“17 BAHAYA RIBA” (Haram hukum-nya, Di Ancam siksa neraka yang pedih, Sejalan dengan perbuatan syetan, Membinasakan Manusia, Dosanya lebih besar dari zina, Hartanya tidak berkah, Doa-nya tidak dikabulkan…..)

07 Desember 2018

APAKAH KE-ISLAMAN KITA SUDAH KAFAH (MENYELURUH), KENAPA KITA MASIH MELAKUKAN RIBA PADAHAL ALLOH TELAH MELARANGNYA DAN MENGHARAMKAN-NYA.

Saya sebagai pribadi, orang awam, keluarga dan masyarakat yang beragama islam sudah selayaknya (sepatutnya) untuk berusaha secara terus menerus bisa melakukan implementasi islam secara kafah dalam kehidupan ini.  Al-Quran secara tegas menyeru orang-orang beriman untuk melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh, tanpa membeda-bedakan ajaran yang satu dengan ajaran yang lain. Yang Gampang dan yang susah, yang enak dilakukan dan yang tidak enak dilakukan oleh manusia. Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala berfirman menyeru para hamba-Nya yang beriman kepada-Nya serta membenarkan rasul-Nya untuk mengambil seluruh ajaran dan syari’at; melaksanakan seluruh perintah dan meninggalkan seluruh larangan sesuai kemampuan mereka.” (Tafsir Ibn Katsir 1/335).

Kita perhatikan ayat ini, setelah Allah ta’ala mengajak para hamba-Nya yang beriman untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dan melaksanakan ajaran-Nya tanpa mengesampingkan ajaran yang lain, maka Allah ta’ala memperingatkan hamba-Nya agar tidak mengikuti langkah syaithan, yaitu dengan firman-Nya,

وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan.” (QS. Al Baqarah: 208)

Ayat ini menunjukkan indikasi bahwa, di sana hanya terdapat dua buah pilihan, yaitu: Pertama, masuk ke dalam Islam secara keseluruhan dengan melaksanakan ajarannya yang komprehensif dan paripurna, atau apabila tidak mau melaksanakan ajaran Islam secara keseluruhan, maka yang ada hanya pilihan Kedua, yaitu mengikuti langkah-langkah syaithan dengan melakukan pembeda-bedaan ajaran Islam atau meremehkan sebagian ajarannya.

Riba adalah salah satu dari 7 (tujuh) dosa besar yang sangat berbahaya, hal ini bisa dilihat dari sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam dalam sebuah hadist berikut :

اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ

وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ

وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

Artinya:

“Jauhilah tujuh (dosa) yang membinasakan!” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allah; sihir; membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan haq; memakan riba; memakan harta anak yatim; berpaling dari perang yang berkecamuk; menuduh zina terhadap wanita-wanita merdeka yang menjaga kehormatan, yang beriman, dan yang bersih dari zina.” (HR.  Bukhari dan Muslim / Shahih At targhib wa at tarhib, buku 3, Pasal 11)

DARI KECIL TIDAK DIAJARI BAHWA RIBA ADALAH DOSA BESAR DAN HARAM HUKUMNYA.

Terus terang dari kecil (SD, SMP, SMA sampai kuliah) lingkungan saya sangat jauh dari lingkungan islami yang kafah, jauh dari kehidupan yang religious, atau jauh dari pesantren, atau jauh dari kehidupan seorang anak kyai. Ya…. ilmu agama hanya sebagai sambilan. Sehingga baru betul betul tahu masalah riba setelah kerja selama 17 tahun (2010). Waktu SD, SMP, SMA, sampai kuliah, jarang sekali bahkan guru guru kita tidak pernah memberikan pengajaran bahwa Riba adalah Haram hukumnya.  Realitas menyedihkan dari kehidupan modern di sebagian besar dunia ini adalah riba menjadi begitu marak, luas dan mendasar implementasinya bagi struktur ekonomi kita. Bahkan  masyarakat sudah menganggap sebagai hal biasa dan diperlukan. Faktanya, ia adalah sebuah inovasi yang jahat dan sumber kejatuhan ekonomi dan spiritual masyarakat kapitalis. Padahal pelaksanaan syariah (Islam) tanpa akidah (iman/tauhid) yang benar maka Alloh tidak akan menerimanya.

