BAHAYA KORUPSI (Dibelenggu dengan harta dari korupsi pada waktu hari Kiamat, Penyebab kehinaan dan siksa api neraka, Tidak mendapat jaminan atau terhalang masuk surga, Sedekahnya tidak diterima, Doa nya tidak terkabul, Dilaknat oleh Rosullulloh, Etc.)……SAMPAI SAAT INI BELUM ADA SOSOK PEMIMPIN (BAIK EXEKUTIF, YUDIKATIF DAN LEGISLATIF) YANG MAMPU MEMBERANTAS BUDAYA KORUPSI SECARA SIGNIFIKAN” …..

01 January 2019,

Tanggung Jawab Dalam Pemberantasan Korupsi

Sungguh menyedihkan bahwa bangsa Indonesia mayoritas yang beragama namun sampai dengan saat ini, Indonesia masih menyandang jawara dalam hal korupsi.    Tulisan ini bermaksud untuk mengingatkan kepada kita semua bahwa korupsi dilarang dalam ajaran agama apa pun termasuk agama Islam.  Setelah kita memahami secara baik adanya larangan untuk tidak korupsi berdasarkan Syariat Islam diharapkan umat Islam khususnya akan menjauhi praktek-praktek korupsi yang kotor dan keji. Meskipun terjadinya praktek korupsi di berbagai sektor tidak serta merta berdampak langsung kepada kehidupan kita namun “jika kita semua tidak peduli dan turut serta pada upaya pemberantasan tindak pidana korupsi maka lambat laun kita semua akan hancur berantakan”.

“Ibarat kapal besar yang bernama Indonesia, yang berlayar menyeberangi samudera nan luas dan mengangkut sarat penumpang dengan berbagai kepentingan. Agar tujuan dapat dicapai dengan selamat maka kapten kapal harus menegakkan aturan main seperti yang telah mereka sepakati.   Peristiwa demikian telah di jelaskan dalam salah satu hadist sebagai berikut:

Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Zakariyya’ berkata, aku mendengar ‘Amir berkata, aku mendengar An-Nu’man bin Basyir radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang diam terhadapnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah perahu. Lalu orang yang berada di bawah perahu bila mereka mencari air untuk minum mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas seraya berkata; “Seandainya boleh kami lubangi saja perahu ini untuk mendapatkan bagian kami sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami”. Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mencegah dengan tangan mereka maka mereka akan selamat semuanya” (HR. Bukhari)

Jenis Korupsi Menurut Hukum Islam

Korupsi dalam syariat Islam diatur dalam fiqh Jinayah. Jinayah adalah sebuah tindakan atau perbuatan seseorang yang mengancam keselamatan fisik dan tubuh manusia serta berpotensi menimbulkan kerugian pada harga diri dan harta kekayaan manusia sehingga tindakan atau perbuatan itu dianggap haram untuk dilakukan bahkan pelakunya harus dikenai sanksi hukum, baik diberikan di dunia maupun hukuman Allah kelak di akhirat. Jenis tindak pidana (jarimah) dalam fiqh jinayah dari unsur-unsur dan definisi yang mendekati pengertian korupsi menurut hukum Islam adalah sebagai berikut:

  1. Ghulul (Penggelapan),
    • Mencuri harta rampasan perang (Al-ghulul)
    • Menggelapkan uang dari kas Negara (baitul maal)
    • Menggelapkan zakat
    • Hadiah untuk para pejabat
  2. Risywah (Penyuapan)
    • Risywah dibidang ekonomi, seperti tender fiktif, pemilihan deputi gubernur BI yang telah diatur.
    • Risywah dibidang pendidikan, seperti pemberian nilai kepada siswa/mahasiswa tertentu, penerimaan siswa baru lewat jalur belakang.
    • Risywah dibidang Hukum, seperti mafia peradilan.
    • Risywah dibidang kepegawaian, seperti kecurangan dalam penerimaan PNS, proses promosi dan mutasi yang sarat KKN.
  3. Ghasab (Mengambil Paksa Hak/Harta Orang Lain),
    • Karena ada batasan tanpa izin pemilik maka bila yang diambil berupa harta titipan atau gadai jelas tidak termasuk perbuatan ghasab tetapi khianat.
    • Terdapat unsur pemaksaan atau kekerasan maka ghasab bisa mirip dengan perampokan, namun dalam ghasab tidak terjadi tindak pembunuhan
    • Terdapat unsur terang-terangan maka ghasab jauh berbeda dengan pencurian yang didalamnya terdapat unsur sembunyi-sembunyi.
    • Yang diambil bukan hanya harta, melainkan termasuk mengambil/menguasai hak orang lain
  4. Khianat,
    • Definisi khianat adalah segala sesuatu (tindakan/upaya yang bersifat) melanggar janji dan kepercayaan yang telah dipersyaratkan di dalamnya atau telah berlaku menurut adat kebiasaan.
    • Seperti Tindakan pembantaian terhadap terhadap kaum muslim atau sikap menampakkan permusuhan terhadap kaum muslim.
  5. Sariqah (Pencurian),
    • Sariqah adalah mengambil barang atau harta orang lain dengan cara sembunyi-sembunyi dari tempat penyimpanannya yang biasa digunakan untuk menyimpan barang atau harta kekayaan tersebut. Sariqah ada 2, pencurian kecil dan besar
    • Pencurian kecil yaitu proses pengambilan harta kekayaan tidak disadari oleh korban dan dilakukan tanpa seizinnya sebab dalam pencurian kecil harus memenuhi dua unsur ini secara bersamaan (yaitu korban tidak mengetahui dan tidak mengizinkan).
    • Pencurian besar adalah pengambilan harta yang dilakukan dengan sepengetahuan korban, tetapi ia tidak mengizinkan hal itu terjadi sehingga terdapat unsur kekerasan.
  6. Hirabah (Perampokan),Pengertian Hirabah/perampokan (Irfan, 2012) adalah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang kepada pihak lain, baik dilakukan di dalam rumah maupun di luar rumah, dengan tujuan untuk menguasai atau merampas harta benda milik orang lain tersebut atau dengan maksud membunuh korban atau sekedar bertujuan untuk melakukan teror dan menakut-nakuti pihak korban.
  7. Al-Maks (Pungutan Liar),
    • Pungutan liar yang terjadi sejak kita mengurus akte kelahiran hingga akte kematian yang terjadi di Negara kita barangkali termasuk dalam kategori ini.
    • Karena pungli merupakan pungutan yang tidak memiliki dasar hukum agar seseorang tetap membayarnya agar urusannya lancar.
    • Masyarakat sebenarnya sangat keberatan namun apa daya karena berhadapan dengan mereka yang memiliki kekuasaan.
  8. Al-Ikhtilas (Pencopetan), dan Al-Ihtihab (Perampasan).
    • Mencopet hampir mirip dengan pencurian kecil dan perampasan hampir mirip dengan perampokan

Dalil BAHAYA & HARAM-nya perbuatan Korupsi

Alloh Berfirman: “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil, dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” [al Baqarah/2:188], “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil…” [an Nisaa`/4 : 29].

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui”. (QS: Al-Anfaal (8) ayat 27).

Tidaklah Allah melarang sesuatu, melainkan di balik itu terkandung keburukan dan mudharat (bahaya) bagi pelakunya. Begitu pula dengan perbuatan korupsi (ghulul), tidak luput dari keburukan dan mudharat tersebut. Diantaranya

