0060. 7 (Tujuh) Indikator Kebahagiaan Dunia menurut sahabat Rosullulloh Abdullah Ibnu Abbas, antara lain; 1. Hati yang selalu bersyukur (Qolbun Syakirun), 2. Pasangan hidup yang sholeh/sholihah (Al Azwaju Shalihah), 3. Anak yang sholeh/sholihah (Al Auladun Abrar), 4. Lingkungan yang kondusif untuk iman kita (Al Biatu Sholihah), 5. Harta yang halal (Al Malul Halal), 6. Semangat untuk memahami agama (Tafakuh Fidien), 7. Umur yang barokah (Barakatun Fii Umuurika).

Sabtu, 18 Mei 2019,

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad keluarga dan sahabatnya.

Kebahagiaan adalah dambaan semua orang, namun kebahagiaan seseorang nilai dan standartnya sangatlah variatif. Kebahagiaan tidak bisa dinilai dengan banyaknya harta benda, banyaknya anak, tinggi dan banyaknya jabatan yang disandang,  banyaknya sertifikat yang ia miliki. Dalam islam kebahagiaan, letaknya dalam hati. Jika sesorang sudah merasa cukup atau merasa puas dengan dengan rizki yang diberikan Alloh kepadanya, dan dia tidak enggan melalukan amal sholeh dengan menyedekahkan kepada orang yang membutuhkan itulah orang yang mendapatkan kebahagian yang hakiki. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih dan dia enggan beramal sholeh seperti zakat, infak dan sedekah. Rasullulloh bersabda, “Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051). Menurut Abdullah Ibnu Abbas (Sahabat Rosullulloh) ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun Syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Betapa Indah dan senangnya jika seseorang memiliki hati atau jiwa yang selalu bersyukur. Memiliki hati atau jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah),sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat yang hakiki bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :”Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

  1. Tanda orang kurang atau tidak bersyukur; Sulit Berterimaksih, Lalai dalam beribadah, Sering dan mudah mengeluh, Iri dan Dengki, Merasa Miskin dan Tidak bisa berbuat apa apa, Sedih berlarut, Malas, Bakhil
  2. Cara mudah agar hati bisa mensyukuri banyak nikmat yang tersembunyi yang sudah kita dapatkan antara lain: Tengoklah kehidupan orang orang cacat, panti jompo, Kunjungi orang2 yang sakit kangker, dan penyakit berat lainya, anak yatim piyatu, Gelandangan, brokenhome, Lihatlah film2 yang menyedihkan butuh ketabahan dan kesabaran (Perang, penyiksaan atau genocida, pembantaian, Sunami, Orang yang melahirkan, orang yang operasi, Kunjungi tempat2 pengungsian, perang, pengeboman, dareah kumuh, pelacuran, Dareah kena Gempa dan Sunami, Bersabatlah dan kunjungi  dengan orang2 kecil, orang2 miskin, panti yatim, dll
  3. Cara Mudah Bersyukur; Berdzikir, Berdoa, Mengucapkan Hamdalah (Pujian kepada Alloh) dan Terimaksih (Kepada Manusia), Sholat Dhuha, Syukuran dengan sedekah makanan, Selalu Tersenyum, Melaksanakan ZIS, Menjaga kelestarian alam, tidak menebang pohon sembarangan atau membakar hutan.

Kedua. Al Azwaju Shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Rasullulloh Bersabda: “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholihah.”(HR. Muslim).  Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga)akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh,akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

  1. Cara Mendapatkan Pasangan yang Sholeh; Berniat untuk mendapatkan pasangan yang sholeh, ”Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim), Sholihkan diri kita masing masing. Firman Alloh “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji,laki-laki yang keji untuk wanita yang keji pula.wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik,dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik pula (QS An Nur Ayat 26).
  2. Ciri2 Pasangan Sholeh antara lain; Kuat Amalan Agamanya dan Bagus Akhlaknya, Penyantun dan Pengayom, Berwibawa dan Pemurah, Ksatria di Luar Namun Lemah Lembut saat Berada di Tengah Keluarga, Tegas Mempertahankan Jati Dirinya dan Kuat Pendirian, Bersikap Sabar dan Pemaaf, Selalu Menetapi Janji, Bersikap Amanah, Mampu Memimpin dan Mendidik Anak serta Istri, Dapat Menjaga Perilakunya di Dalam dan Di Luar Rumah dengan Baik, Tidak Boros Serta Bakhil, Bermanfaat buat orang lain, Saling Membantu, Saling menghargai dan saling menghormati, Saling membahagiakan.

