KEUTAMAAN “ILMU AGAMA” DIBANDING DENGAN ILMU LAIN-NYA (Dimudahkan jalan menuju Surga, Warisan para Nabi, Bermanfaat buat Pemiliknya biarpun sudah meninggal, Orang yang betul betul paham terhadap Ilmu Agama akan Mendapatkan Seluruh Kebaikan dari Alloh, Di jadikan orang yang paling takut kepada Alloh, Dan akan diangkat derajatnya oleh Alloh)

CdbMjMnUsAA1g5K23 Desember 2018,

FAKTA YANG TERJADI DI MASYARAKAT BAHWA ILMU AGAMA MASIH BELUM DIUTAMAKAN (DIPRIORITASKAN) 

Banyak diantara kalangan masyarakat kita yang beragama islam (Di Indonesia), yang belum memahami hakekat keutamaan “Ilmu Agama” dibandingkan dengan ilmu ilmu yang lain. Kita bisa melihat kenyataan yang berlaku dilingkungan kita bahwa masyarakat kita masih belum banyak yang yakin bahwa jika seseorang betul betul mempunyai pemahaman ilmu agama yang baik, akan membantu keberhasilan dan kesuksesan dunia dan akhirat.

Masih banyak orang yang islam yang berfikir bahwa anaknya akan lebih sukses dan lebih berhasil  jika bisa bersekolah di TK/SD/SMP/SMA/Universitas Umum Negeri biarpun tidak bisa belajar mengaji Alquran, Al Hadist  atau Ilmu ilmu agama lain-nya. Kita bisa melihat kenyataan banyak anak anak dilingkungan kita yang bersekolah di sekolah / universitas negeri umum merasa lebih baik atau lebih pintar atau lebih keren, lebih percaya diri dari pada bersekolah di sekolah atau universitas negeri agama islam.

Ilmu agama masih dianggap Ilmu yang sekunder (kedua/sampingan) bukan Ilmu yang primer atau yang utama (Prioritas), kecuali dilingkungan keluarga pesantren atau lingkungan Kyai/Habib yang mana mereka sangat yakin bahwa Ilmu agama adalah suatu keharusan (lebih diprioritaskan atau lebih diutamakan). Misalnya; banyak anak Kyai atau Habib yang bisa masuk SD/SMP/SMA/Universitas Negeri Umum, namun masih harus sekolah mengaji Alquran dan Alhadist di Pondok atau Madrasah2 baik formal atau tidak formal. Kita juga bisa melihat para masyarakat perkotaan atau para petani dikampung yang mana masih kurang bersemangat dalam Tafakuh Fiddin (Belajar Agama), masih sangat sedikit yang mendatangi majelis ilmu agama. Kita lebih senang menyia-nyiakan waktu bersama tetangga dan teman-teman mengobrol atau menggibah di warung warung, menonton sinetron di TV, menghabiskan waktu di instagram, twitter, atau media sosial lain dibandingkan duduk di majelis ilmu.

Masih banyak masyarakat islam baik di Perkotaan dan di Kampung yang belum menjalankan Rukun Islam dengan istikomah; masih banyak orang orang yang sudah mempunyai penghasilan melebihi nisob zakat namun masih belum mau (enggan) ber-zakat dan ber-infak demikian juga Haji. Banyaknya umat islam di Indonesia yang masih menabung diBank Konvensional dibanding dengan kemauan menabung di Bank Syariah. Bahkan belum kelihatan ada orang islam yang menjadi pemimpin dan pejabat yang signifikan, yang betul betul membantu dan mendukung implementasi agama Islam. Kita juga bisa melihat hasil Pemilu yang mana, partai yang bukan islam malah menang. Masih banyaknya praktek korupsi, ketidak adilan, ketamakan dan keserakahan.