  1. Pelaku ghulul (korupsi) akan dibelenggu, atau ia akan membawa hasil korupsinya pada hari Kiamat, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat ke-161 surat Ali Imran dan hadits ‘Adiy bin ‘Amirah Radhiyallahu ‘anhu di atas. Dan dalam hadits Abu Humaid as Sa’idi Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi (Allah), yang jiwaku berada di tanganNya. Tidaklah seseorang mengambil sesuatu daripadanya (harta zakat), melainkan dia akan datang pada hari Kiamat membawanya di lehernya. Jjika (yang dia ambil) seekor unta, maka (unta itu) bersuara. Jika (yang dia ambil) seekor sapi, maka (sapi itu pun) bersuara. Atau jika (yang dia ambil) seekor kambing, maka (kambing itu pun) bersuara …” (HR al Bukhari dalam kitab al Hibah wa Fadhluha wat Tahridhu ‘Alaiha, bab Man lam Yaqbalil Hadiyata li ‘Illatin, hadits no. 2597 dan Muslim (dengan lafazh serupa) dalam kitab al Imarah, bab Tahrim Hadayal ‘Ummal, hadits no. 3413).
  2. Perbuatan korupsi menjadi penyebab kehinaan dan siksa api neraka pada hari Kiamat. Dalam hadits Ubadah bin ash Shamit Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “…(karena) sesungguhnya ghulul (korupsi) itu adalah kehinaan, aib dan api neraka bagi pelakunya”. (HR Ibnu Majah dalam kitab al Jihad, bab al Ghulul, hadits no. 2850, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah dan Shahihul Jami’ish Shaghir, no. 7869), Rasulullah Saw bersabda, “ Penyuap dan yang menerima suap masuk dalam neraka.” (HR. Tabrani)
  3. Orang yang mati dalam keadaan membawa harta ghulul (korupsi), ia tidak mendapat jaminan atau terhalang masuk surga. Hal itu dapat dipahami dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barangsiapa berpisah ruh dari jasadnya (mati) dalam keadaan terbebas dari tiga perkara, maka ia (dijamin) masuk surga. Yaitu kesombongan, ghulul (korupsi) dan hutang”. (HR Ahmad, no. 21291; at Tirmidzi, no. 1572; an Nasaa-i dan Ibnu Majah)
  4. Allah tidak menerima shadaqah seseorang dari harta ghulul (korupsi), sebagaimana dalam sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci, dan shadaqah tidak diterima dari harta ghulul (korupsi)”.(HR Muslim dalam kitab Thaharah, bab Wujubuth Thaharah lish Shalati, hadits no. 329, dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anh, dan diriwayatkan pula oleh yang lain dari Ibnu ‘Umar dan Usamah bin Umair al Hudzali Radhiyallahu ‘anhu)
  5. Harta hasil korupsi adalah haram, sehingga ia menjadi salah satu penyebab yang dapat menghalangi terkabulnya do’a, sebagaimana dipahami dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang Allah perintahkan kepada para rasul. Allah berfirman,”Wahai para rasul, makanlah dari yang baik-baik dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan”. Dia (Allah) juga berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari yang Kami rizkikan kepada kamu,” kemudian beliau (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan seseorang yang lama bersafar, berpakaian kusut dan berdebu. Dia menengadahkan tangannya ke langit (seraya berdo’a): “Ya Rabb…, ya Rabb…,” tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dirinya dipenuhi dengan sesuatu yang haram. Maka, bagaimana do’anya akan dikabulkan?”. (HR Muslim dalam kitab az Zakat, bab Qabulush Shadaqati minal Kasbit Thayyibi wa Tarbiyatuha, hadits no. 1686).
  6. Dilaknat Oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wassalam :
    • Bersumber dari Tsauban ia berkata, “Rasulullah Saw melaknat pelaku, penerima, dan perantara risywah, yaitu orang-orang yang menjadi penghubung di antara keduanya. (HR. Ahmad). 
    • Bersumber dari Abdillah bin Amr dan Nabi Saw, ia berkata, “Rasulullah Saw melaknat pelaku dan penerima risywah.” Ia berkata, “rasul menambahkan, Allah akan melaknat pelaku dan penerima risywah.” (HR. Ibnu Majah)
    • Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,”Serahkanlah benang dan jarum. Hindarilah Al-ghulul,sebab ia akan mempermalukan orang yang melakukannya pada hari kiamat kelak”. beginilah anjuran dari Rasulullah, melarang mengambil sesuatu yang bukan haknya walaupun hanya seutas benang dan sebuah jarum.
    • Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Abdullah bin Dinar dari Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap pengkhianat diberi bendera pada hari kiamat sebagai tanda pengenalnya.” (HR. Bukhari).