Ketiga, Al Auladun Abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf RasulullahSAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibuyang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat,ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?”Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakkuketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

  1. Ciri anak Sholeh;
    1. Taat kepada Allah SWT dan Rasulnya,
    2. Berbakti kepada Orang tua,
    3. Hormat terhadap yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, yaitu tidak membenci atau menghina sesama teman walau berbeda suku, agama, dan warna kulit, berbicara dengan santun,
    4. Bersyukur atas segala kasih sayang yang diberikan orang tua, tidak menggerutu atau menuntut sama dengan orang lain,
    5. Saling memaafkan ketika berbuat salah, pokoknya jangan mengingat kesalahan orang lain tetapi ingatlah segala kebaikannya.
    6. Memberikan hadiah pada orang tua tidak hanya dengan sebuah barang, perhatian, cinta, dan prestasi adalah hadiah terindah
  2. Bagaimana membuat anak menjadi sholeh
    1. Berikan teladan dan Contoh yang Baik
    2. Ciptakan Suasana Islami Melalui Pendidikan dan Pergaulan
    3. Biasakan Membangunkan Anak Pada Waktu Subuh
    4. Ajarkan Si Kecil Untuk Selalu Membawa Peralatan Shalat
    5. Ajak Anak Berwisata Islami
    6. Kenalkan Batasan Aurat Pada Anak Sejak Mereka Kecil

Keempat, Albiatu Sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, Kondusif dalam lingkungan KERJA, lingkungan SEKOLAH, lingkungan RUMAH, lingkungan KELUARGA dan lingkungan2 lainya yang berhubungan dengan kehidupan bermuamalah, beribadah dan bersosial kita. Kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.Berbahagialah orang-orang  yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

  1. Ciri Lingkungan yang kondusif antara lain
    1. Bersih, Sederhana, Tidak ada patung, Design Rumah Sesuai Syariat, Teduh dan Menenangkan, Tidak ada anjing atau yang berkeliaran dimana mana
    2. Hidupnya Kegiatan Masjid; Adzan, Dzikir, Tholabul Ilmi
    3. Hidupnya sekolah islam; berhijab; dll
    4. Hidupnya bisnis syar’i
    5. Tidak ada penjual Minuman keras, narkoba dll
    6. Tidak ada Judi, Sex Bebas, LGBT dll

Kelima, Al Malul Halal, atau harta yang halal.

“Sesungguhnya Allah Maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baik…” (HR. Bukhari Muslim). HADIST ini menjelaskan bahwa harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah. Ia tidak harus banyak. Sedikit tapi berkah lebih baik daripada yang banyak tetapi tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal. Karena Allah tidak mungkin memberkahi harta yang haram . Firman Alloh “Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah Ayat 100). Secara mentalitas dan psikologis harta mampu memengaruhi hati manusia. Harta haram apapun bentuknya yang diperoleh dari hasil mencuri, merampok, menipu, korupsi, illegal loging, riba, suap dan lain sebaginya, hanya akan menuntun pemiliknya untuk menjadi rakus dan kejam. Mengalami kebutaan hari nurani karena tidak mampu lagi membedakan mana harta yang baik dan tidak baik. Hanya hewanlah yang berperilaku demikian, memakan apa saja yang ada di hadapannya tanpa peduli siapa pemilik dari makanan tersebut. Seorang yang terbiasa mengonsumsi harta haram jiwanya akan meronta-ronta. Merasa tidak tenang, tanpa diketahui sebabnya. Kegelisahan demi kegelisahan akan terus menyeretnya ke lembah yang semakin jauh dari Allah. Lama kelamaan ia tidak merasa lagi berdosa dengan kemaksiatan. Berkata bohong menjadi akhlaknya. Ia merasa tidak enak kalau tidak berbuat keji. Karenanya tidak mungkin harta haram -sedikit apalagi banyak- mengandung keberkahan. Allah sangat membenci harta haram dan pelakunya. Seorang yang terbiasa menikmati harta haram doanya tidak akan Allah terima: Rasulullah SAW pernah menceritakan bahwa ada seorang musafir, rambutnya kusut, pakaiannya kumal, menadahkan tangannya ke langit, memohon: “Yaa rabbi yaa rabbi, sementara pakaian dan makanannya haram, mana mungkin doanya diterima,” (HR. Muslim). Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Banyak hikmah yang dapat kita ambil dari berbagai kejadian dalam kehidupan yang menunjukan harta telah menjadi musibah dan ujian bagi pemiliknya. Amat sangat mudah bagi Allah mengambil apa saja yang ada pada diri kita. Sebab semua yang kita miliki hari ini adalah titipan Nya belaka. Tidak ada gunanya menyombongkan diri memiliki uang yang banyak, harta benda, kendaraan dan keturunan yang cantik karena bagi Allah semua adalah titipan dan sekaligus ujian. Dengan kehendaknya Allah dapat membuat seseorang yang kaya raya menjadi bangkrut dengan menimpakan sakit yang mematikan. Hartanya tak mampu membantu dan habis dengan sendirinya. Orang yang pamer kendaraan mendapat ujian kecelakaan atau kendaraan tersebut rusak tanpa diketahui sebabnya. Ataupun memiliki anak cantik tetapi perbuatannya memalukan keluarga.