PUNYA KARTU KREDIT? PINJAMAN ATAU HUTANG BANK KONVENSIONAL

Pikirkan sejenak untuk merenungkan tagihan bulanan keluarga Anda atau yang semacamnya. Hari ini, banyak umat muslim membayarkan bunga sewa rumah, sewa mobil, dan kartu kredit. Bunga bukan sekedar meningkatnya jumlah biaya yang Anda bayar dan berapa lama Anda membayar. Dalam banyak kasus, hal itu membuat jumlah total utang Anda tidak diketahui dan berubah-ubah bergantung pada beberapa keadaan; meskipun Anda ahli dalam hukum kontrak, banyak yang harus diperhatikan.

Selanjutnya, pinjaman, khususnya yang melibatkan riba, membuat Anda bergantung dan diatur oleh beberapa orang atau organisasi yang kebanyakan tidak peduli tentang nilai nilai Islam yang sesungguhnya. Salah satu tujuan mengikuti Islam adalah menjadikan kita seseorang yang merdeka, hanya bergantung pada Tuhan dan bukan pada makhluk-Nya. Memiliki utang, khususnya yang melibatkan bunga, dapat merusak spiritual, fisik, emosional, dan psikologi kita.

Riset kecil dalam sejarah dari satu aspek riba modern, kartu kredit, menunjukkan betapa berbahayanya ia bagi ekonomi dan nasabah. Perusahaan kartu kredit menganggap orang-orang yang membayar saldo mereka setiap bulan sebagai “deadbeats”, dan mereka melakukan segala cara untuk menemukan jalan untuk mengenakan bunga lebih dan membuat orang-orang tidak dapat membayar saldo mereka setiap bulan. Mereka sengaja mendorong nasabah untuk mengambil utang terus-menerus dengan tingkat bunga yang orang-orang tidak dapat kendalikan. Tujuan mereka adalah menjebak nasabah dalam kehidupan yang dipenuhi utang. Kartu kredit mutlak mengenai keserakahan atau ketamakan bukan kenyamanan.

Biasanya, mahasiswa muda untuk pertama kalinya mulai mendapati diri mereka mengeluarkan uang dengan boros, dan ketika mereka mulai melakukan pembelian besar seperti mobil, rumah, dan bayar pendidikan kuliah, mereka tiba-tiba terjebak dalam utang yang luar biasa. Orang-orang yang sejatinya sejahtera dan bahagia adalah mereka yang hidup dalam batas kemampuannya dan tidak mengambil apa yang mereka tidak bisa bayar tanpa pinjaman.

Model ekonomi Islam dan kapitalis, mode yang berbasis-riba sangatlah berbeda. Islam sejatinya adalah suatu jalan hidup bagi setiap individu dan masyarakat yang, jika diikuti, tidak akan membebani berjuta-juta orang dengan utang yang merusak dan pembayaran bunga tiada-akhir. Dalam kondisi ekonomi saat ini, banyak orang merasakan konsekuensi negatif riba dan materialisme. Bayangkan bagaimana berbagai hal itu pada hari ini jika kita semua menolak untuk berurusan dengan bunga, sebagaimana yang Imam Ali sarankan.

Apapun situasi Anda saat ini, ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk tetap menjalankan nasihatnya. Jika kita berada dalam utang, buatlah anggaran yang tepat dan konsistenlah, kemudian bayar utang kita sesegera mungkin. Cobalah untuk menghindari pembelian yang melibatkan bunga—atau tundalah pembelian sampai kita bisa menabung, mencari pilihan pembiayaan alternatif, atau terimalah apa yang ada kalau tidak mampu. Kita mungkin dapat membantu mendidik orang lain tentang keuangan pribadi atau menyediakan dana untuk pinjaman bebas-bunga atau sedekah untuk membantu orang menyelematkan pendidikan, transportasi, dan perumahan tanpa mengambil bunga darinya.

DEFINISI RIBA SECARA UMUM

Riba adalah menetapkan tambahan atau bunga dalam jumlah tertentu yang telah disepakati bersama yang biasanya berlaku dalam urusan pinjam meminjam uang. Riba sudah menjadi hal yang sangat umum, mudah ditemui dimana saja dan dilakukan oleh siapa saja. Dari hal yang sepele hingga hal yang besar banyak diantaranya mengandung riba. Riba yang paling mudah dijumpai ialah adanya bunga tambahan yang harus dibayarkan ketika membayar pinjaman.

Sering kita menemui di berbagai lembaga tentang kemudahan untuk bertransaksi dan mendapat pinjaman dengan syarat akan mengembalikan uang yang dipinjam tepat waktu beserta uang atau bunga tambahan yang telah ditetapkan, jika ada keterlambatan atau kekurangan pun akan dikenakan denda yang dibebankan pada peminjam. Bagaimana pandangan mengenai hal tersebut menurut islam? apakah termasuk dosa besar dalam islam? Untuk memahaminya lebih dalam, hayuuuk simak penjelasan berikut ini mengenai bahayanya riba.

