BETAPA AGUNG DAN MULIANYA SEORANG PENCARI/PENUNTUT ILMU AGAMA (ILMU SYAR’I) DAN ORANG YANG BERILMU DAN FAHAM TENTANG AGAMA (ILMU SYAR’I) ……..”Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Daud no. 3641)

07 Oktober 2018,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Bismillahirrahmanirrahim)

Segala puji dan kerajaan hanya milik Allah subhana wata’ala, Shalawat serta salam mari kita curahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan kita sepanjang hayat.

Dalam memaknai hadist diatas, mari kita renungkan ………betapa dahsyat, agung dan mulianya “PENUNTUT ATAU PENCARI ILMU AGAMA (ILMU SYAR’I)) sehingga Allah memberikan keistimewaan keistimewaan yang luar biasa; Alloh akan memberikan kemudahan baginya di antara jalan menuju surga. Malaikat  juga akan meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu dan dan jika sudah berilmu maka semua penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air akan ikut berdoa memintakan ampun kepada NYA. Dalam hadist tersebut diatas juga disebutkan tentang perbandingan keutamaan pencari atau penuntut ilmu dengan ahli ibadah yang digambarkan seperti cahaya bulan purnama dan cahaya bintang bintang. Diterangkan juga bahwa Ulama (Orang yang fakih atau faham dalam ilmu agama) adalah pewaris Nabi dan Nabi tidak mewariskan harta benda melainkan mewariskan ilmu agama. Barangsiapa yang mewariskan ilmu agama, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.

Perhatikan firman Alloh berikut ini “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Agama (Al Quran dan As Sunnah)) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (QS Al Baqoroh Ayat 269). 

“Jadi betapa bahagia dan mulia-nya jika seseorang (Kita, anak kita, orang tua kita, tetangga kita, saudara kita, masyarakat kita atau bangsa kita), sudah dipahamkan dalam masalah agama, maka kita sudah mendapatkan anugerah karunia yang banyak dari Alloh.” Alloh Subhanahu wata’ala telah memuji ilmu dan pemiliknya. Alloh juga mendorong para hambanya untuk berilmu dan memebekali diri dengan-nya.

Jadi Orang yang di pahamkan dalam agama, itulah yang dikehendaki kebaikan oleh Alloh. Dari Mu’awiyah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Yang dimaksud fakih dalam hadits bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari itu. Dikatakan fakih jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syari’at Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi, hal. 21

Alloh menegaskan bahwa orang yang berilmu dan tidak berilmu sangatlah berbeda jauh (tidak sama), sebagaimana orang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui atau antara orang hidup dan orang mati. Renungkan Firman-Nya berikut ini “……. Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS Az Zumar ayat 9).

Mencari dan menuntut ilmu agama (Ilmu Syar’i) adalah kewajiban bagi setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.” [HR. Ibnu Majah, no.224)[1]

Dalam hidup ini, kita harus selalu belajar agama (Ilmu Syar’i) secara terus menerus sampai ajal menjemput kita.  Ilmu Syar’i adalah cahaya penerang bagi kehidupan seorang hamba di dunia menuju ke alam akhirat. Maka, barangsiapa menuntut ilmu syar’i dengan niat ikhlas karena Allah dan dengan tujuan agar meraih keridhoan-Nya semata, niscaya ia tidak akan berhenti dan merasa bosan dari menuntut ilmu syar’i sebelum kematian menjemputnya.

Bahkan Dr Zakir Naik berpendapat bahwa salah satu profesi pekerjaan yang paling baik dan mulia yang harus dilakukan adalah BerDakwah untuk Dinul Islam, maka anak anak Dr Zakir Naik baik yang laki-laki atau perempuan disekolahkan untuk profesi berdakwah.

Diantara keutamaan keutamaan ilmu yang paling penting adalah:

  1. Ilmu adalah warisan para Nabi, karena para nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, tetapi mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mendapatkan ilmu maka ia telah mendapatkan warisan Nabi. Jika anda adalah diantara Alhi Ilmu maka anda adalah pewaris Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.
  2. Ilmu itu kekal sedangkan harta benda itu fana. Ilmu bermanfaat adalah salah satu pahala yang terus menerus didapat oleh para ahli ilmu biarpun mereka sudah meninggal. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
  3. Ilmu tidak membuat pemiliknya payah dalam menjaganya, karena tempatnya di hati dan pikiran, tempatnya dijiwa dan raga, sehingga tidak membutuhkan peti atau kunci. Ilmu akan menjaga kita dan membuat ketenangan, tetapi harta harus dijaga dan membuat tidak tenang.
  4. Dengan Ilmu, seseorang akan sampai menjadi saksi kebenaran. Allah berfirman ” Alloh menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Imron Ayat 18)
  5. Ilmu menghidupkan hati sebagaimana hujan menyuburkan tanah. Dari Abu Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  6. Ahli ilmu adalah salah satu dari dua bagian Ulil Amri yang diperintahkan Alloh untuk ditaati. Lihat Surat QS An Nisa ayait 49. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
  7. Ahli ilmu adalah orang2 yang menegakan perintah Alloh sampai hari kiamat.
  8. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menganjurkan boleh atau untuk iri dengan Ahli ilmu yang mengamalkan ilmu-nya.
  9. Ilmu adalah jalan kemudahan menuju surga (Lihat Hadist diatas)
  10. Mempelajari Ilmu Agama adalah kebaikan dan anugerah hikmah yang banyak.
  11. Ilmu adalah cahaya penerang atau petunjuk bagi hamba sehingga dia mengetahui bagaimana cara beribadah kepada Robbnya dan bermuamalah dengan Mahkluknya (Hablu Minalloh dan hablu Minanas).
  12. Alloh mengangkat Derajat Ahli Ilmu beberapa derajat diatas manusia biasa. Lihat QS Al Mujadilah ayat 11 ” Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah selalu membawa Pena dan Tinta (untuk mencatat hadits dan faedah ilmiyah, pent) meskipun Beliau telah lanjut usia. Maka Ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Sampai kapankah engkau berbuat demikian?” Beliau jawab: “Hingga aku masuk ke liang kubur.” (Lihat Manaaqibu Ahmad, karya Ibnul Jauzi hal.31, dan Talbiisu Ibliis, karya Ibnul Jauzi hal.400) .Beliau juga pernah berkata: “Aku akan terus-menerus menuntut ilmu agama sampai aku masuk ke liang kubur.” (Lihat Syarofu Ashhaabi Al-Hadiits, karya Al-Khothib Al-Baghdadi hal.136). Abu Ja’far Ath

Thobari rahimahullah menjelang wafatnya berkata: “Sepantasnya bagi seorang hamba agar tidak meninggalkan (kewajiban) menuntut ilmu agama sampai ia mati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dlm Tarikh Dimasyqo juz.52 hal.199. Lihat pula Al-Jaliisu Ash-Shoolih karya Al-Mu’afi bin Zakariya III/222)

Ada seseorang bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarok (ulama tabi’in) rahimahullah: “Sampai kapan engkau menulis (mempelajari) hadits?”  Beliau jawab: “Selagi masih ada kalimat bermanfaat yang belum aku catat.” (Lihat Al-Jaami’ Li Akhlaaqi Ar-Roowi, karya Al-Khothib Al-Baghdadi IV/419)

Adapun kunci penilaian dalam proses belajar harus kita lakukan (dalam Akidah, Ibadah, Muamalah dan Akhlak), apakah dalam proses dan hasil belajar kita itu betul atau tidak . Artinya jika kita setelah belajar itu, kita mendapat hidayah dan taufik maka itulah belajar yang betul. Jika setelah kita belajar atau mendengarkan ceramah2, menjadikan kita lebih tawadhu, lebih bijaksana, menjadi lebih sabar, tidak fanatik, dan menjadikan hati kita enak.

Saat ini teknologi berdakwah semakin beragam dan mudah diakses baik melalui media elektronik (TV, Radio, dll) dan Internet (Youtube, WA,… ) dan lain lain, sehingga kita dapat memilih ceramah atau tausiah yang berbobot dan bermanfaat buat kita sebagai pribadi, keluarga dan masyarakat.

MARI KITA TINGKATKAN IMAN, ISLAM DAN IHSAN KITA DENGAN BELAJAR LANGSUNG ATAU MENDENGARKAN CERAMAH2 ATAU TAUSIAH2 DARI PARA ULAMA / HABAIB / USTADZ / DA’I YANG LURUS DAN BENAR AKIDAH-NYA, IBADAH-NYA, MUAMALAH-NYA DAN AKHLAK-NYA”, SEHINGGA IMAN, ISLAM DAN IHSAN KITA BISA MENINGKAT MENJADI LEBIH BAIK, BERGUNA DAN BERMANFAAT BUAT DUNIA DAN AKHIRAT KELAK. Aamiin

Referensi:

  1. Alquranul Karim dan Hadist2 Rosullulloh
  2. Halal haram dalam islam (Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin)
  3. https://rumaysho.com/3314-keutamaan-ilmu-agama.html

Cisitu lama I, bandung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.