. “ Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran. (Q.S. Nuh/71: 28), ”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.” (Q.S. Hud/11: 47), “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik pemberi tempat.” (Q.S. Al-Mu’minun/23: 29)
    • Doa Nabi Hud a.s. “Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak satu pun makhluk bergerak yang bernyawa melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya (menguasainya). Sungguh, Tuhanku di jalan yang lurus (adil). (Q.S. Hud/11: 56)
    • Doa Nabi Ibrahim a.s “Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah/2: 127), “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. (Q.S. Al-Baqarah/2: 128), “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (Q.S. Ibrahim/14: 40)”, Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat).” . (Q.S. Ibrahim/14: 41), “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, (Q.S. Asy-Syu’ara’/26: 83) dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, (Q.S. Asy-Syu’ara’/26: 84) dan ampunilah ayahku, sesungguhnya dia termasuk orang yang sesat, (Q.S. Asy-Syu’ara’/26: 85), “Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. (Q.S. Al-Mumtahanah/60: 4), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Mumtahanah/60: 5), “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (Q.S. Ash-Shaffat/37: 100)
    • Doa Nabi Luth a.s, “Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan yang berbuat kerusakan itu.” (Q.S. Al-‘Ankabut/29: 30)” Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” (Q.S. Asy-Syu’ara’/26: 169)
    • Doa Nabi Ya’qub a.s.“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. (Q.S. Yusuf/12: 86)
    • Doa Nabi Yusuf a.s.“Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka. Jika aku tidak Engkau hindarkan dari tipu daya mereka, niscaya aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentu aku termasuk orang yang bodoh.” (Q.S. Yusuf/12: 33), (Wahai Tuhan) pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh.” (Q.S. Yusuf/12: 101).
  20. Doa adalah Senjata seorang Mukmin+Pilar Agama+Cahaya Langit dan Bumi)
    • Al-Imam Abu Ya’laa Al-Maushiliy rahimahullah meriwayatkan hadits berikut : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Hammaad Al-Kuufiy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Hasan bin Abu Yaziid Al-Hamdaaniy, dari Ja’far bin Muhammad, dari Ayahnya, dari Kakeknya, dari ‘Aliy -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Do’a adalah senjata orang mu’min, tiangnya agama dan cahaya langit dan bumi.” [Musnad Abu Ya’laa no. 439], Diriwayatkan pula oleh Al-Haakim (Al-Mustadrak 1/492); Al-Qudhaa’iy (Musnad Asy-Syihaab no. 143); ‘Abdul Ghaniy Al-Maqdisiy (At-Targhiib fiy Ad-Du’aa’ no. 10); Ibnu ‘Adiy (Al-Kaamil 7/372); semua dari jalan Al-Hasan bin Hammaad, dari Muhammad bin Al-Hasan bin Abu Yaziid, dan seterusnya hingga ‘Aliy, secara marfuu’.

Hayoo belajar dan amalkan Doa2 dari Alquran dan Hadist terus menerus….. Mulai dari diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Cisitu lama, bandung

Iklan

0066. 23 BAHAYA ZINA (1. Dosanya setingkat dengan Membunuh, 2. Perbuatan keji dan kotor, Seburuk buruk jalan dan Melampaui batas, 3. Dalam zina terkumpul bermacam-macam dosa dan keburukan yakni berkurangnya agama si penzina, hilangnya sikap wara’ (menjaga diri dari dosa), buruk kepribadian dan hilangnya rasa cemburu, 4. Zina membunuh rasa malu, padahal dalam Islam malu merupakan suatu hal yang amat diambil berat dan perhiasan yang sangat indah khasnya bagi wanita, 5. Menjadikan wajah pelakunya muram dan gelap, 6. Membuat hati menjadi gelap dan mematikan sinarnya, 7. Menjadikan pelakunya selalu dalam kemiskinan atau merasa demikian sehingga tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diterimanya, 8. Akan menghilangkan kehormatan pelakunya dan jatuh martabatnya baik di hadapan Allah mahupun sesama manusia, 9. Allah akan mencampakkan sifat liar di hati penzina, sehingga pandangan matanya liar dan tidak terkawal, 10. Pezina akan dipandang oleh manusia dengan pandangan mual dan tidak percaya, 11. Zina mengeluarkan bau busuk yang mampu dihirup oleh orang-orang yang memiliki ‘qalbun salim’ (hati yang bersih) melalui mulut atau badannya, 12. Kesempitan hati dan dada selalu meliputi para pezina. Apa yang ia dapati dalam kehidupan ini adalah sebalik dari apa yang diingininya. Ini adalah kerana, orang yang mencari kenikmatan hidup dengan cara bermaksiat kepada Allah maka Allah akan memberikan yang sebaliknya dari apa yang dia inginkan, dan Allah tidak menjadikan maksiat sebagai jalan untuk mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan, 13. Penzina telah mengharamkan dirinya untuk mendapat bidadari yang jelita di syurga kelak, 14. Perzinaan menyeret kepada terputusnya hubungan silaturrahim, derhaka kepada orang tua, pekerjaan haram, berbuat zalim, serta menyia-nyiakan keluarga dan keturunan. Bahkan boleh membawa kepada pertumpahan darah dan sihir serta dosa-dosa besar yang lain. Zina biasanya berkait dengan dosa dan maksiat yang lain sebelum atau bila berlakunya dan selepas itu biasanya akan melahirkan kemaksiatan yang lain pula, 15. Zina menghilangkan harga diri pelakunya dan merosakkan masa depannya di samping meninggalkan aib yang berpanjangan bukan sahaja kepada pelakunya malah kepada seluruh keluarganya, 16. Aib yang dicontengkan kepada pelaku zina lebih membekas dan mendalam daripada asakan akidah kafir, misalnya, kerana orang kafir yang memeluk Islam selesailah persoalannya, namun dosa zina akan benar-benar membekas dalam jiwa kerana walaupun akhirnya pelaku zina itu bertaubat dan membersihkan diri dia akan masih merasa berbeza dengan orang yang tidak pernah melakukannya, 17. Jika wanita yang berzina hamil dan untuk menutupi aibnya ia mengugurkan kandungannya itu maka dia telah berzina dan juga telah membunuh jiwa yang tidak berdosa . Jika dia ialah seorang wanita yang telah bersuami dan melakukan kecurangan sehingga hamil dan membiarkan anak itu lahir maka dia telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disedari siapa dia sebenarnya. Amat mengerikan, naudzubillah min dzalik, 18. Perzinaan akan melahirkan generasi individu-individu yang tidak ada asal keturunan (nasab). Di mata masyarakat mereka tidak memiliki status sosial yang jelas,19. Pezina laki-laki berarti telah menodai kesucian dan kehormatan wanita, 20. Zina dapat menyemai permusuhan dan menyalakan api dendam antara keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengannya, 21. Perzinaan sangat mempengaruhi jiwa kaum keluarganya di mana mereka akan merasa jatuh martabat di mata masyarakat, sehingga kadang-kadang menyebabkan mereka tidak berani untuk mengangkat muka di hadapan orang lain, 22. Perzinaan menyebabkan menularnya penyakit-penyakit berbahaya seperti aids, siphilis, dan gonorhea atau kencing bernanah, 23. Perzinaan menjadikan sebab hancurnya suatu masyarakat yakni mereka semua akan dimusnahkan oleh Allah akibat dosa zina yang tersebar dan yang dilakukan secara terang-terangan,).