BAHAYA-NYA RIBA

  1. Haram Hukumnya,

Riba adalah perbuatan yang haram, riba yang umum misalnya yang terdapat dalam pinjaman walaupun dimaksudkan untuk menambah rezeki tetap saja tidak boleh untuk dilakukan. Hal yang sudah biasa terjadi dalam masyarakat ini merupakan sesuatu yang berbahaya dan merusak masa depan baik bagi pelaku riba maupun orang yang membantunya. “Dan riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah dan apa yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah maka yang berbuat demikian itulah orang orang yang melipatgandakan pahalanya”. (QS Ar Ruum : 39). Alloh Berfirman “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Banyak cara menjadi orang sukses menurut Al Qur’an yang halal, da riba tidak termasuk di dalamnya.

  1. Mendapat Siksa yang Pedih

“Disebabkan mereka memakan riba padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk mereka itu siksa neraka yang pedih”. (QS An Nisa : 161). Sesuatu yang dilarang Allah tetapi tetap dilakukan maka hukumnya tidak lain adalah mendapat siksa yang pedih di akherat apalagi jika dilakukan oleh seseorang yang sudah memahami akan larangan tersebut. Rasa iman dalam islam seharusnya bisa mencegah seseorang dari riba sehingga terhindar dari siksa pedih di akherat yang tentu buka urusan ringan tetapi merupakan siksa yang kekal.

  1. Dilarang Allah

Riba memang akan menghasilkan keuntungan secara duniawi karena mendapat uang lebih dari uang yang sebelumnya diberikan atau dipinjamkan, tetapi hal tersebut dilarang Allah karena bukan cermin dari orang yang beriman, apapun yang dihasilkan dari riba barang yang haram karena dilarang oleh Allah. dunia menurut islam memang penuh dengan ujian, termasuk adanya perbuatan riba untuk menguji tingkat keimanan manusia. “Hai orang orang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan”. (QS Ali imran : 130).

  1. Sejalan dengan Syetan

“Orang orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran tekanan penyakit gila”. (QS Al Baqarah : 275). Syetan selalu mengarahan manusia untuk melakukan segala sesuatu yang dilarang Alah, begitu pula dengan riba, orang yang melakukan riba sama saja seperti menjalani hidup yang sejalan dengan syetan karena kerakusan yang dimilikinya. sifat rakus juga nantinya akan menimbulkan kesombongan dalam islam yang berbahaya.

  1. Kekal di Dalam Neraka

“Maka orang itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menghalalkan sedekah”. (QS Al Baqarah : 276). Sebagaimana yang kita ketahu bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara dan kehidupan yang abadi adalah kehidupan di akherat. begitu pula yang berhubungan dengan kehidupan di neraka, orang yang melakukan riba sepanjang hidupnya memiliki urusan dan harta yang tidak berkah, nantinya ia akan menjadi penghuni neraka yang kekal jika ia tidak menghentikan kebiasaan dosa besar tersebut.

  1. Membinasakan Umat Manusia

“Hindarilah tujuh hal yang membinasakan,…..memakan riba….”. (HR Muslim). cuplikan dari hadist tersebut berisi tentang tujuh hal yang membinasakan manusia, diantaranya tujuh hal tersebut ialah memakan riba, yakni seseorang yang memiliki pekerjaan dalam kesehariannya berupa urusan yang berhubungan dengan riba, ia akan binasa karena perbuatan dosa yang dilakukannya sendiri. apapun yang dilarang Allah memang akan tetap menimbulkan kerugian.

  1. Semua yang Berperan Turut Berdosa

“Rasulullah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, juru tulis transaksi riba, dua orang saksinya, semuanya sama saja”. (HR Imam Muslim). orang yang berdosa karena dilakukannya riba bukan hanya yang memiliki modal utama atau yang melakukan secara langsung, tetapi juga orang orang yang berperan di dalamnya. Misalnya ialah dalam suatu lembaga keuangan yang bekerja dengan sistem riba, maka setiap karyawan yang bekerja di dalamnya juga turut menanggung dosanya.

  1. Mendapat Azab Berat

“Lelaki yang di pinggir sungai melempar batu ke mulutnya hingga berdarah dan kembali seperti semula. Aku (Rasulullah) bertanya, apa ini? salah seorang lelaki yang bersamaku menjawab, yang engkau lihat dalam sungai darah itu adalah pemakan riba”. (HR Imam Al Bukhari). Hadist tersebut ialah sebuah kisah mimpi yang dialami oleh Rasulullah tentang seseorang yang disiksa di akherat, ternyata orang tersebut ialah pemakan riba hingga di akherat ia mendapat penyiksaan yang berat dan dilakukan secara terus menerus.

