“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita cita (perhatiannya), maka Alloh akan mencerai beraikan urusan-nya dan menjadikan kefakiran-nya di depan mata-nya… dan tidak memberikan dunia kepadanya kecuali yang telah ditakdirkan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya(Keinginan-nya), maka Alloh akan mengumpulkan urusannya (Mencukupi kebutuhannya), memberikan rasa kaya di dadanya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk” (Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib, Jilid 6, Hadist No. 3168)

14 Oktober 2018,

Alhamdullilah (Segala puji bagi Alloh), yang telah memberi nikmat yang paling besar yaitu nikmat iman dan islam, juga nikmat sehat dan waktu luang kepada kita untuk selalu berbagi ilmu dan saling menasihati dalam kebaikan, kebenaran dan kesabaran.  Allahuma sholi washolim ala nabiyyina Muhammad.

Bahasan kita kali ini adalah bagaimana agar hidup kita selamat di dunia dan di akhirat. Sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dalam hadist diatas, maka kita harus menempatkan kepentingan akhirat lebih tinggi, lebih diutamakan, lebih didahulukan atau lebih diprioritaskan dari kepentingan dunia”. Penulis dari kecil hidup di daerah pertanian tadah hujan (irigasi tidak ada atau belum sampai) dan masyarakatnya adalah “Abangan” artinya masyarakatnya yang islam nya masih belum kuat dan masih banyak yang berkeyakinan kejawen. Penulis menyadari bahwa jarang dari keluarga penulis atau kita yang meyakini dan sudah menerapkan pendidikan keimanan seperti ini bahwa “KEPENTINGAN AKHIRAT ITU HARUS LEBIH DIPRIORITASKAN ATAU LEBIH DIUTAMAKAN DARI KEPENTINGAN DUNIA INI”.

Dari kecil kita dididik oleh orang tua, guru kita dan lingkungan bahwa sukses adalah mendapatkan materi yang sebanyak banyaknya didunia ini. Sehingga menabung lebih diprioritaskan dari pada bersedekah, menabung lebih diprioritaskan dari pada berzakat dan berhaji. Banyak orang kaya tidak bersedekah dan tidak berhaji. Tidak malu melakukan suap untuk menjadi pegawai negeri atauatau abdi negara lainya (Guru, TNI, Polisi, Pemda, Lurah/Perangkat Desa, Pejabat dan Pegawai Pemerintah Lainya). Tujuan orang bersekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan dan uang semata. Koran koran, majalah dan berita berita masih banyak menyuarakan tentang jabatan dan kepangkatan dalam politik, kemewahan dan kehidupan orang orang kaya juga para artis bintang film dan lain sebagainya. Sehingga kehidupan masyarakat yang jauh dari pendidikan dan agama, akan semakin percaya kepada MATERIALISTIK (DUNIA). Yang penting berpangkat, yang penting menjadi pegawai negeri, yang penting menpunyai rumah mewah, yang penting mempunyai sawah yang luas dan lain lainnya. Betapa ngerinya kehidupan ini jika tidak ada orang yang baik, benar, jujur, dan adil, sehingga hukum rimba akan berlaku dinegeri ini, Naudubillahi mindalik.   

Betapa bodohnya kita(Dungu-nya kita), jika saat ini kita masih berpikiran bahwa kepentingan DUNIA dan AKHIRAT itu sama atau seimbang atau bahkan kepentingan Dunia lebih didahulukan dari kepentingan Akhirat seperti yang terjadi dibelahan dunia lain yang terjadi saat ini.