Selasa, 18 Juni 2019

Saya melihat masih banyak masyarakat terutama orang tua yang memandang remeh terhadap perbuatan Zina anak anaknya. Bahkan banyak orang tua yang senang jika anak, adik atau saudaranya mempunyai banyak pacar……..bahkan menjadi obrolan sehari hari ditempat kerja, sekolahan atau warung warung atau dengan tetangga. Ada banyak juga orang yang sudah berpendidikan tinggi namun tidak tahu bahayanya ZINA. Padahal Zina adalah merupakan perbuatan yang sangat keji dan kotor, merupakan dosa besar, diharamkan Alloh, yang merugikan diri sendiri, orang tua, guru, orang lain dan masyarakat umumnya yang mengakibatkan hukuman berat didunia dan diakherat.

Sebagai orang tua, kerabat, guru, masyarakat umumnya dan negara (Pemerintah) mempunyai tanggung jawab untuk memberitahukan Bahaya Zina ini, betapa penting dan mulia-nya masalah ini.

DALIL ALQURAN & HADIST TENTANG BAHAYA-NYA “ZINA”

  1. Orang yang berzina akan Menjadi orang yang tidak beruntung, Menjadi orang yang tercela, Menjadi orang yang melampaui batas.[1]
    • Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Mukminûn/23:1-7].
    • “Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Maka barangsiapa mencari di luar itu (seperti zina dan homoseks), mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Al-Ma’ârij/70:29-31]
    • “Sesungguhnya beruntunglah orang orang yang beriman, ( yaitu ) orang orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang orang yang menjauhkan diri dari ( perbuatan dan perkataan ) yang tiada berguna, dan orang orang yang menunaikan zakat, dan orang orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri istri mereka, atau budak budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang orang yang melampaui batas.” ( QS. Al Mu’minun, 1 – 7 ).
  2. Berzina merupakan salah satu dari dosa besar yang sangat berbahaya setelah syirik, membunuh dan akan mendapat hukuman yang berat. Berzina adalah berpuatan keji dan kotor yang diharamkan alloh dan harus dijauhi.
    • “Dan orang orang yang tidak mempersekutukan Allâh dengan sembahan lain dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina dan barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti oleh Allâh dengan kebaikan. Allâh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [al-Furqân/25: 68-70].
    • “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji ( fahisyah ) dan suatu jalan yang buruk.” ( QS. Al Isra’, 32 )
    • Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata : Aku bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “Dosa apakah yang paling besar?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau menyekutukan Allâh padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu.” Aku katakan kepada beliau, “Itu dosa yang sangat besar.” Kemudian aku bertanya kembali, “Kemudian dosa apa lagi?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu.” Aku bertanya kembali, “Kemudian dosa apa lagi?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu (Shahîh: HR. Al-Bukhâri (no. 4477 dan 6811), Muslim (no. 86), at-Tirmidzi (no. 3182), dan an-Nasâ-i (VII/89).
    • Sebagaimana disebutkan oleh Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Amr bin Maimun Al-Audi, dia berkata: “Aku pernah melihat -pada masa jahiliyah- seekor kera jantan yang berzina dengan seekor kera betina. Lalu datanglah kawanan kera mengerumuni mereka berdua dan melempari keduanya sampai mati.”
  3. Hukuman berzina sangat berat;
    • ” Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. [an-Nisâ`/ 4:15-16].
    • Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. [An Nur : 2]
    • Dari ‘Ubâdah bin ash-Shâmit Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Ambillah dariku, ambillah dariku. Allâh telah menetapkan ketentuan bagi mereka; Perjaka yang berzina dengan perawan (hukumannya) dicambuk seratus kali dan dibuang selama setahun, dan laki-laki yang sudah pernah menikah (yang berzina) dengan perempuan yang sudah pernah menikah (hukumannya) adalah dicambuk seratus kali dan dirajam.(Shahîh: HR. Ahmad (V/313, 317, 318, 320), Muslim (no. 1690), Abu Dawud (no. 4415), at-Tirmidzi (no. 1434), dan lainnya dengan sanad yang shahih).
    • Bara’ bin Azib Radhiyallahu anhu , ia berkata, “Aku bertemu dengan pamanku dan ia membawa bendera, lalu aku berkata, “Mau kemana engkau wahai paman ?” Dia berkata, “Aku diutus oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memenggal leher seorang laki-laki dan mengambil hartanya yang telah berzina dengan istri bapaknya (ibu tiri).” Shahîh: HR. Abu Dâwûd (no. 4457), at-Tirmidzi (no. 1362), an-Nasa-i (VI/109), Ibnu Majah (no. 2607), al-Baihaqi (VIII/237), dan Ahmad (IV/292). Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwâ-ul Ghalîl (no. 2351)
    • Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :ada tiga golongan manusia yang pada hari Kiamat kelak, Allâh tidak akan berbicara kepada mereka, tidak akan mensucikan mereka (tidak akan memandang mereka), dan mereka mendapatkan siksa yang pedih, yaitu orang lanjut usia yang berzina, raja (penguasa) yang pendusta, dan orang miskin yang sombong ( Shahîh: HR. Muslim (no. 107), an-Nasa-i (V/86), dan Ahmad (II/433).
    • Shahîh: HR. Bukhâri (no. 7047)… Lalu kami (Nabi dan malaikat yang menemani beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) pergi kemudian mendatangi suatu tempat mirip pembakaran (tungku). Dia (perawi) berkata : Aku kira Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ternyata di dalamnya terdengar suara gaduh dan teriakan.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maka kami melihat di dalamnya terdapat kaum laki-laki dan wanita yang telanjang. Tiba-tiba datang api yang menyala-nyala dari bawah mereka, ketika api itu mendatangi mereka maka mereka berteriak-teriak.” Beliau bersabda, “Aku berkata kepada keduanya (dua malaikat), “Siapa mereka itu…?” Keduanya berkata, “Adapun kaum laki-laki dan wanita yang telanjang yang berada dalam tungku itu, mereka adalah para pezina.’”
    • Abu Hurairah berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila budak wanita seorang di antara kamu jelas-jelas berzina, hendaknya ia memukulnya dengan cambuk dengan hitungan tertentu dan tidak mencaci maki kepadanya. Lalu jika ia berzina lagi, hendaknya ia memukulnya dengan cambuk dengan hitungan tertentu dan tidak mencercanya. Kemudian jika ia berzina untuk yang ketiga dan sudah jelas buktinya, hendaknya ia menjualnya walaupun dengan harga selembar rambut.” (Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim.)
    • Nabi Muhammad SAW telah memberitahukan kepada kita semua bahwasanya perbuatan zina itu, akan mendapat balasan dari Allah SWT baik selagi masih di dunia maupun nanti di akhirat. Rasulullah SAW bersabda yang artinya;“Dua kejahatan akan dibalas oleh Allah ketika di dunia; zina dan durhaka kepada ibu bapak.” (H. R. Thabrani).
  4. Jenis umum Zina yang berbahaya:
    • ”Sesungguhnya Allah telah menetapkan atas diri anak keturunan Adam bagiannya dari zina. Dia mengetahui yang demikian tanpa dipungkiri. Mata bisa berzina, dan zinanya adalah pandangan (yang diharamkan). Zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan). Lidah (lisan) bisa berzina, dan zinanya adalah perkataan (yang diharamkan). Tangan bisa berzina, dan zinanya adalah memegang (yang diharamkan). Kaki bisa berzina, dan zinanya adalah ayunan langkah (ke tempat yang haram). Hati itu bisa berkeinginan dan berangan-angan. Sedangkan kemaluan membenarkan yang demikian itu atau mendustakannya.” (HR. Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657. Lafadz hadits di atas milik Muslim)
    • “Mata itu berzina, hati juga berzina. Zina mata adalah dengan melihat (yang diharamkan), zina hati adalah dengan membayangkan (pemicu syahwat yang terlarang). Sementara kemaluan membenarkan atau mendustakan semua itu.” (HR. Ahmad no. 8356. Dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.)
  5. Menghindari Zina termasuk salah satu dari enam perkara yang jika dilakukan semua akan dijamin Masuk SURGA:
    • ”Jaminlah aku dengan enam perkara, dan aku akan menjamin kalian dengan surga: jujurlah (jangan berdusta) jika kalian berbicara; tepatilah jika kalian berjanji; tunaikanlah jika kalian dipercaya (jangan berkhianat); peliharalah kemaluan kalian; tahanlah pandangan kalian; dan tahanlah kedua tangan kalian.” (HR. Ahmad no. 22757. Dinilai hasan lighairihi oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth).

