0045. MUKMIN YANG MANAKAH YANG PALING BAIK? MUKMIN YANG PALING BAIK ADALAH YANG PALING BAIK AKHLAKNYA (Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.”……….”) (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).

27 October 2018,

Segala puji dan kerajaan milik Alloh, yang menghidupkan, yang mematikan, yang menciptakan langit bumi se-isinya. Maha suci Alloh, tiada daya dan kekuatan kecuali dari-Mu ya,, Alloh. Semoga sholawat, keberkahan, keselamatan dan kesejahteraan senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam. Aamiin

Lebih dari 1400 tahun yang lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam sudah memberitahu kepada kita bahwa : Mukmin yang paling baik adalah Mukmin yang paling baik akhlak-nya.

Kata akhlak berasal dari kata khuluk yang dalam bahasa Arab artinya watak, kelakuan, tabiat, perangai, budi pekerti, tingkah laku dan kebiasaan. Seorang Mukmin harus mempunyai akhlak yang baik seperti:

  1. Tidak menyakiti orang lain (Suami istri, anak anak, Keluarga, Tetangga, Masyarakat, Bangsa dan Negara).
  2. Malu (Menutup aurat, menahan pandangan matanya, tidak banyak bergaya, menjauhi pergaulan bebas).
  3. Sopan dan Santun dalam berbicara
  4. Tidak berbohong atau dusta
  5. Tinggalkan perdebatan
  6. Tidak Bakhil (Ekspresi sifat tidak bakhil; Mengeluarkan zakat wajib, Memberikan shadaqah, Menyuguhi tamu, Memberikan hadiah, dll)
  7. Tidak dengki (Dengki akan melahirkan 8 buah kezaliman terhadap orang lain)
    • Hasud
    • Mencaci maki saat terjadi bala cobaan
    • Mendiamkan
    • Melecehkan, berpaling, menjauhi
    • Ghibah
    • Mengolok-olok
    • Menyakiti fisik
    • Menahan kucuran kemurahan (pemberian dan silaturrahim) yaitu : Menahan amarah. Memaafkan kesalahan manusia, Berbuat baik kepada orang yang memusuhi
  8. Tidak Iri (Hasud)
    • Permusuhan, kebencian, kemarahan, kedengkian.
    • Takabur dan arogan
    • Kegearan pada dunia
    • Ambisi kekuasaan
    • Kebusukan jiwa dan kekerdilan dari kebaikan
  9. Tidak terpedaya (Ghurur)
    • Ghurur adalah bentuk kelalaian dan keterpedayaan dan merupakan predikat yang menempel pada setiap penipu. Ghurur memiliki tiga sumber utama :
      • Tertipu oleh angan kehidupan dunia yaitu merasa Allah memberinya kehidupan dunia yang melebihi orang lain dan beranggapan karunia tersebut sebagai kelebihan, bukan sebagai kemurahan, dan mungkin mengandung ujian dan cobaan apakah ia bersyukur atau malah kufur.
      • Tertipu oleh janji setan yaitu setan senantiasa memberi bisikan yang membesarkan dirinya sehingga tidak lagi peduli pada dosa besar dan kecil.
      • Tertipu oleh angan ampunan Allah yaitu Allah mencela kalangan ahlul kitab, orang munafik, dan pemaksiat atas ilusi dan keterpedayaan mereka; Ilusi ahlul kitab bahwa dengan kekuatan yang dimiliki, mereka bisa mengalahkan Allah. Ilusi orang munafik adalah mereka berpikir bahwa di akhirat kelak mereka bisa mengatakan hal yang sama yang pernah mereka katakan kepada kaum mukminin sewaktu di dunia, bahwa mereka bersama-sama kaum mukminin.
    • Manifestasi ghurur cukup beragam, diantaranya :
      • Meremehkan amalan-amalan ringan
      • Mencemooh kaum papa dan fakir miskin, enggan bergaul dengan mereka.
      • Untuk mengatasinya, letakkanlah gumpalan pahala di depan mata Anda ketika melakukan amalan-amalan sepele dan ringan.
  10. Dan lain lainya.