Dari harta yang haram juga menyebabkan sedekahnya pun ditolak. Ibn Hibban terkait dengan hal ini meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Orang yang mendapatkan hartanya dengan cara haram, lalu ia bersedekah dengannya, ia tidak akan mendapat pahala dan dosanya tetap harus ia tanggung.” Imam Adz Dzahaby menambahkan dalam riwayat lain: “Bahwa harta tersebut kelak akan dikumpulkan lalu dilemparkan ke dalam neraka Jahannam.” Maka tidak ada jalan lain untuk meraih keberkahan kecuali hanya dengan merebut harta halal sekalipun sedikit dan nampak tidak berarti.

  • Ciri Ciri Harta Halal dan Berkah
    1. Menambah ketakwaan; Firman Allah dalam Surat Almaidah ayat 100, “Tidak sama yang buruk (harta yang haram) dengan yang baik (harta halal), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” Dalam ayat ini, setelah Allah menegaskan pentingnya kwalitas harta halal, Alalah Yang Maha Kaya lalu memerintahkan, untuk bertakwa, suatu indikasi bahwa tidak mungkin harta haram akan membantu mencapai ketakwaan. Semakin banyak rezeki diperoleh seseorang semakin ia tunduk kepada Allah. Tidak merasa sombong sebagaimana dilakukan Far’aun dan Qarun yang keduanya melakukan pembangkangan terhadap Allah dengan menganggap diri mereka Tuhan dan mendapatkan kekayaan atas jerih keringat sendiri tanpa bantuan Allah. Sebagai jawaban atas kedurhakaan itu, keduanya Allah musnahkan. Firaun dengn memiliki bala tentara yang banyak, harta yang melimpah, istana megah akhirnya dibenamkan kedalam luat merah bersama dengan armadanya. Sangat mudah bagi Allah hanya dengan membelah lautan. Adakalanya kita temukan seseorang yang melimpah harta tetapi tetap rajin datang shalat berjamaah, pandangannya tunduk kepada orang lain tanpa ada terlihat kesombongan. Kesehariannya sederhana jauh dari keborosan. Kendaraannya digunakan di jalan Allah, anak-anaknya beriman dan menjaga auratnya. Setiap waktunya zakatnya dikeluarkan dengan memberikan kepada fakir miskin, orang tidak mampu dengan memberdayakan mereka sehingga lebih mandiri. Menyantuni anak yatim dan membela hak-hak orang lemah.
    2. Memberikan rasa aman; Dalam surat Ibrahim ayat 24-26, Allah mengumpamakan setiap kebaikan (kalimatun tayyibah) termasuk di dalamnya harta halal dengan sebuah pohon yang kokoh, akarnya menghujam ke bumi, cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya setiap saat. Sebaliknya setiap keburukan (kalimatun khabitsah) termasuk harta haram, akan menjadi seperti pohon yang goyah, akarnya hanya melingkar dipermukaan bumi, tidak berbuah serta tidak memberikan rasa aman bagi siapa saja yang berteduh dibawahnya.
    3. Mengantarkan kapada amal shaleh; “Hai para rasul, makanlah yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah amal yang saleh,” (QS, 23:51). Perhatikan hubungan harta halal dengan amal saleh.
    4. Mendorong untuk bersyukur; Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah. Di sini tergambar bahwa hanya harta halal yang bisa membuat seorang hamba pandai bersyukur.