REFERENSI

  1. DARI kitab “Al Jawabul Kaafi Liman Sa’ala‘an Ad Dawaa’ Asy Syafi ”, Imam Ibnu Qoyyim Al Jauziah
  2. https://dalamislam.com/akhlaq/larangan/zina-dalam-islam, https://almanhaj.or.id/2641-hukuman-untuk-pezina.html, https://muslim.or.id/26590-menundukkan-pandangan-mata.html, https://www.kiblat.net/2015/04/30/dosa-besar-zina-sebab-dan-azabnya/,

Mudah2an tulisan yang sederhana ini bermanfaat. Aamiin

Cisitu Lama , bandung

0065. “PRAKTEK MONOPOLI” DALAM BISNIS YANG BERKEMBANG DAN TERJADI DI-INDONESIA SAAT INI (JUNI’19) SANGAT MENGKAWATIRKAN? PRAKTEK MONOPOLI UNTUK KEPENTINGAN INDIVIDU DAN GOLONGAN(KORPORASI) “SANGAT DILARANG” DALAM ISLAM??? KARENA SANGAT BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP-PRINSIP SYARIAH YANG ADIL DAN FAIR. “MONOPOLI” INDIVIDU DAN GOLONGAN (KORPORASI) AKAN MENCIPTAKAN KETIMPANGAN DAN MENCIPTAKAN KESENJANGAN EKONOMI DALAM MASYARAKAT. DALAM ISLAM MONOPOLI “DIBOLEHKAN” JIKA UNTUK KEPENTINGAN UMUM (BANGSA DAN NEGARA) . PEMERINTAH SEBAGAI WASIT HARUS BERPERAN SECARA OPTIMAL DAN NETRAL UNTUK MENGATUR DAN MENJAMIN AGAR BISNIS YANG DILAKUKAN OLEH MASYARAKAT DAN KORPORASI BETUL BETUL TIDAK MERUGIKAN KEPENTINGAN RAKYAT BANYAK.

Senin, 17 Juni 2019

Setelah lebaran (Juni 2019), saya berkunjung ke kerabat di sariwangi, cisarua dibandung dengan “Nge-GRAP”, dalam mobil saya mendengar keluhan kegelisahan dan kesedihan Driver, bahwa dia sekarang “Nge-grap” karena usaha dia (grosir dipasar) jatuh dan didzolimi oleh Pengusaha Mini Market yang sekarang lagi menjamur di Indonesia. Semua barang yang ia jual, semuanya juga ada di Mini Market Tersebut.  Bagaimana mau bersaing?

Saya juga menengok saudara melahirkan di salah satu Rumah Sakit Terkemuka di Bandung, pagi pagi saya membeli “Kupat Tahu” untuk sarapan Suami dari saudara yang melahirkan, ternyata kata Suami-nya bahwa kenapa membelikan sarapan dari luar, lha wong di Rumah Sakit banyak yang jual sarapan pagi Kok….. Setelah saya lihat memang di Rumah Sakit Tersebut banyak sekali penjual makanan sehingga tidak perlu jauh2 atau membeli makanan dari luar. Waktu sorenya Istri dan Saya ingin membelikan hadiah untuk bayi yang lahir, ternyata di Rumah Sakit Tersebut juga ada yang ngejual segala macam untuk keperluan bayi. Juga ada mini market……… wah pokoknya sangat komplit dech…..Pokoknya semua kebutuhan pasien dan pengunjung Rumah Sakit sudah disediakan dan tidak perlu keluar uang lagi untuk membelinya diluar.

Sekilas hal tersebut sangat baik dan sangat membantu para pasien dan pengunjung Rumah Sakit, namun saya merasa sedih dan gelisah, Fungsi RUMAH SAKIT kok seperti PASAR? Jika semua dibolehkan seperti ini (MONOPOLI), apakah adil dan fair buat banyak orang dan masyarakat?…… Lihat Rumah Sakit untung besar tapi bagaimana dengan Penjual Kupat Tahu? PENJUAL KUPAT TAHU yang nota bene pedagang kecil yang ingin hidup lebih berkembang dan lebih sejahtera bisa bangkrut karena pembelinya berkurang? Mereka menghadapi persaingan yang tidak seimbang dan tidak sehat? Coba pikir? Penjual tahu punya keluarga dan anak yang perlu dibiayai, yang mana jaman sekarang ini memerlukan biaya yang tidak sedikit dan jika sakit perlu biaya yang besar pula?

Saya pagi ini membaca tulisan di Surat kabar harian umum “PIKIRAN RAKYAT” mengenai =Revitalisasi Pasar Tradisional, BERIKAN BUKTI, JANGAN LAGI MENEBAR JANJI…. saya sebagai orang awan merasa gelisah dan sedih, bahwa masyarakat yang jualan di Pasar tradisional semakin terpuruk (bukan tambah maju namun semakin susah). Karena di Rumah sakit sudah ada PASAR, karena di Mini Market semua barang dan kebutuhan sudah ada dan harganya lebih murah, Karena ada pasar ON LINE, Karena ada Pasar di Kantor – kantor Pemerintah dan Perusahaan Swasta.