FAKTOR PENYEBAB “ILMU AGAMA MASIH BELUM DIUTAMAKAN”

Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Salah satunya adalah karena umat Islam belum mengetahui keutamaan dan keuntungan, mempelajari ilmu agama. Kita belum mengetahui untungnya duduk berjam-jam di majelis ilmu mengkaji ayat-ayat Allah. Kalau kita tidak mengetahuinya, kita tidak akan duduk di majelis ilmu. Karena fitrah manusia memang bertindak sesuai asas keuntungan. Fakta nya, kalau kita tidak mengetahui keuntungan atau manfaat suatu hal maka kita tidak akan melakukan hal itu. Begitu juga dengan ibadah. Maka dari itu, semakin kita belajar dan mengetahui keuntungan-keuntungan salat, puasa, zakat, maka kita akan semakin semangat menjalaninya. Ini yang seharusnya kita sadari. Oleh karena itu, kita harus mengetahui keutamaan dan keuntungan menuntut ilmu. Terdapat banyak dalil dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya terkait keutamaan ilmu dan pemilik ilmu.

PERUMPAMAAN PENTINGNYA ILMU AGAMA

Digambarkan oleh para orang tua dan ulama sebagai berikut : Waktu liburan (Prei-nan) anak anak sekolah akan melakukan wisata.  Anak anak sekolah tersebut ada yang jurusan Bahasa inggris, Jurusan Matematika, Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Sipil, Jurusan kedokteran, dll. Kebetulan wisata nya melewati Selat antar pulau. Semua naik kapal, Nakhoda Kapal itu orang kampung dan tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah. Dalam perjalanan, akhirnya anak anak bertanya pada Nakhoda. Apakah pak nakhoda bisa Bahasa inggris? Apakah Pak Nakhoda punya ilmu matematika? apakah punya ilmu teknik civil, apakah punya ilmu mesin ………….. Saya orang kampung, saya tidak sekolah, saya tidak mempunyai ilmu matematika, tidak punya ilmu teknik civil, tidak punya ilmu teknik mesin, tidak punya ilmu Bahasa inggris……kata Nakhoda.

Kapal berjalan terus, sampai tengah lautan, terjadi badai besar. Anak anak sekolah sebagai penumpang ketakutan, badai yang besar dan dahsyat membuat kapal oleng…. Maka Nakhoda bertanya kepada anak anak sekolah itu, … apakah kalian semua ada yang mempunyai ilmu “berenang”?….. tidak kata mereka…… waduh kalau kalian tidak punya ilmu berenang biarpun kalian punya ilmu ilmu lain-nya maka kalian tidak akan ada yang selamat kalau kapal tenggelam ….. kata Nakhoda ………….ilmu berenang itulah perumpamaan ilmu agama dalam kehidupan ini. Jika manusia menghadapi kematian maka Ilmu Agama-lah yang bisa menyelamatkan siksa akhirat

HAKEKAT ILMU AGAMA

Ilmu adalah kunci segala kebaikan. Ilmu merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tak sempurna keimanan dan tak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu. Dengan ilmu Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu pula agama-Nya disebarkan. Kebutuhan pada ilmu lebih besar dibandingkan kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.” Jika kita ingin menyandang kehormatan luhur, kemuliaan yang tak ter kikis oleh perjalanan malam dan siang, tak lekang oleh pergantian masa dan tahun, kewibawaan tanpa kekuasaan, kekayaan tanpa harta, kedigdayaan tanpa senjata, kebangsawanan tanpa keluarga besar, para pendukung tanpa upah, pasukan tanpa gaji, maka kita mesti berilmu. Ilmu terbagi menjadi 2; Ilmu Agama dan Ilmu Duniawi.

Kebanyakan orang terutama mereka yang hidup di lingkungan akademik perkuliahan ilmu umum memiliki anggapan bahwa ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala puji pemiliknya dengan Allah ‘azza wa jalla naik kan derajat mereka beberapa derajat termasuk di dalamnya adalah ilmu-ilmu umum. Padahal tidaklah demikian, ilmu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala maksudkan adalah ilmu agama (ilmu syar’i). Hal ini berdalil kan kejadian yang terjadi di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam,

مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ « لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ ». قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ « مَا لِنَخْلِكُمْ ». قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ « أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ ».

Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam melalui beberapa orang yang sedang melakukan penyerbukan kurma, beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan, “Kalaulah kalian tidak melakukan hal yang demikian maka hasilnya akan baik”. (Para sahabat mengikuti perkataan beliau) kemudian hasil kurma nya jelek. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melalui mereka lagi dan berkata, “Mana kurma kalian?” mereka mengatakan, “Engkau katakan demikian dan demikian (agar tidak menyerbukan kurma)”. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam mengatakan, “Kalian lebih paham berilmu tentang urusan dunia kalian (HR. Muslim no. 6277).

Ahli Fiqih Zaman ini, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah mengatakan barkaitan dengan hadits di atas, “Seandainya ilmu semisal ilmu di atas yang Allah ‘azza wa jalla memuji orangnya maka sudah pastilah Allah jadikan beliau sebagai orang yang paling tahu tentang ilmu tersebut karena orang yang paling banyak Allah puji ilmu dan amalnya adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam” (Kitabul ‘Ilmi hal. 14, terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KS), Akan tetapi kita lihat bersama dalam hadits di atas tegas menunjukkan bahwa beliau bukanlah orang yang mengetahui ilmu masalah penyerbukan kurma di atas (baca : ilmu dunia) sehingga jelaslah ilmu yang Allah janjikan akan ditinggikan derajat pemiliknya adalah ilmu syar’i/ilmu agama islam dan bukan sama sekali ilmu dunia.

  • Ilmu Syar’i , yang terbagi menjadi; (1) Fardlu ‘Ain (wajib dimiliki oleh setiap orang), yaitu: Ilmu tentang akidah berupa rukun iman yang enam, dan ibadah, seperti thoharoh, sholat, shiyam, zakat, dan ibadah wajib lainnya. (2) Fardlu Kifayah (harus ada sebagian orang islam yang menguasai, bila tidak ada maka semua kaum muslimin di tempat itu berdosa), yaitu: ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu fara’idh, ilmu bahasa, dan ushul fiqh.
  • Ilmu Duniawi, yaitu segala ilmu yang dengan ilmu tersebut tegak lah segala maslahat dunia dan kehidupan manusia, seperti: ilmu kedokteran, pertanian, ilmu teknik, perdagangan, militer, dan sebagainya. Menurut ‘ulama, hukum ilmu duniawi adalah fardlu kifayah.

Al Ghazali menjelaskan bahwa yang termasuk Ilmu Fardu ‘ain ialah “Ilmu Agama (Ilmu Syar’i)” dengan segala cabangnya, seperti yang tercakup dalam rukun Iman dan rukun Islam yang tujuan utamanya adalah “SURGA”, sementara itu yang termasuk dalam ilmu Fardhu kifayah antara lain ilmu ilmu umum seperti ilmu kedokteran, ilmu berhitung untuk jual beli, ilmu pertanian, ilmu politik, ilmu teknik listrik, teknik mesin, teknik civil dll., yang pada dasarnya ilmu-ilmu yang dapat membantu dan penting bagi usaha untuk menegakkan urusan dunia.

Menurut Ibnu Hajar Asqolani, Ilmu syar’i yaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajibannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat Nya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan” (Fathul Baari, 1/92). Dari penjelasan Ibnu Hajar rahimahullah di atas, jelaslah bawa ketika hanya disebutkan kata “ilmu” saja, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Oleh karena itu, merupakan sebuah kesalahan sebagian orang yang membawakan dalil-dalil tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu dari Al Qur’an dan As-Sunnah, tetapi yang mereka maksud adalah untuk memotivasi belajar ilmu duniawi. Meskipun demikian, bukan berarti kita mengingkari manfaat belajar ilmu duniawi. Karena hukum mempelajari ilmu duniawi itu tergantung pada tujuannya. Apabila digunakan dalam kebaikan, maka baik. Dan apabila digunakan dalam keburukan, maka buruk. (Lihat Kitaabul ‘Ilmi, hal. 14).