  1. Dosa Lebih Besar Dari Zina

“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui bahwa di dalamnya adalah hasil riba, dosanya itu lebih besar dari melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali”. (HR Ahmad). Sering kita memandang buruk terhadap seseorang yang melakukan perbuatan zina, padahal ternyata riba yang sering disepelekan memiliki kadar dosa yang jauh lebih besar dari zina. Tentu azabnya juga akan lebih berat, di dunia maupun di akherat.

  1. Kufur Bagi yang Menghalalkan

“Sekali kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (QS Al Muthaffifin : 14). Riba membuat siapapun yang melakukannya menjadi seseorang yang memiliki hati yang keras dan menjadi orang yang kufur. Hal tersebut akan membuat orang tersebut melakukan perbuatan perbuatan yang tercela lebih banyak lagi.

  1. Menimbulkan Sifat Tamak

Jelas bahwa riba memang memberikan keuntungan yang besar bagi pihak yang memiliki modal, hal tersebut akan menimbulkan sifat tamak karena orang ingin mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi. Sifat tamak tersebut nantinya akan menimbulkan sifat buruk lain seperti sifat kikir, sifat sombong, dan menggunakan harta hasil riba tersebut untuk segala kenikmatan duniawi.

  1. Menyusahkan Orang Lain

Jelas bahwa riba akan menyusahan orang lain karena menambah beban, misalnya ialah riba yang berhubungan dengan pinjaman uang, tentu orang yang meminjam berada dalam kondisi susah dan membutuhkan pertolongan berupa pinjaman uang, tetapi keadaan tersebut justru menjadi sarana untuk menambah beban yang dialami.

  1. Menularkan Keburukan

Riba menularkan keburukan karena semua yang terlibat ikut menanggung dosanya seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa semua yang terlibat seperti saksi, pencatat, dan lain lain yang berhubungan walaupun memiliki peran yang kecil, tetap saja terkena dosa sehingga riba akan menularkan keburukan kepada sekitarnya.

  1. Hartanya Tidak Berkah

“Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram akan berhak dibakar dalam api neraka”. (HR At Tirmidzi). Jika ada seseorang yang bekerja dengan sistem riba, maka jika harta tersebut diberikan kepada keluarga atau orang terdekatnya, maka harta tersebut tidak menimbulkan keberkahan, justru orang yang diberi tersebut akan ikut menanggung dosa atau siksa di akherat.

  1. Tidak Mendapat Pahala Jika Diamalkan

Amalan berupa sedekah atau memberi bantuan kepada seseorang yang membutuhkan yang hartanya didapatkan dari riba maka tidak akan diterima oleh Allah, Allah tidak menerima amal perbuatan yang berasal dari harta walaupun amalan tersebut dilakukan dengan keinginan dan niat yang baik. sehingg amal perbuatannya sia sia.

  1. Tidak Memiliki Iman

Iman artinya ialah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya dengan niat karena ibadah. Orang yang melakukan riba berarti tidak memiliki iman di hatinya karena melanggar perintah Allah. Riba ialah perbuatan dosa yang memiliki banyak pintu keburukan seperti pada hadist berikut “Riba itu ada 73 pintu dosa yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri”. (HR Al Hakim).

  1. Doa Tidak Dikabulkan

“Makanan dan minumannya berasal dari yang haram, pakaiannya haram dan dikenyangkan oleh yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan Allah?” (HR Muslim). orang yang melakukan riba artinya memiliki berbagai barang dari sesuatu yang haram. Hal tersebut akan berpengaruh dalam kesehariannya yakni ketika ia memohon sesuatu dan berdoa, doanya tidak akan dikabulkan oleh Allah.

MENGAJAK SEMUA ORANG UNTUK MENGHINDARI RIBA

Sebagai umat muslim, sudah selayaknya kita menghindari segala perbuatan yang dilarang oleh agama termasuk perbuatan riba, sekarang anda sudah mengerti dengan jelas bukan?, apa saja bahaya riba dalam islam? Jangan lupa untuk menghindarinya agar terhindar dari dosa. Semoga bermanfaat. Aamiin.

Referensi;

  1. Alquran
  2. Hadist dalam Shahih At targhib wa at tarhib, buku 3

Kudon, kalirejo, Wirosari 10.41 PM, Parsuwot

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.