Persoalan monopoli sesungguhnya merupakan persoalan yang sangat menarik untuk dibahas. Bahkan permasalahan ini telah mendapat perhatian yang sangat serius dari ajaran Islam, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah Swt: “...agar harta itu jangan hanya berputar di kalangan orang-orang kaya diantara kamu sekalian…” (QS Al-Haysr ayat 7). Selain riba, monopoli adalah komponen utama yang akan membuat kekayaan terkonsentrasi di tangan segelintir kelompok, sehingga menciptakan kesenjangan sosial dan ekonomi. Para ulama terkemuka abad pertengahan pun, seperti Ibn Taimiyyah, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah, dan Ibn Khaldun, telah pula melakukan kajian yang mendalam tentang praktik monopoli. Ibn Taimiyyah misalnya, dalam kitabnya Al-Hisbah fil Islam menyatakan bahwa ajaran Islam sangat mendorong kebebasan untuk melakukan aktivitas ekonomi sepanjang tidak bertentangan dengan aturan agama. Kepemilikan dan penguasaan aset kekayaan di tangan individu adalah sesuatu yang diperbolehkan dalam Islam. Namun demikian, ketika kebebasan tersebut dimanfaatkan untuk menciptakan praktik praktik monopolistik yang merugikan, maka adalah tugas dan kewajiban negara untuk melakukan intervensi dan koreksi

Monopoli tidak akan lepas dari konsep pasar bebas. Pasar bebas merupakan salah bentuk pasar yang di konsep oleh para tokoh ekonomi barat dimana segala bentuk kebijakan baik harga maupun yang lainnya tidak ada sebuah patokan maupun batasan baik berupa paksaan dari pihak lain maupun pemerintah. Perlu diketahui bahwa harga yang tercipta dalam pasar bebas ditentukan oleh permintaan dan penawaran yang dilakukan antara penjual dan pembeli. Sehingga yang terjadi adalah monopoli akan bebas berkembang dikarenakan kebebasan diberikan seluas-luasnya pada semua pihak. Pihak yang memiliki modal yang besar akan berusaha menguasai berbagai bentuk dari faktor produksi. Maka hal tersebut berimbas pada masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah dengan kesenjangan ekonomi yang semakin besar sehingga yang kaya akan memiliki kekuatan dalam mengendalikan pasar dan yang lemah akan semakin terpuruk.

Tujuan utama adanya pasar bebas adalah untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, tidak memperdulikan dengan cara apa atau strategi apa yang digunakan. Maka hal ini menimbulkan tidak adanya rasa empati maupun kerjasama, hanya kepentingan sendirilah yang dipikirkan dengan mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya.

Dalam pasar bebas, hak perorangan sangat diakui dan semua pihak memiliki hak untuk memiliki kekayaan dan mengelola berbagai faktor produksi. Hal ini akan menciptakan suatu masyarakat yang produktif dalam perekonomian. Kreatifitas dan inovasi masyarakat dapat dikembangkan sehingga perekonomian akan semakin meningkat. Kekreatifan dari masyarakat akan meningkatkan motivasi untuk bersaing dalam upaya menghasilkan produk yang berkualitas. Dengan pasar bebas, persaingan akan timbul namun Tugas pemerintah adalah menjaga iklim persaingan yang sehat dan dapat berjalan di rel yang benar.

Dalam UU No. 5 Tahun 1999, pengertian monopoli dibedakan dari praktik monopoli. Pengertian “praktik monopoli” dikemukakan dalam Pasal 1 angka 2 UU No.5 Tahun 1999, yaitu pemusatan kegiatan ekonomi oleh satu atau lebih pelaku usaha yang mengakibatkan dikuasai-nya produksi dan/atau pemasaran atas barang dan/atau jasa tertentu, sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat dan dapat merugikan kepentingan umum. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa monopoli yang tidak mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat dan tidak merugikan kepentingan umum tidak dilarang, yang dilarang berdasarkan UU adalah praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.

Dalam sejarah, Rasulullah saw. Juga selalu melakukan “monopoli” sumber sumber ekonomi dalam rangka kepentingan umum. Sumber-sumber ekonomi Madinah tidak diberikan kepada kepemilikan pribadi, namun sebaliknya sumber sumber ekonomi yang menghidupi orang banyak yang melibatkan kepentingan umum harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Saat itu, sumber ekonomi yang sangat dominan adalah tanah yang berisikan padang rumput sebagai tempat makanan binatang ternak. Demikian juga lokasi sumber garam, sumber air, dan sebagainya tidak diberikan kepemilikannya kepada pribadi.

Kebijakan ini jelas terlihat dalam kisah sahabat yang bernama Abyad bin Hammal (HR. Abu Daud dan Imam Tirmidzi). Awalnya Abyad menuntut diberikan satu bidang tanah di daerah ma’rib, kemudian Rasulullah saw. Mengabulkan permintaan itu. Namun seorang bernama Aqra’ bin Habis berdiri sambil bertanya kepada Rasulullah Saw. Adakah engkau tahu kondisi lokasi itu sebenarnya? Sembari menjelaskan bahwa kawasan itu adalah sumber air yang menghasilkan garam. Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah saw menarik kembali pemberian daerah yang telah diberikannya kepada Abyad bin Hammal. Demikian juga ketika Abyad bin Hammal mengajukan permohonan untuk memiliki tanah yang berisikan pohon Al-Arak (kayunya dapat dimanfaatkan sebagai kayu sugi). Rasulullah hanya mengizinkan daerah itu dengan syarat harus jauh dari tempat pemukiman penduduk pusat pasar Madinah. Sebab kawasan pinggiran Madinah adalah kawasan perumahan dan padang rumput sebagai tempat makanan hewan-hewan ternak. Kisah di atas menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw. Melakukan monopoli bagi sumber-sumber ekonomi yang merupakan hajat hidup orang banyak. Kebalikannya, Rasulullah menolak dilakukannya privatisasi (kepemilikan secara pribadi atau sekelompok orang) dari sumber-sumber ekonomi negara. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan kedaulatan negara terhadap wilayah dan seluruh kekayaan yang terkandung didalamnya untuk digunakan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Sebaliknya, negara yang tidak berdaulat adalah negara dan kekayaannya dapat dimiliki oleh kepentingan pribadi ataupun korporasi.

Oleh karena itu, sektor-sektor ekonomi seperti air (PAM ), listrik (PLN), telekomunikasi, kekayaan alam seperti minyak bumi, gas dan barang tambang lainnya harus dikuasai oleh negara untuk kepentingan rakyat dan tidak boleh dikuasai swasta sepenuhnya, karena itu merupakan tindakan monopoli.

Hayoo…… bersama kita bisa mencerdaskan bangsa.

Cisitu Lama , bandung

0064. TAUKAH ANDA LARANGAN NABI MUHAMMAD Shallallahu ‘alaihi wa sallam Mengenai “MENOLEH WAKTU SHALAT” dan MELIHAT KE LANGIT? Dan Hendaknya MELIHAT TEMPAT SUJUD (Kecuali waktu Attahiyat MELIHAT ARAH TELUNJUK).

Jum’at, 14 Juni 2019

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad keluarga dan sahabatnya. Aamiin

Kadang tidak disadari, diri kita, keluarga dan anak kita tidak mengetahui bahwa ada larangan yang fundamental ” Seperti MENOLEH Waktu Shalat”. Sholat adalah salah satu Ibadah yang sangat agung dan mulia, maka sudah sepatutnya kita untuk menyempurnakan-nya.