Keenam, Tafakuh Fidien, atau semangat untuk memahami agama.

Sesungguhnya mempelajari ilmu agama (tafaqquh fiddin) termasuk amalan yang paling utama dan termasuk  tanda kebaikan pada seseorang. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda; Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” (Muttafaqun ‘alaihi. Shahih Bukhari: 71 dan Shahih Muslim: 1037).

Karena dengan mendalami ilmu agama akan mengantarkan kita kepada ilmu yang bermanfaat, di mana setiap amalan shalih dibangun di atas ilmu.  Allah ta’ala berfirman : “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (QS. Al Fath: 28). Yang dimaksud dengan “huda” adalah ilmu yang bermanfaat dan “din al haq” adalah amal shalih. Allah ta’ala telah memerintahkan nabiNya untuk berdoa memohon tambahan ilmu, sebagaimana firmanNya, “ dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaha: 114). Al hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata : Firman Allah azza wa jalla sangat jelas menunjukkan tentang  keutamaan ilmu.

Karena Allah tidak pernah memerintahkan nabiNya untuk meminta (berdoa) atas tambahan sesuatu kecuali ilmu. Majelis yang  didalamnya dipelajari ilmu yang bermanfaat Rasulallah namakan dengan taman surga atau  “raudhatul jannah” dan mengatakan bahwa para ulama’nya  merupakan pewaris para nabi. Syarat diterimanya amalan ada dua yaitu sesuai dengan tuntunan syariat dan ikhlash.  Sedangkan untuk mengerjakan amalan supaya sesuai dengan tuntunan syaria’at dibutuhkan ilmu.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.Allah menjanjikan nikmat bagi umat- Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.Semangat memahami agama akan meng “hidup” kan hatinya, hati yang”hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dannikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, diantaranya:

  1. Pertama , rajin membaca kitab-kitab yang bermanfaat.
  2. Kedua, dekat dengan para ulama atau ahli ilmu. Sehingga kita dapat bertanya tentang masalah syariat apa yang tidak kita fahami. Dan juga kita dapat mengambil ilmu dari para ulama sehingga terhindar dari pemahaman yang salah.
  3. Ketiga, menghadiri majelis ilmu baik di masjid-masjid maupun yang selainnya. Kempat, mendengarkan ceramah lewat radio dan yang lainnya. Alhamdulillah sekarang sudah banyak mengudara radio-radio yang menyiarkan program-progam yang bermanfaat sehingga memudahkan kita mendengarkan ceramah dan yang lainnya di mana pun kita berada.

Jangan lupa wahai saudaraku, sesungguhnya ilmu itu tumbuh dan berkembang dengan amal. Kalau kita mengamalkan apa yang telah kita ketahui maka Allah akan menambah ilmu kita. Sebagaimana dikatakan dalam sebuah perkataan hikmah, “Barangsiapa mengamalkan apa-apa yang ia ketahui maka Allah menganugerahinya ilmu yang ia belum ketahui.”

Allah memuji para ulama yang mengamalkan ilmunya dan mengangkat derajat mereka. Allah ta’ala berfirman,“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar : 9) Dan juga firmanNya,”niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah:11)

Ketujuh, Barakatun Fii Umuurika yaitu umur yang baroqah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”. Menurut istilah, berkah (barokah) artinya ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan” (Imam Al-Ghazali, Ensiklopedia Tasawuf, hlm. 79). Para ulama juga menjelaskan makna berkah sebagai segala sesuatu yang banyak dan melimpah, mencakup berkah-berkah material dan spiritual, seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, anak, dan usia. Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti:(1) tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan (2) kebaikan yang berkesinambungan. Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah ialah “kebaikan yang banyak dan abadi”.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuksegera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Umur yang barokah tidak sama dengan usia yang panjang. Salah satu ciri umur yang barokah adalah tiap detik waktunya sangat berharga dan tidak ada yang sia-sia. Usianya banyak digunakan untuk beribadah pada Allah SWT, beramal dan berdakwah. Menebarkan manfaat kepada siapa saja. Bergaul dengan orang-orang yang shalih. Tidak ada waktu baginya kecuali amal, amal dan amal. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