CONTOH PERBUATAN DI JAMAN NABI

  1. Dari  Ibnu Jarir dari Al-Dahhak, bahwa nabi mengirimkan beberapa orang pengintai kepada suatu daerah musuh. Kemudian daerah itu diperangi dan dikalahkan serta harta rampasan dibagi-bagi. Tetapi para pengintai tidak hadir ketika rampasan itu dibagi-bagi. Lalu ada diantara mereka menyangka, bahwa mereka tidak akan dapat bagian. Kemudian setelah mereka datang ternyata bagian untuk mereka telah disediakan. Maka turunlah ayat ini “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang). Barang siapa yang berkhianat (dalam urusan rampasan perang) maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya”.(QS. Ali-Imran ayat 161) yang menegur sangkaan mereka yang buruk, sekaligus menyatakan bahwa nabi tidaklah berbuat curang dengan pembagian harta rampasan perang dan sekali-kali tidaklah nabi akan menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan diri beliau sendiri.
  2. Bersumber dari Mu’adz bin Jabal yang berkata, “Rasulullah Saw telah mengutus saya ke Negeri Yaman. Ketika saya baru berangkat, ia mengirim seseorang untuk memanggil saya kembali, maka saya pun kembali.” Nabi bersabda, “Apakah engkau mengetahui mengapa saya mengirim orang untuk menyuruhmu kembali? Janganlah kamu mengambil sesuatu apa pun tanpa izin saya, karena hal itu adalah Ghulul (korupsi). Barang siapa melakukan ghulul, ia akan membawa barang ghulul itu pada hari kiamat. Untuk itu saya memanggilmu, dan sekarang berangkatlah untuk tugasmu.” (HR. At-Tirmidzi).
  3. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata, “Suatu hari Rasulullah saw berdiri ditengah-tengah kami. Beliau menyebut tentang ghulul, menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat besar. Lalu beliau bersabda, “Sungguh aku akan mendapati seseorang di antara kalian pada hari kiamat datang dengan memikul unta yang melenguh-lenguh. “ Ia berkata, “Wahai Rasulullah tolonglah aku. “Maka aku menjawab, “Aku tidak memiliki sesuatupun dari Allah untuk itu. Sungguh aku telah menyampaikan semuanya kepadamu. Aku juga mendapati seseorang di antara kalian pada hari kiamat datang dengan memikul kambing yang mengembik-embik. “Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah tolonglah aku.’ Maka aku menjawab, ‘Aku tidak memiliki sesuatupun dari Allah untuk itu. Sungguh aku telah menyampaikan semuanya. Aku juga mendapati seseorang di antara lain pada hari kiamat datang dengan memikul binatang yang mengeluarakan suara-suara keras. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah tolonglah aku.’ Maka aku menjawab, ‘ Aku tidak memiliki sesuatupun dari Allah untuk itu. Sungguh aku telah menyampaikan semuanya kepadamu. Aku juga akan mendapati seseorang di antara kalian pada hari kiamat datang dengan memikul kain dan baju-baju yang berkibar-kibar.’ Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah tolonglah aku.’ Maka aku menjawab, ‘Aku tidak memiliki sesuatupun dari Allah untuk itu. Sungguh aku telah menyampaikan semuanya kepadamu. Aku mendapati seseorang di antara kalian pada hari kiamat datang dengan memikul barang-barang yang berharga.’ Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah tolonglah aku.’ Maka aku menjawab, ‘aku tidak memiliki sesuatu apapun dari Allah untuk itu. Sungguh aku telah menyampaikan semuanya kepadamu.’” (HR. Bukhari)
  4. Telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Isma’il, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari ayahnya, dari Abu Humaid As Sa’idi mengatakan, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah mempekerjakan seorang laki-laki untuk mengelola zakat bani Sulaim yang sering dipanggil dengan nama Ibnu Al Latabiyah, tatkala dia datang, dia menghitungnya dan berkata; ‘Ini adalah hartamu dan ini hadiah.’ Spontan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berujar: “kenapa kamu tidak duduk-duduk saja di rumah ayahmu atau ibumu sampai hadiahmu datang kepadamu jika kamu jujur.” Kemudian beliau berpidato di hadapan kami, memuja dan memuji Allah terus bersabda: “Amma ba’d. Sesungguhnya saya mempekerjakan salah seorang diantara kalian untuk mengumpulkan zakat yang telah Allah kuasakan kepadaku, lantas ia datang dan mengatakan; ‘ini hartamu dan ini hadiah yang diberikan kepadaku, ‘ kenapa dia tidak duduk-duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya sampai hadiahnya datang kepadanya? Demi Allah, tidaklah salah seorang diantara kalian mengambil sesuatu yang bukan haknya, selain ia menjumpai Allah pada hari kiamat dengan memikul hak itu, aku tahu salah seorang diantara kalian menjumpai Allah dengan memikul unta yang mendengus, atau sapi yang melenguh, atau kambing yang mengembik.” Kemudian beliau mengangkat tangannya hingga terlihat putih ketiaknya seraya mengatakan: “Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikan apa yang kulihat dengan mataku dan kudengar dengan dua telingaku?” (HR. Bukhari)