Dalil2 dari Hadist mengenai Larangan “Menoleh Waktu Shalat”

  1. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

لَا يَزَالُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ وَهُوَ فِي صَلَاتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ فَإِذَا الْتَفَتَ انْصَرَفَ عَنْهُ

Allâh senantiasa berada di hadapan seorang hamba ketika ia sedang shalat, selama ia tidak menoleh. Jika ia menoleh, maka Allâh berpaling darinya. [HR Abu Dawud, no. 909].

  1. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan aku dengan tiga perkara dan melarangku dari tiga perkara. Memerintahkan aku untuk melakukan shalat dhuha dua raka’at setiap hari, witir sebelum tidur, dan puasa tiga hari dari setiap bulan. Melarangku dari mematuk seperti patukan ayam jantan, duduk iq’â seperti duduk iq’â anjing, dan menoleh sebagaimana musang menoleh”.
  2. Telah bercerita kepada kami Al Hasan bin ar-Rabi’ telah bercerita kepada kami Abu Al Ahwash dari Asy’ats dari bapaknya dari Masruq berkata, ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seseorang yang menoleh ketika sedang shalat maka Beliau bersabda: “Itu adalah sambaran yang sangat cepat yang dilakukan oleh setan terhadap shalatnya seseorang dari kalian” (Shahih Bukhori).
  3. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda“Jikalau kalian melaksanakan shalat maka janganlah menoleh, karena Allah menghadapkan wajahNya kearah wajah hambaNya di dalam shalatnya selagi tidak menoleh” [Dishahihkan oleh syaikh al Baniy dalam shahih targhib wa tarhib:1498 dan shahih jami’ ash shaghir:2604]
  4. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika ditanya tentang orang yang menoleh dalam shalatnya Beliau mengatakan:” Ia merupakan copetan dengan cepat yang setan mencopet dari shalat seorang hamba” [H.R.Bukhari:751]
  5. “Seorang yang shalat apabila berpaling kearah kanan atau kiri, maka di saat itu setan mendapatkan kemenangan dan memalingkannya dari menunaikan peribadatan. Bahkan, kadangkala seseorang menjadi lupa atau salah karena hatinya tidak ikut hadir bersamanya dan tersibukkan dengan sesuatu yang bukan menjadi tujuannya” [Syarah Sunan Abu Dawud 4/134]
  6. Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata, “Perumpamaan orang yang menoleh di dalam shalatnya dengan pandangan matanya atau hatinya (ialah) seperti seseorang yang dipanggil oleh seorang raja. Raja tersebut mendudukkan orang itu di hadapannya, mulai menyerunya, dan berbicara kepadanya. Namun pada saat itu orang tersebut menoleh ke arah kanan dan kiri dari sang raja. Hatinya juga berpaling dari sang raja, sehingga ia tidak memahami pembicaraan sang raja. Maka apakah perkiraan orang itu terhadap tindakan raja kepadanya. Bukankah tingkatan paling rendah, ia akan meninggalkan sang raja dalam keadaan dimurkai, dijauhkan darinya, dan jatuh martabatnya di hadapan sang raja?

Para ulama membagi bentuk menoleh ketika shalat menjadi 3:

  • Pertama, menoleh dengan gerakan seluruh badan atau sebagian besar badan ke arah selain kiblat. Untuk kasus ini shalatnya batal. Karena bagian dari syarat sah shalat adalah menghadap kiblat, dan tindakan semacam ini dianggap melanggar syarat tersebut.
  • Kedua, menoleh hanya dengan gerakan kepala dan mata (melirik). Sementara anggota badan lainnya tetap menghadap kiblat. Menoleh semacam ini hukumnya makruh dan bisa mengurangi pahala shalatnya, hanya saja shalatnya sah dan tidak batal.
  • Ketiga, menoleh hati, Menoleh yang ketiga bukan menoleh fisik, tapi menoleh konsentrasinya. Seseorang shalat sementara dia tidak khusyu dalam shalatnya. Pikirannya sibuk dengan berbagai rekaman peristiwa dan angan-angan yang dia rencanakan. Dan menoleh hati mengurangi kekhusyuan dan tidak sempurnanya pahala shalat

Dalil2 dari Hadist mengenai Larangan “melihat ke langit/ ke atas ketika shalat”

  1. Hadits Jabir bin Samurah bahwa Rasulullah bersabda:“Hendaklah orang-orang itu sungguh-sungguh menghentikan untuk mengangkat pandangan mereka ke langit ketika dalam keadaan shalat, atau (bila mereka tidak menghentikannya) pandangan mereka itu tidak akan kembali kepada mereka.” Dalam satu riwayat: Atau sungguh-sungguh akan disambar pandangan-pandangan mereka.” (HR. Muslim no. 965, 966). Kata Al-Imam An-Nawawi t, “Hadits ini menunjukkan larangan yang ditekankan dan ancaman yang keras dalam masalah tersebut.” (Al-Minhaj, 4/37)
  2. Semula dalam shalatnya Rasulullah n mengangkat pandangannya ke langit. Lalu turunlah ayat: “(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalat mereka.” (Al-Mu’minun: 2), Beliau pun menundukkan kepala beliau. (HR. Al-Hakim 2/393. Al-Imam Al-Albani t mengatakan bahwa hadits ini di atas syarat Muslim, lihat Ashlu Shifah1/230). AisyahREodiallohu anha berkata: “Rasulullah n masuk Ka’bah (untuk mengerjakan shalat, pen.) dalam keadaan pandangan beliau tidak meninggalkan tempat sujudnya (terus mengarah ke tempat sujud) sampai beliau keluar dari Ka’bah.” (HR. Al-Hakim 1/479 dan Al-Baihaqi 5/158. Kata Al-Hakim, “Shahih di atas syarat Syaikhan.” Hal ini disepakati Adz-Dzahabi. Hadits ini seperti yang dikatakan keduanya, kata Al-Imam Albani t. Lihat Ashlu Shifah 1/232)

Dalil2 dari Hadist mengenai Melihat Arah Telunjuk Waktu Shalat”

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya dan beliau berisyarat dengan jari telunjuk ke arah kiblat, serta mengarahkan pandangan mata kepadanya (telunjuk itu). (HR. an-Nasai 1160, Ibn Hibban 5/274, Ibn Khuzaimah 719. Al-A’dzami mengatakan: Sanadnya shahih)

Referensi;

Cisitu Lama, Bandung

0063. “WAHAI…. PARA PEMIMPIN …..PERBAIKILAH MASYARAKAT DAN NEGARA INI DENGAN CINTA DAN KASIH SAYANG”

Selasa, 11 Juni 2019

Masayarakat dan Negara…., betapapun kebobrokan, bagaimanapun kerusakanya, seberapa banyak pun kesalahan kesalahan-nya, maka demi Alloh, kesalahan kesalahan ini tidak akan hilang dan kerusakan kerusakan ini tidak mungkin terhapus dari nya, kecuali dengan menggunakan motif fundamental yang dapat meresap ke setiap hati seluruh individu masyarakat  (Negara) ini, yaitu tidak lain adalah CINTA DAN KASIH SAYANG.