Dengan demikian, islam adalah agama ilmu, ilmu kemaslahatan hidup di dunia maupun akhirat. Namun seiring dengan pergeseran tujuan hidup manusia, motivasi menuntut ilmu pun mulai bergeser. Kenyataan menunjukkan bahwa manusia mulai condong kepada ilmu duniawi dan menomor duakan, bahkan melupakan ilmu agama. Entah kekhawatiran apa yang membayangi manusia sehingga mereka lebih mementingkan ilmu dunia dari pada ilmu agama, padahal Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai” (QS. Ar Rum:7). Allah SWT berfirman :

أَمَّنۡ هُوَ قَٰنِتٌ ءَانَآءَ ٱلَّيۡلِ سَاجِدٗا وَقَآئِمٗا يَحۡذَرُ ٱلۡأٓخِرَةَ وَيَرۡجُواْ رَحۡمَةَ رَبِّهِۦۗ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلَّذِينَ يَعۡلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٩

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal lah yang dapat menerima pelajaran.(Q.S. Az Zumar :9)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Umumnya manusia tidak memiliki ilmu melainkan ilmu duniawi. Memang mereka maju dalam bidang usaha, akan tetapi hati mereka tertutup, tidak bisa mempelajari ilmu agama islam untuk kebahagiaan akhirat mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/428)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: “Pikiran mereka hanya terpusat kepada urusan dunia sehingga lupa urusan akhirat nya. Mereka tidak berharap masuk surga dan tidak takut neraka. Inilah tanda kehancuran mereka, bahkan dengan otaknya mereka bingung dan gila. Usaha mereka memang menakjubkan seperti membuat atom, listrik, angkutan darat, laut dan udara. Sungguh menakjubkan pikiran mereka, seolah-olah tidak ada manusia yang mampu menandinginya, sehingga orang lain menurut pandangan mereka adalah hina. Akan tetapi ingatlah! Mereka itu orang yang paling bodoh dalam urusan akhirat dan tidak tahu bahwa kepandaiannya akan merusak dirinya. Yang tahu kehancuran mereka adalah insan yang beriman dan berilmu. Mereka itu bingung karena menyesatkan dirinya sendiri. Itulah hukuman Allah bagi orang yang melalaikan urusan akhirat nya, akan dilalaikan oleh Allah ‘azza wa jalla dan tergolong orang fasik. Andaikan mereka mau berpikir bahwa semua itu adalah pemberian Allah ‘azza wa jalla dan kenikmatan itu disertai dengan iman, tentu hidup mereka bahagia. Akan tetapi lantaran dasarnya yang salah, mengingkari karunia Allah, tidaklah kemajuan urusan dunia mereka melainkan untuk merusak dirinya sendiri.” (Taisir Karimir Rahman 4/75). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia namun bodoh dalam urusan akhirat nya.” (Shahih Jami’ Ash Shaghir)

Akankah kita bergelimang dalam kebodohan ilmu agama, padahal kebodohan adalah sebuah kejumudan? Lalu, tidakkah kita ingin sukses dan jaya di negeri akhirat nanti? Apa yang menghalangi kita untuk segera meraup ilmu agama, sebagaimana kita berambisi meraup ketinggian ilmu dunia karena ter gambar kesuksesan masa depan kita?

KEUTAMAAN KEUTAMAAN “ILMU AGAMA”

Syaikh Utsaimin, seorang  Ulama kontemporer telah mengumpulkan keutamaan ilmu Agama antara lain:

  1. Ilmu Agama adalah warisan para Nabi, warisan yang lebih berharga dan lebih mulia dibanding segala warisan. Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambilnya (warisan ilmu), sungguh ia telah mengambil keuntungan yang banyak”. (Shahihul Jami Al Albani : 6297)
  2. Ilmu Agama adalah sebagai amal jariyah yaitu akan kekal sekalipun pemiliknya telah mati, tetapi harta akan berpindah dan berkurang bahkan jadi rebutan bila pemiliknya telah mati. Kita pasti mengetahui Abu Hurairah –semoga Allah meridlainya- seorang yang diberi julukan “gudangnya periwayat hadits”. Dari segi harta, beliau tergolong kaum kaum papa (fuqoro’), hartanya pun telah sirna, tetapi ilmunya tidak pernah sirna. Kita masih tetap membacanya. Inilah buah dari Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Jika seseorang meninggal dunia, maka ter putuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)
  3. Ilmu Agama, sebanyak apapun tak menyusahkan pemiliknya untuk menyimpan, tak perlu gudang yang luas untuk menyimpannya, cukup disimpan dalam dada dan kepalanya. Ilmu akan menjaga pemiliknya sehingga memberi rasa aman dan nyaman, berbeda dengan harta yang bila semakin banyak, semakin susah menyimpannya, menjaganya, dan pasti membuat gelisah pemiliknya.
  4. Allah Tidak Memerintahkan Nabi-Nya Meminta Tambahan Apa Pun Selain Ilmu Allah berfirman: وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا “Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. (QS. Thaaha [20] : 114). Ini dalil tegas diwajibkannya menuntut ilmu. 
  5. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan para pemilik ilmu itu ibarat lembah yang bisa menampung air yang bermanfaat bagi alam sekitar, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Perumpamaan dari petunjuk ilmu yang aku diutus dengannya bagaikan hujan yang menimpa tanah, sebagian di antaranya ada yang baik (subur), yang mampu menampung air dan menumbuhkan tetumbuhan dan rumput-rumputan yang banyak, di antaranya lagi ada sebagian tanah keras yang mampu menahan air yang dengannya Allah memberikan manfaat kepada manusia untuk meminum, mengairi tanaman, dan bercocok tanam…..” (HR. Bukhari & Muslim)
  6. Ilmu Agama adalah jalan menuju surga (jannah), tiada jalan pintas menuju surga kecuali dengan ilmu. Sabdanya Shallallahu ‘alaihi wasallam:
    Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudah kan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak.” (HR. Muslim)
  7. Pemahaman Ilmu agama seorang hamba merupakan pertanda kebaikan. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ “Siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, akan di pahamkan baginya masalah agama” (HR. Bukhari)

Masalah terbesar di kalangan Ummat ini adalah kebodohan terhadap agamanya. Maka diperlukan usaha nyata untuk memecahkan problem tersebut. Tanpa melalaikan ilmu dunia, ilmu agama harus diprioritaskan karena hukum dan manfaatnya jauh lebih tinggi dibanding ilmu duniawi. Hal inilah yang sekarang ini terbalik. Ummat lebih mementingkan ilmu dunia dan cenderung melupakan ilmu Agama. Padahal tidak ada obat bagi kebodohan kecuali dengan ilmu. Kebodohan dalam hal apapun! Bahkan ketika di antara kita ada yang mengatakan “kita harus seimbang antara dunia dan akhirat”. Maka pada hakikatnya perkataan itu hanyalah usaha untuk menutupi kebodohan terhadap ilmu Agama. Bagaimana dikatakan seimbang, di kala dia tidak mengetahui syarat Laa Ilaha Illallah serta pembatal-pembatalnya, konsekuensi 2 kalimat syahadat, rukun-rukun shalat, dan ilmu-ilmu dasar lainnya. Sementara dia mengetahui sekian banyak ilmu dunia, akuntansi, geografi, matematika, kimia dan ilmu yang bersifat duniawi secara mendetail. Bukanlah hal tercela diantara kita mendalami ilmu tersebut, namun yang dicela adalah ketika ilmu-ilmu tersebut mereka kuasai, tapi ilmu Agama adalah nol besar jika tidak mau dikatakan minus.

KESIMPULAN

Ilmu yang Allah ‘azza wa jalla puji dalam Al Qur’an dan melalui lisan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam mutlak kabaikan bagi pelakunya adalah ilmu agama. Allahu a’lam bish showab. Namun demikian tujuan akhir dari suatu ilmu pengetahuan tetap menjadi penentu dari nilai keunggulan ilmu itu sendiri. Kemuliaan sesuatu yang akan dicapai melihat mulianya  hasil yang akan dicapai. Mana-mana ilmu yang  tujuan akhirnya lebih baik maka lebih utama ilmu tersebut untuk di pelajari

Semoga Allah memberikan Taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk bisa menuntut ilmu dan mengamalkannya. Aamiin.

Referensi;

  1. Kitabul ‘Ilmi , Syaikh Utsaimin terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KS
  2. Muslimah.or.id
  3. Ceramah KH Uzairon Temboro
  4. Tulisan Mas Aditya
  5. Dll

Cisitu Lam Bandung 00.01 Dinihari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.