Kenapa susah memberantas korupsi

  1. Faktor mentalitas. Mental korup telah mendarah daging bangsa kita. Hal tersebut menandakan kegagalan pendidikan selama ini dalam mencetak generasi beriman yang berakhlak mulia, berintegritas tinggi. Orang jujur sangat langka di negeri ini. Orang pintar dan terampil banyak, tapi sayang tak sedikit dari mereka yang “bermental korup”. Apa yang salah dalam sistem pendidikan kita? Pendidikan memang hal sangat penting dalam membangun dan  mengisi kemerdekaan.
    • Sejarah mencatat, setelah dibombardir pasukan sekutu saat perang dunia kedua, Kaisar Jepang mempertanyakan tentang guru. Kaisar sangat yakin membangun kudu dimulai dari pendidikan. Dengan modal pendidikan Jepang dapat mengejar ketertinggalan. Sekarang, Jepang menjadi salah satu negara maju. Maka tak ada pilihan lain, kedepan sistem dan paradigma pendidikan kita wajib direvolusi. Sebenarnya dari waktu ke waktu pendidikan mengalami perubahan. Malahan, perubahan seringkali dilakukan walau kadang terlihat terburu-buru dan asal. Pendidikan kita sekarang sudah mulai diarahkan pada penanaman, penguatan karakter.
    • Pendidikan karakter menjadi mutlak dibutuhkan. Pendidikan karakter dipahami sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai etika yang inti. Kemendikbud sendiri telah menetapkan 18 hal sebagai karakter yang wajib ditanamkan dalam mendidik peserta didik. Yaitu religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri dan lainnya.
    • Kemudian, pendidikan jangan lagi terjebak pada nilai oriented. Pendidikan tak boleh lagi berkutat pada pencapaian angka-angka. Menurut Munif Chatib, pendidikan itu sebaiknya berorientasi pada cara memenuhi kebutuhan hidup, menyelesaikan berbagai masalah yang akan dihadapi serta mengarah kepada tujuan profesi sesuai dengan bakat dan minat yang dimiliki.  Saya menambahkan satu lagi bahwa pendidikan selayaknya memotivasi peserta didik dalam penanaman karakter atau akhlak mulia dalam bahasa agama. Ini penting, agar siswa tidak hanya dibekali ilmu (knowledge), skil atau ketrampilan, tapi ditanamkan juga karakter yang kuat.
  2. Korupsi sudah menjadi budaya. Budaya korupsi telah mengakar. Sebab, praktek prilaku korup telah berlangsung dalam waktu cukup lama. Berawal di jaman orde lama, menguat di orde baru sehingga  sekarang kesulitan mencabutnya. Kehadiran KPK di  era reformasi tak otomatis membendung praktek korupsi. Korupsi sudah menyatu dengan birokrasi dalam pemerintahan secara masif dan sistematis. Mencabut budaya korupsi memang sulit dilakukan. Tapi bisa, asal ada itikad kuat dan komitmen tinggi dari semua elemen masyarakat.
    • Dalam melawan korupsi diperlukan revolusi mental, perlawanan bersama secara berkesinambungan. Semua dari kita tak boleh diam.
    • Korupsi tak akan hilang jika hanya mengandalkan pemberantasan  oleh KPK. KPK hanya mengupayakan efek jerah bagi pelaku korupsi dan masyarakat umum. Kerja keras KPK sebaiknya dibarengi dengan perlawanan setiap dari kita. Jangan diam melihat praktek korupsi. Tolak jika diajak. Laporkan  ke pihak penegak hukum jika menyaksikan. Saatnya orang jujur bicara, bertindak. Diamnya mereka akan menyuburkan praktek  korupsi.
  3. Sistem birokrasi membuka peluang perilaku korupsi. Regulasi dan peraturan perundang-undangan tak sedikit yang membuka cela penyelewengan. Cela itu dimanfaatkan oleh pejabat bermental korup guna memperkaya diri dengan cara ilegal. Sebab itu, setiap regulasi, kebijakan dan peraturan selayaknya tidak membuka cela penyelewengan. Di sini ketelitian dalam mengeluarkan regulasi dan membuat peraturan  dibutuhkan. Hindari dan tutup cela, potensi praktek pungutan liar. Pungli sejatinya tangga pertama menuju tindak pidana korupsi. Kaitan dengan pungli Pemerintah telah membentuk Saber Pungli. Ini kudu didukung oleh masyarakat. Sekali lagi, jangan diam. Mendiamkan penyelewengan sama saja sedang melakukannya.

Untuk memberantas korupsi secara tepat dan cepat

  1. Pilihlah Para Pemimpin yang bersih dari korupsi dan punya NYALI atau Keberanian untuk memberantas budaya korupsi bukan omdo (omong doang).
  2. Buatlah Standar Operasional Prosedur (SOP), peraturan peraturan dan program program yang jelas dan dapat di implementasi kan untuk pemberantasan korupsi secara menyeluruh pada eksekutif, yudikatif dan legislatif dari tingkat RT, RW, Dusun, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan kota. Propinsi dengan mengacu pada negara negara yang sudah berhasil memberantas korupsi. Jadikanlah semua pegawai pemerintah dan Penegak Hukum berpartisipasi dan mendukung program ini. 
  3. Evaluasi target dan kontrol secara kontinyu terhadap pelaksanaan pemberantasan korupsi.   

Referensil;

  1. https://almanhaj.or.id/2673-mewaspadai-bahaya-korupsi.html
  2. Tulisan Suradi, Jumat, 31 Oktober 2014 09:17, BDPim Magelang, Widyaiswara Madya Balai Diklat Kepemimpinan Magelang

Cisitu lama, Bandung,

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.