Kekuatan cinta dan kasih sayang mengalahkan kebencian, mengikis permusuhan dan meredakan konflik. Begitu dahsyat arti cinta dan kasih sayang. Cinta itu buta dan menggiring orang untuk melalukan apapun sesuai kemauan yang dicintainya. Kasih sayang adalah rahmat yang luar biasa yang diberikan Alloh kepada manusia.

Cinta dan kasih sayang adalah sebuah kenikmatan yang dirasakan manusia di dunia. Dengan adanya rasa cinta dan kasih sayang, tercipta kepedulian, kedamaian dan rasa empati kepada orang lain. Tidak hanya itu, cinta dan kasih sayang bisa mendorong manusia untuk membantu meringankan penderitaan yang dialami oleh manusia lainnya. Tanpa adanya rasa cinta dan kasih sayang, mungkin manusia akan menjadi sangat individualistis, egois dan tidak memikirkan kepentingan orang lain

Dengan Cinta dan kasih sayang, kita semua bergerak dalam ranah amar makruf dan nahi mungkar. Dengan Cinta dan kasih sayang, kita semua akan marah untuk kehormatan kehormatan Alloh yang dinodai. Dengan Cinta dan kasih sayang, jika kita semua disakiti dijalan Alloh Swt, kita semua akan mampu bersabar dan bersabar. Dengan Cinta, jika kita menyaksikan orang yang mengucilkan kita, karena kita berjalan dijalan hidayah, maka kita mampu mengangkat tangan seraya berdoa : “Ya Alloh , ini adalah saudaraku dan saudara kita. Dia tidak mengetahui”. “Seandai-nya ia tahu, niscaya ia tidak akan bersikap demikian kepada kita.”

Dengan Cinta dan kasih sayang, saudara saudaraku, kita sebagai para Da’i yang mengajak manusia kepada Alloh SWT, Kita akan mampu menghadapi orang orang yang jahil, menyimpang, dan menjahui dari jalan lurus layaknya seorang dokter bagi orang yang sakit. Dan demi Alloh, sama sekali tidak akan berhasil upaya seorang Dokter mengobati pasien-nya, kecuali jika ia mengobati pasien-nya itu dengan motif rasa balas kasih kepadanya, dengan motif rasa sayang kepadanya.

Kita semua mengetahui fakta ini. Seorang Da’i yang mengajak kepada Alloh Swt, wahai saudara sekalian, adalah dokter. Tetapi dokter seperti apa? Ulama adalah Dokter, Tapi dokter apa? Dokter yang ditugaskan Alloh Swt untuk mengobati hati dan jiwa dan membersihkan-nya dari segala kotoran-nya, dokter ini tidak akan bisa bekerja kecuali jika didorong dengan dorongan Cinta dan kasih sayang kepada pasien-nya. Orang sakit dalam kontek ini adalah pelaku penyimpangan, pelaku kefasikan dan pelaku pembelotan dari jalan Alloh Swt, bagaimanapun tingkatan-nya, dan dari golongan manapun ia berasal.

Saudara saudaraku semua , saya dan kita semua merasakan kepedihan karena kita tidak memahami hakekat cinta dan kasih sayang ini, atau sering kali kita tidak memahaminya. Bahkan persoalan telah membawa kita pada tingkatan dimana sebagian kita mengira bahwa yang menjadi tolok ukur kepedulian terhadap kehormatan kehormatan Alloh Swt, dan yang menjadi ukuran komitmen terhadap agama Alloh Swt adalah penuhnya hati dengan kebencian, kedengkian, dan kemarahan terhadap setiap pelaku kesesatan dan pelaku kerusakan, dan pelaku penyimpangan dari jalan Alloh Swt.

Baiklah,…… anggap saja sikap seperti itu diperlukan. Tapi saya ingin kita mengukur persoalan ini dengan akal. Jika saya (Kita) harus menerapkan sikap seperti ini terhadap orang tersebut, yaitu dengan memasang tirai antara saya (Kita) dan dia yang berupa kebencian dan kedengkian ini, lalu kapan saya (Kita) dapat berbicara dengan-nya? Bagaimana saya mampu membetangkan jembatan menyambungkan komunikasi antara saya (Kita) dan dia? Dan bagaimana mungkin dia mau mendengarkan saya (Kita), sementara dia mencium aroma kedengkian yang membucah dari hati saya (Kita) dan juga menyaksikan-nya?

Bagaimana caranya agar ia mempercayai kata kata saya (Kita), saat saya (Kita) menasehatinya, atau agar ia terpengaruh oleh pembicaraan saat jika saya (Kita) mengingatkan-nya? Tidak ada cara sama sekali! Hendaklah kita jujur terhadap diri kita sendiri. Hendaknya kita jujur terhadap saudara saudara kita semua. Dalam kondisi seperti ini, sungguh kita bertindak atas dasar ke egoan diri, bukan atas dasar kepedulian kepada agama Alloh Swt.

Islam adalah agama yang sejak keberadaannya selalu menebarkan cinta dan kasih sayang di muka bumi. Dalam surat At Taubah ayat 128, Allah subhanahu wa ta’alah berfirman, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. Dari ayat tersebut kita bisa mengetahui bahwa Islam sendiri diturunkan dengan penuh kasih sayang kepada semua umat manusia.

Untuk mengungkapkan rasa cinta dan kasih sayang dalam Islam juga telah diatur dengan mengikuti ajaran yang telah dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bentuk kasih sayang ini dibungkus dengan iman. Hal ini tercermin dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri”.

Untuk mewujudkan rasa cinta dan kasih sayang dalam Islam, manusia diajarkan untuk melakukan perbuatan yang nyata. Cinta dan kasih sayang kepada manusia lain bisa berbentuk perbuatan tolong menolong, menjaga silaturahmi, meringankan beban dan kesulitan orang lain, mengajak orang lain ke jalan Allah, menjaga kedamaian dan lain sebagainya. Sementara itu, cinta dan kasih sayang kepada makhluk lain dan lingkungan bisa berupa menjaga kebersihan, keasrian, dan kelestarian lingkungan. Maka, cinta dan kasih sayang dalam Islam dapat terwujud sepanjang waktu, sepanjang usia manusia tersebut hidup di bumi.

Hai para PEMIMPIN, perbaiki dan ajarkan kepada masyarakat dengan rasa Cinta dan kasih sayang. Jika ada masyarakat yang menyimpang atau salah atau keliru dalam bermasyarakat dan bernegara….. dengan rasa cinta dan kasih sayang, datangi dan dengarkan apa masalah-nya dan berikan ruang untuk berdialog untuk jalan solusinya……. jelaskan sejelas jelasnya mengenai persolalan yang terjadi (Apa, kenapa, bagaimana, dll)…… janganlah malah ditangkap dan disakiti/didzalimi, dipenjara, apalagi dibunuh!!! Naudzubillahi mindalik……

Sadarlah….. wahai para Pemimpin……. Semoga Alloh memberikan kelapangan, memberi pentujuk dan hidayah dan keridhoan dalam kepemimpinan-mu. Sehingga Negara ini  menjadi aman, damai, adil dan makmur. Aamiin

Cisitu lama bandung

0062. “9 KEUTAMAAN & KEAGUNGAN IBADAH SHALAT” (1. Mencegah perbuatan keji dan mungkar, 2. Lebih besar keutamaan-nya dari ibadah yang yang lainya, 3. Penyejuk hati dan penghibur jiwa, 4. Penolong manusia terkait urusan agama dan dunia, 5. Memasukkannya ke dalam surga, 6. mendapatkan cahaya+petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat, 7. Penggugur atas dosa-dosa kecil dan membersihkan kesalahan, 8. Penghubung paling kuat antara hamba dengan Rabb-nya, 9. Sebagai tiang Agama)

Ahad, 09 Juni 2019

Kedudukan Shalat dalam Islam adalah sangat penting, sangat mulia dan sangat agung. 