Renungkan diri kita ini apakah kita sudah mempunyai akhlak yang baik? jika belum hayoo kita niatkan untuk memperbaiki akhlak kita yang masih tercela.

Mari kita didik anak anak kita, saudara saudara kita, tetangga tetangga kita, handai tolan, masyarakat kita, bangsa kita dan negara kita agar menjadi generasi yang baik akhlaknya. Mari Kita sebarkan, kita contoh kan dan kita praktek-kan akhlak yang baik seperti akhlak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, para sahabatnya dan Orang orang soleh yang mengikutinya.

Iklan

0044. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita cita (perhatiannya), maka Alloh akan mencerai beraikan urusan-nya dan menjadikan kefakiran-nya di depan mata-nya… dan tidak memberikan dunia kepadanya kecuali yang telah ditakdirkan baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya(Keinginan-nya), maka Alloh akan mengumpulkan urusannya (Mencukupi kebutuhannya), memberikan rasa kaya di dadanya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk” (Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib, Jilid 6, Hadist No. 3168)

14 Oktober 2018,

Alhamdullilah (Segala puji bagi Alloh), yang telah memberi nikmat yang paling besar yaitu nikmat iman dan islam, juga nikmat sehat dan waktu luang kepada kita untuk selalu berbagi ilmu dan saling menasihati dalam kebaikan, kebenaran dan kesabaran.  Allahuma sholi washolim ala nabiyyina Muhammad.

Bahasan kita kali ini adalah bagaimana agar hidup kita selamat di dunia dan di akhirat. Sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dalam hadist diatas, maka kita harus menempatkan kepentingan akhirat lebih tinggi, lebih diutamakan, lebih didahulukan atau lebih diprioritaskan dari kepentingan dunia”. Penulis dari kecil hidup di daerah pertanian tadah hujan (irigasi tidak ada atau belum sampai) dan masyarakatnya adalah “Abangan” artinya masyarakatnya yang islam nya masih belum kuat dan masih banyak yang berkeyakinan kejawen. Penulis menyadari bahwa jarang dari keluarga penulis atau kita yang meyakini dan sudah menerapkan pendidikan keimanan seperti ini bahwa “KEPENTINGAN AKHIRAT ITU HARUS LEBIH DIPRIORITASKAN ATAU LEBIH DIUTAMAKAN DARI KEPENTINGAN DUNIA INI”.

Dari kecil kita dididik oleh orang tua, guru kita dan lingkungan bahwa sukses adalah mendapatkan materi yang sebanyak banyaknya didunia ini. Sehingga menabung lebih diprioritaskan dari pada bersedekah, menabung lebih diprioritaskan dari pada berzakat dan berhaji. Banyak orang kaya tidak bersedekah dan tidak berhaji. Tidak malu melakukan suap untuk menjadi pegawai negeri atauatau abdi negara lainya (Guru, TNI, Polisi, Pemda, Lurah/Perangkat Desa, Pejabat dan Pegawai Pemerintah Lainya). Tujuan orang bersekolah hanya untuk mendapatkan pekerjaan dan uang semata. Koran koran, majalah dan berita berita masih banyak menyuarakan tentang jabatan dan kepangkatan dalam politik, kemewahan dan kehidupan orang orang kaya juga para artis bintang film dan lain sebagainya. Sehingga kehidupan masyarakat yang jauh dari pendidikan dan agama, akan semakin percaya kepada MATERIALISTIK (DUNIA). Yang penting berpangkat, yang penting menjadi pegawai negeri, yang penting menpunyai rumah mewah, yang penting mempunyai sawah yang luas dan lain lainnya. Betapa ngerinya kehidupan ini jika tidak ada orang yang baik, benar, jujur, dan adil, sehingga hukum rimba akan berlaku dinegeri ini, Naudubillahi mindalik.   