  • Hidup yang barokah bukan hanya sehat, gagah, cantik dll tapi kadang sakit itu justru barokah sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya menambah taatnya kepada Alloh
  • Barokah itu tak selalu panjang umur, atau umur > dari 100 tahun, ada yang umurnya pendek tapi dahsyat taatnya layaknya Musab ibn Umair (40 tahun Meninggal di Medan Uhud).
  • Tanah yang barokah itu bukan karena mahal harganya, atau tempatnya strategis,  subur dan panoramanya indah, Tapi tanah yang membuahkan kebaikan dan ketaatan kepada Alloh, misalnya tanah yang diwakafkan untuk Masjid, Sekolah, Rumah sakit dll, (karena tanah yang tandus seperti Makkah punya keutamaan di hadapan Alloh tiada yang menandingi).
  • Makanan barokah itu bukan yang komposisi gizinya lengkap dan enak, tapi makanan itu mampu mendorong pemakannya menjadi lebih taat setelah makan.
  • Ilmu yang barokah itu bukan yang banyak riwayat dan catatan kakinya atau ilmu dari proffessor atau cendikiawan, tapi ilmu yang barokah ialah yang mampu menjadikan seorang meneteskan air mata, keringat dan darahnya dalam beramal sholeh dan berjuang untuk agama.
  • Penghasilan barokah juga bukan gaji yang besar dan bertambah, tapi sejauh mana ia bisa jadi jalan rizqi bagi yang lainnya dan semakin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan tersebut.
  • Anak-anak yang barokah bukanlah saat kecil mereka lucu dan imut atau setelah dewasa mereka sukses bergelar dan mempunyai pekerjaan dan jabatan hebat, tapi anak yang barokah ialah yang senantiasa taat kepada Rabb-Nya dan kelak di antara mereka ada yang lebih shalih dan tak henti-hentinya mendo’akan kedua Orang tuanya.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikatorkebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ?

Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa `sapu jagat’, yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut”Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “YaAllah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia “), mempunyai makna bahwakita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa filaakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah.Kebahagiaan akhirat itu adalah kasih saying Allah.

Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap haripuasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuksurga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh sayapun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya:”Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

Sumber tulisan: Ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc., Ditulis dan disarikan kembali oleh Rohmat Saputra Mahasiswa STID M.Natsir, Jakarta pusat,  August 24, 2006, Re-Edit kembali oleh Parsuwot

Cisitu Lama Bandung

0059. 8 Hewan yang oleh Hukum SYAR’I (Hadist) Yang Dibolehkan Untuk Di bunuh (Tikus, Kalajengking, Burung Rajawali, Burung Gagak, Anjing Galak, Cecak, Tokek, Ular Belang/Berekor Pendek) & 5 Hewan Yang DiLarang Untuk di Bunuh (Semut, Lebah, Burung Hud Hud, Burung Shurad, Katak).

13 Mei 2019,

Assalamualaikum…….Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad keluarga dan sahabatnya.
Mari kita belajar terus menerus mengenai ilmu agama (Syar’i) dalam hal Hewan/Binatang yang dibolehkan dan dilarang untuk membunuhnya.