  1. Kehidupan di Akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaan-nya. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki, kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang terus menerus, tetap, dan kekal
    • Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaan nya (QS Al Isro Ayat 21)
    • ……………Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang  sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (QS Al-Ankabut Ayat 64)
    • Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. ( 17 )   Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Al A’la Ayat 17-18)
  2. Kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan, sesuatu yang melalaikan, dan hanyalah kesenangan yang menipu dan bisa merugikan.
    • Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. …….. (QS Al-Ankabut Ayat 64)
    • Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya (QS Al An’am Ayat 32)
    • Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS Al Hadid Ayat 20)
  3. Kehidupan dunia adalah rendah dan hina. Kehidupan dunia yaitu sesuatu yang sedikit dan kecil, kehidupan yang penuh dengan syahwat dan fitnah. Akhir dari dunia adalah kefanaan dan kemusnahan;
    • Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS At-Taubah Ayat 38)
    • Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadits ini yaitu)Yahya  memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu? (HR. Muslim, no. 2858 dan Ibnu Hibbân, no. 4315-at-Ta’lîqâtul Hisân dari al-Mustaurid al-Fihri Radhiyallahu anhu)
  4. Dunia ini dilaknat oleh Allâh Azza wa Jalla . Artinya, apa saja yang melalaikan manusia dari ibadah kepada Allâh maka dia terlaknat.
    • Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allâh dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, atau orang yang mempelajari ilmu (HR. at-Tirmidzi, no. 2322; Ibnu Mâjah, no. 4112; dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/135-136, no. 135 dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, no. 74. )
  5. Dunia ini lebih jelek daripada bangkai anak kambing yang cacat (Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian. (HR. Muslim, no. 2957))
  6. Dunia tidak berharga meskipun hanya seberat sayap nyamuk. (Seandainya dunia di sisi Allâh sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir (HR. At-Tirmidzi, no. 2320 dan Ibnu Mâjah, no. 4110)
  7. Dunia diumpamakan seperti makanan yang dikonsumsi oleh manusia, kemudian setelah itu menjadi kotoran (Sesungguhnya makanan anak Adam (makanan yang dimakannya) dijadikan perumpamaan terhadap dunia. Walaupun ia sudah memberinya bumbu dan garam, lihatlah menjadi apa makanan tersebut akhirnya (HR. Ahmad, V/136; Ibnu Hibbân, no. 2489))
  8. Seorang Muslim tidak boleh tertipu dengan nikmat-nikmat, kekayaan dan kesenangan dunia yang diberikan oleh Allâh kepada orang-orang kafir.
    • Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir (At-Taubah Ayat 55)
    • Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Rabbmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Thoha Ayat 131)
    • Tidakkah engkau ridha untuk mereka (orang-orang kafir) dunia sementara bagi kita akhirat (HR. Al-Bukhâri, no. 4913 dan Muslim, no. 1479)
    • Apakah engkau ragu wahai Ibnul Khatthab? Mereka adalah kaum yang disegerakan kebaikan-kebaikan untuk mereka di kehidupan dunia ini (HR. Al-Bukhâri, no. 2468; Muslim, no. 1479)
    • Jika engkau melihat Allâh memberi kepada seorang hamba apa yang disukainya di dunia padahal dia berbuat maksiat, maka itu adalah istidrâj. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat (yang artinya-red): “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. (HR. Ahmad, IV/145)
  9. Dalam mengejar dunia manusia berambisi, bahkan lebih rakus, lebih tamak, lebih serakah, lebih jahat dan lebih zhalim dalam merusak kehormatan dirinya dan agamanya dibanding dua ekor serigala yang dilepas di kerumunan kambing (Duaserigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya (HR. at-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad, III/456, 460; ad-Darimi, II/304))
  10. Janganlah bangga hanya dengan keuntungan dunia, bisa jadi keuntungan akhirat tidak dapat (……barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat (QS As Syuro Ayat 20))
  11. Orang orang yang lebih menyukai kehidupan dunia, dan menghalang halangi manusia dari jalan Alloh adalah Orang Orang yang yang berada dalam kesesatan yang sangat jauh (Orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh (QS Ibrahim Ayat 3))
  12. Dalam Alquran, Perintah Alloh kepada Nabi Muhammad Shollallohu Alaihi Wasalam, untuk menceraikan istri istrinya jika mereka lebih menginginkan dunia dan perhiasannya. (Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (QS Al Ahzab Ayat 28).
  13. Amalan amalan yang sholeh lebih baik pahalanya disisi Tuhan serta lebih baik untuk menjadi harapan dari pada Harta dan Anak anak yang kadang kadang susah untuk melakukan amalan sholeh
    • (Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (QS Al Kahfi Ayat 46))
    • Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allâh. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS Al-Munafikun Ayat 9)

Dari uraian diatas, sudah jelas dan gamblanglah bahwa kita harus menomorsatukan (Nomor 1) Akherat dari pada Dunia. Sekali lagi jangan disamakan. Lihat Alquran “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allâh kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allâh telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di  bumi. Sungguh, Allâh tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al Qashash Ayat 77). 

Ambilah kebutuhan didunia itu secukupnya. Jangan serakah, tamak, bermegah-megahan dan saling membanggakan kekayaan, kepangkatan, harta dan anak di dunia ini, karena dunia cuma sementara, fana dan binasa. Hidup di dunia ini merupakan kesempatan untuk beramal dan beribadah untuk bekal menuju akhirat. Dunia ini hanya sekejap, jadikanlah ia untuk ketaatan dan melakukan amal sholeh. Kita harus berlomba-lomba melaksanakan ketaatan kepada Allâh dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Semoga Alloh memberi kekuatan lahir batin untuk berada dijalan lurus, istikomah, sabar dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Amin

Cisitu Lama I, Bandung 17.14

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.