  • Shalat adalah pembeda antara orang islam dan orang kafir,
  • Shalat juga merupakan tiang agama (Islam seseorang tidaklah tegak kecuali dengan shalat (HR. Tirmidzi no. 2616).
  • Perkara terakhir yang hilang dari manusia adalah shalat (HR. Al Hakim At Tirmidzi dan disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 2: 353) + (HR. Ahmad 5: 251. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid).
  • Shalat adalah akhir wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Ahmad 6: 290. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).
  • Allah memuji orang yang mengerjakan shalat (QS. Maryam: 54-55).
  • Allah mencela orang yang melalaikan dan malas-malasan dalam menunaikan shalat (QS. Maryam: 59 + QS. An Nisa’: 142).
  • Rukun Islam yang paling utama setelah dua kalimat syahadat adalah shalat (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16).
  • Shalat diwajibkan tanpa perantara Jibril ‘alaihis salam. Tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang langsung mendapatkan perintah shalat ketika beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj. Awalnya shalat diwajibkan sebanyak 50 shalat. Ini menunjukkan bahwa Allah amat menyukai ibadah shalat tersebut. Kemudian Allah memperingan bagi hamba-Nya hingga menjadi 5 waktu dalam sehari semalam. Akan tetapi, tetap saja shalat tersebut dihitung dalam timbangan sebanyak 50 shalat, walaupun dalam amalan hanyalah 5 waktu. Ini sudah menunjukkan mulianya kedudukan shalat.
  • Allah membuka amalan seorang muslim dengan shalat dan mengakhirinya pula dengan shalat (Ini juga yang menunjukkan ditekankannya amalan shalat (QS. Al Mu’minun: 1-9)).
  • Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya untuk memerintahkan keluarga mereka supaya menunaikan shalat((QS. Thaha: 132).
  • Semenjak anak-anak sudah diperintahkan shalat dan boleh dipukul jika tidak shalat pada waktu berumur 10 tahun. Perintah shalat ini tidak ditemukan pada amalan lainnya, sekaligus hal ini menunjukkan mulianya ibadah shalat (HR. Abu Daud no. 495. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
  • Siapa yang tertidur atau lupa dari shalat, maka hendaklah ia mengqodhonya. Ini sudah menunjukkan kemuliaan shalat lima waktu karena mesti diganti (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684).

Doa Nabi Ibrahim, agar dirinya dan keturunan-nya menjadiorang yang istikomah mendirikan ibadah sholat

  • ” QS Ibrahim Ayat 40. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku”

Dalil2 Ke-Utamaan dan Ke-Agungan Ibadah Sholat.

  1. QS Al Ankabuut Ayat 45, “.إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ …………. dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.
  2. QS Al Ankabuut Ayat 45, “………Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain)…… Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

  1. Allah Ta’ala berfirman, وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al-Baqarah [2]: 45), Juga Diriwayatkan dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ، صَلَّى “Dulu jika ada perkara yang menyusahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendirikan shalat.” (HR. Abu Dawud no. 1420, hadits hasan)
  2. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ “Dijadikan kesenanganku dari dunia berupa wanita dan minyak wangi. Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam ibadah shalat.” (HR. An-Nasa’i no. 3391 dan Ahmad 3: 128, shahih)

قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ “Wahai Bilal, berdirilah. Nyamankanlah kami dengan mendirikan shalat.” (HR. Abu Dawud no. 4985, shahih)

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللَّهُ عَلَى الْعِبَادِ، فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ لَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ، كَانَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ، وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ عَهْدٌ، إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ، وَإِنْ شَاءَ أَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ “Lima shalat yang telah Allah Ta’ala wajibkan kepada para hamba-Nya. Siapa saja yang mendirikannya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun darinya karena meremehkan haknya, maka dia memiliki perjanjian dengan Allah Ta’ala untuk memasukkannya ke dalam surga. Sedangkan siapa saja yang tidak mendirikannya, dia tidak memiliki perjanjian dengan Allah Ta’ala. Jika Allah menghendaki, Dia akan Menyiksanya. Dan jika Allah Menghendaki, Allah akan memasukkan ke dalam surga.” (HR. Abu Dawud no. 1420, An-Nasa’i no. 426 dan Ibnu Majah no. 1401, shahih)

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, وَالصَّلَاةُ نُورٌ

“Shalat adalah cahaya.” (HR. Muslim no. 223), Yaitu cahaya dalam hati, wajah, cahaya di alam kubur dan cahaya pada hari kiamat. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang shalat pada suatu hari, kemudian berkata,

مَنْ حَافَظَ عَلَيْهَا كَانَتْ لَهُ نُورًا، وَبُرْهَانًا، وَنَجَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ

“Siapa saja yang menjaga shalat maka dia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari kiamat. Sedangkan siapa saja yang tidak menjaga shalat, dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan. Dan pada hari kiamat nanti, dia akan dikumpulkan bersama dengan Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad 2: 169 dengan sanad yang hasan)

  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ، هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ؟

“Bagaimana pendapatmu jika di depan pintu rumahmu ada sungai, lalu Engkau mandi sehari lima kali? Apakah tersisa kotoran di badannya?” Para sahabat menjawab, لَا يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ

“Tidak akan tersisa kotoran sedikit pun di badannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ، يَمْحُو اللهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

“Itu adalah permisalan untuk shalat lima waktu. Dengan shalat lima waktu, Allah Ta’ala menghapus dosa-dosa (kecil).” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الصَّلَاةُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ، مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke shalat Jum’at berikutnya, adalah penggugur dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar ditinggalkan.” (HR. Muslim no. 233)

  1. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku membagi shalat (yaitu surat Al-Fatihah, pent.) untuk-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Dan untuk hamba-Ku sesuai dengan apa yang dia minta.”

فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي

Ketika hamba berkata (yang artinya), “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memujiku.”

وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي

Ketika hamba berkata (yang artinya), “Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku menyanjungku.” (sanjungan yaitu pujian yang berulang-ulang, pent.)

وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} ، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي

Ketika hamba berkata (yang artinya), “Yang menguasai hari pembalasan”; Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-Ku memuliakanku.” Dan terkadang Allah berfirman, “Hamba-Ku memasrahkankan urusannya kepada-Ku.”

فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Ketika hamba berkata (yang artinya), “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan”; Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku. Dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.”

فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ

Dan ketika hamba berkata (yang artinya), “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”; Allah Ta’ala berfirman, “Ini adalah untuk hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku sesuai apa yang dia minta.” (HR. Muslim no. 395)

  1. Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Hayoo….. Kita mulai semangat untuk memperbaiki diri dan keluarga kita dalam melakukan dan mendirikan ibadah “Sholat”, mudah2an Alloh Ridho. Aamiin

Cisitu Lama I, Bandung

0061. PUISI-KU TENTANG PEMILU 2019 “RUBUH-NYA KEBENARAN DAN KEADILAN”

Sabtu, 08 Juni 2019,

Tidak di nyana, tidak disangka, begitu mudahnya “Demokrasi” yang dipilih oleh manusia yang katanya “Pilihan” yang terbaik pada abad ini bisa terjerambab jatuh dan tak bernilai sama sekali hanya karena “Nafsu Serakah Sebagian Manusia” atau keinginan untuk berkuasa terus dengan jalan yang tidak “Halal”.

Setiap penguasa ingin mempertahankan kekuasaan-nya, dengan cara apapun baik dengan cara yang baik ataupun cara yang jelek sampai dengan cara yang sadis-pun ditempuh;

  • (Cara yang baik : Saling berlomba dalam kebaikan, amal sholeh, Keadilan, kebenaran, Kejujuran, Adu misi visi dan program, Pemerataan Pembangunan, Peningkatan Pendidikan+Kesehatan+Pertanian+Peternakan+Politik dan Hukum Yang sehat, Pemberantasan Korupsi, Narkoba, Miras, Judi, Peningkatan Keagamaan (Indahnya keberagaman + kebersamaan, Pemberdayaan ZIS, Shalat +Dzikir Berjamaah, Pengajian Nasional, dll)
  • (Cara yang Jelek dan Sadis : Saling Berebut dengan kasar dan menjatuhkan, Saling Berkhianat, Saling membunuh dan mematikan, Saling mendholimi, Saling Mengadu Domba, Saling menyakiti, Saling mencela, Saling Mencurangi. saling Mengancam, Dll)

Sebagai orang awam, Saya melihat Pemilu 2019 kali ini “Penyelengaraan-nya” adalah Paling Jelek dan Paling Sadis dan tidak bermoral artinya tidak etis sama sekali jika dilakukan oleh orang2 yang sudah berpendidikan Tinggi, sudah berdemokrasi berpancasila, sudah berbhineka tunggal ika, sudah Ber”NKRI harga Mati”, Sudah Ber”Indonesia”, Sudah ber”Keadilan, Sudah Berikrar dan Berjanji sebagai “Pemimpin atau Penguasa”, Sudah ber “Politik Benar”, dan dilakukan dengan “Paras Muka Dingin Tanpa merasa Salah Sedikitpun” dan dilakukan dengan Cara “KASAR”.

Tidak bisa dipungkiri, Pemilu 2019, terjadi banyak kesalahan, kecurangan dan pemaksaan kehendak dari para politikus penguasa (Lihat Keputusan Bawaslu tentang pengaduan kecurangan BPN 02, Banyaknya pegawai KPPS yang meninggal, You Tube, TiVi, Instagram, Face Book, Radio internet, Dll), biarpun Penguasa mendustakan-nya bahkan membungkam-nya.

Pedih, perih, dan membara dalam dada, Tak sanggup menerima derita bangsa, Betapa malu pilu berjuta rasa, Penipuan dan pengkhianatan didepan mata,

Hai…. Penguasa,,,,,, sebelum berkuasa, kamu selalu bilang di dzolimi, di khianati, di pinggirkan, disakiti, di bungkam bahkan di bunuh, Namun SETELAH kamu berkuasa, kenapa kamu mendzolimi?????, kenapa kamu menyakiti??? kenapa kamu mengkhianati???, kenapa kamu membungkam kami???? Jawab………. Hayoo Jawab……

Sudah hilang rasa malu-mu????? kamu haus akan kekuasaan??? kamu menghalalkan segala cara??? Licik, Culas, berdarah dingin, berkerah putih, tamak dan rakus terhadap harta dan kekayaan, dan ingin hidup 1000 tahun????? Dungu terhadap kebenaran???…. Benarkah…??? hayooo jawab……….. jika tidak benar…… kenapa kamu lakukan “Kecurangan itu”?????

Di media, di partai-mu, di kantormu, dirumah-mu, di lingkungan-mu…. kamu selalu menggaungkan “Kebersamaan, Kejujuran, Kebenaran, Saling menghargai, Kebhinekaan, NKRI harga mati, kedamaian, keadilan, kemajemukan, Persatuan…… Namun kenyataanya kamu melakukan “Kecurangan Sejatiiii”…. yang menghancurkan bangsa dengan menggaungkan Isu-Isu radikalisme, Kekerasan, dan intimidasi Rasis, Dll.

Ngomong orang lain radikal tapi dia sendiri radikal………..?? Ngomong NKRI Harga Mati tapi dengan Kecurangan Pemilu-mu ini malah bisa menyebabkan NKRI Harga Mati ternodai… Ngomong saling menghargai….. namun pemilu-mu tidak menghargai beda pilihan……….. Lucu banget !!!!…………Katanya Orang2 yang hebat dan Pintar…… tapi masih MEMBODOHI DAN MENCURANGI rakyat….. terus hebat dan Pintar-nya dimana? Mengaku berjuang dan sok jadi pahlawan padahal jauh dari kenyataan……..

Jaman-nya Kebalik….. Pintar bersandiwara dimedia,  Berbuat sedikit ditulis berbuat banyak, katanya Anti korupsi tapi tidak malu masih banyak para pejabat yang dipimpin-nya melakukan korupsi dan belum bisa mencegah korupsi…… bahkan masih ada dipemilu 2019 ini Partai yang dulu-nya  menggaungkan Anti Korupsi, tapi setelah berkuasa “Menterinya dan Anggota Partainya Banyak Berkorupsi” tapi sampai sekarang masih bangga dengan partai tersebut dan tidak pernah merasa bersalah dengan “Partai-nya yang Korupsi itu”………. Mungkin Malu-nya sudah hilang??? Tapi yang saya binggung… kenapa masyarakat masih memilih Partai tersebut??? karena masyarakat juga sudah hilang rasa malunya kali???? ya….jaman sekarang ….. koruptor yang banyak harta dan uang-nya masih menjadi pilihan masyarakat???? itulah masyarakat indonesia yang sudah dilatih budaya korupsi abadi, susah untuk menjauhi lingkungan koruptor….. Katanya masyarakat Agamis……. Tapi berperilaku Non Agamis………???? terus orang beragamanya dimana??

Akhirnya ku ingatkan diriku dan dirimu bahwa duka dan lara Kita, adalah sebagai penebus dosa, Hai… para pemimpin dan penguasa……..Jika kalian bersalah bertobatlah, jika ingin negara ini adil makmur aman sentosa……. jangan ulangi kesalahan ini!!!! Alloh akan murka. Lihat Firman Alloh dalam Alquran berikut ini ” Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (Al Israa – Ayat 16).

Cisitu Lama Bandung