  1. 8 Hewan yang boleh dibunuh (Tikus, Kalajengking, Burung Rajawali, Burung Gagak, Anjing Galak, Cecak, Tokek, Ular Belang atau Ular berekor Pendek)1
    • Shahih Bukhari No. 3067. Telah bercerita kepada kami Musaddad telah bercerita kepada kami Yazid bin Zurai’ telah bercerita kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari ‘Urwah dari ‘Aisyah Radliallahu ‘anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada lima jenis hewan fasiq (berbahaya) yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan anjing galak” . Note; dimaksud dengan “kalb aqur” sebenarnya bukan maksudnya untuk anjing semata, inilah yang dikatakan oleh mayoritas ulama. Namun sebenarnya kalb aqur yang dimaksudkan adalah setiap hewan yang pemangsa (penerkam) seperti binatang buas,macan, serigala, singa, dan lainnya. Inilah yang dikatakan oleh Zaid bin Aslam, Sufyan Ats Tsauri, Ibnu ‘Uyainah, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan selainnya.
    • Shahih Bukhari No. 3062. Telah bercerita kepada kami Shadaqah bin Al Fadlal telah mengabarkan kepada kami Ibnu ‘Uyaynah telah bercerita kepada kami ‘Abdul Hamid bin Jubair bin Syaibah dari Sa’id bin Al Musayyab bahwa Ummu Syarik mengabarkan kepadanya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cecak. Dari Ummu Syarik –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh cecak. Beliau bersabda, “Dahulu cecak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihis salam.” (HR. Bukhari no. 3359), Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membunuh cecak sekali pukul, maka dituliskan baginya pahala seratus kebaikan, dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Dan barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala lebih kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim no. 2240).
    • Sa’ad bin Abi Waqqosh, beliau mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membunuh tokek, beliau menyebut hewan ini dengan hewan yang fasik” (HR. Muslim no. 2238). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Shahih Muslim dengan judul Bab “Dianjurkannya membunuh cecak.”
    • Shohih Bukhori No. 3063. Telah bercerita kepada kami ‘Ubaid bin Isma’il telah bercerita kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari bapaknya dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bunuhlah ular-ular belang karena jenis ular ini dapat merabunkan penglihatan dan mengugurkan kandungan”. Hadits ini diikuti pula oleh Hammad bin Salamah dari Abu Usamah. 3054. Telah bercerita kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad telah bercerita kepada kami Hisyam bin Yusuf telah bercerita kepada kami Ma’mar dari Az Zuhriy dari Salim dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang menyampaikan khathbah di atas mimbar bersabda: “Bunuhlah ular-ular dan (terutama) bunuhlah ular belang (bergaris putih pada punggungnya) dan ular yang ekornya pendek (putus) karena kedua jenis ular ini dapat merabunkan pandangan dan menyebabkan keguguran (janin) “. ‘Abdullah berkata; “Ketika aku mencari ular untuk membunuhnya, Abu Lubabah memanggilku; dan berkata; “Jangan kamu bunuh”. Aku katakan; “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan untuk membunuh ular-ular”. Dia berkata; ” Beliau setelah itu melarang membunuh ular-ular yang tinggal di rumah, yaitu yang disebut al-‘awamir (ular yang lama berdiam di rumah manusia). Dan ‘Abdur Razaq berkata dari Ma’mar; “Maka Abu Lubabah atau Zaid bin Al Khaththab melihatku” (redaksi dengan riwayat lain dari memanggilku). Hadits ini juga diikuti oleh Yunus, Ibnu ‘Uyaynah, Ishaq Al Kalbiy dan Az Zubaidiy. Dan berkata Shalih, Ibnu Abi hafshah dan Ibnu Mujammi’ dari Az Zuhriy dari Salim dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma; “Maka Abu Lubabah atau Zaid bin Al Khaththab melihatku”
  2. 5 Hewan Yang DiLarang Untuk di Bunuh (Semut, Lebah, Burung Hud Hud, Burung Shurad, Katak).2.png
    • Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk membunuh empat binatang: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud no. 5267, Ibnu Majah no. 3224 dan Ahmad 1/332. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)
    • Dari ‘Abdurrahman bin ‘Utsman, ia berkata, “Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai katak, apakah boleh dijadikan obat. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak.” (HR. Abu Daud no. 5269 dan Ahmad 3/453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Al Khottobi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa katak itu haram dikonsumsi dan ia tidak termasuk hewan air yang dibolehkan untuk dikonsumsi.”[8] Imam Ahmad mengatakan, “Setiap hewan yang hidup di air boleh dimakan kecuali katak dan buaya.”[Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Jaami’ At Tirmidzi, Abul ‘Alaa Al Mubarakfuri, 1/189, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah).

Demikian Sharing Knowledge dalam Ilmu Syar’i (Agama Islam), mudah2an bermanfaat dan bisa digetok tularkan ke orang lain (teman2 lainya). Aamiin

Referensi:

Cisitu Lama , Bandung