Betapa bodohnya kita(Dungu-nya kita), jika saat ini kita masih berpikiran bahwa kepentingan DUNIA dan AKHIRAT itu sama atau seimbang atau bahkan kepentingan Dunia lebih didahulukan dari kepentingan Akhirat seperti yang terjadi dibelahan dunia lain yang terjadi saat ini.

  1. Kehidupan di Akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaan-nya. Kehidupan akhirat adalah kehidupan yang hakiki, kehidupan yang sebenarnya, yaitu kehidupan yang terus menerus, tetap, dan kekal
    • Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaan nya (QS Al Isro Ayat 21)
    • ……………Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang  sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui. (QS Al-Ankabut Ayat 64)
    • Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. ( 17 )   Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS Al A’la Ayat 17-18)
  2. Kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan, sesuatu yang melalaikan, dan hanyalah kesenangan yang menipu dan bisa merugikan.
    • Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. …….. (QS Al-Ankabut Ayat 64)
    • Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya (QS Al An’am Ayat 32)
    • Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS Al Hadid Ayat 20)
  3. Kehidupan dunia adalah rendah dan hina. Kehidupan dunia yaitu sesuatu yang sedikit dan kecil, kehidupan yang penuh dengan syahwat dan fitnah. Akhir dari dunia adalah kefanaan dan kemusnahan;
    • Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS At-Taubah Ayat 38)
    • Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadits ini yaitu)Yahya  memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu? (HR. Muslim, no. 2858 dan Ibnu Hibbân, no. 4315-at-Ta’lîqâtul Hisân dari al-Mustaurid al-Fihri Radhiyallahu anhu)
  4. Dunia ini dilaknat oleh Allâh Azza wa Jalla . Artinya, apa saja yang melalaikan manusia dari ibadah kepada Allâh maka dia terlaknat.
    • Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu dilaknat dan dilaknat apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allâh dan ketaatan kepada-Nya, orang berilmu, atau orang yang mempelajari ilmu (HR. at-Tirmidzi, no. 2322; Ibnu Mâjah, no. 4112; dan Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jâmi’ Bayânil ‘Ilmi wa Fadhlih, I/135-136, no. 135 dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. Lihat Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb, no. 74. )
  5. Dunia ini lebih jelek daripada bangkai anak kambing yang cacat (Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan melewati pasar sementara banyak orang berada di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil. Sambil memegang telinganya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa diantara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian. (HR. Muslim, no. 2957))
  6. Dunia tidak berharga meskipun hanya seberat sayap nyamuk. (Seandainya dunia di sisi Allâh sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minum sedikit pun darinya kepada orang kafir (HR. At-Tirmidzi, no. 2320 dan Ibnu Mâjah, no. 4110)
  7. Dunia diumpamakan seperti makanan yang dikonsumsi oleh manusia, kemudian setelah itu menjadi kotoran (Sesungguhnya makanan anak Adam (makanan yang dimakannya) dijadikan perumpamaan terhadap dunia. Walaupun ia sudah memberinya bumbu dan garam, lihatlah menjadi apa makanan tersebut akhirnya (HR. Ahmad, V/136; Ibnu Hibbân, no. 2489))
  8. Seorang Muslim tidak boleh tertipu dengan nikmat-nikmat, kekayaan dan kesenangan dunia yang diberikan oleh Allâh kepada orang-orang kafir.
    • Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir (At-Taubah Ayat 55)
    • Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Rabbmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS Thoha Ayat 131)
    • Tidakkah engkau ridha untuk mereka (orang-orang kafir) dunia sementara bagi kita akhirat (HR. Al-Bukhâri, no. 4913 dan Muslim, no. 1479)
    • Apakah engkau ragu wahai Ibnul Khatthab? Mereka adalah kaum yang disegerakan kebaikan-kebaikan untuk mereka di kehidupan dunia ini (HR. Al-Bukhâri, no. 2468; Muslim, no. 1479)
    • Jika engkau melihat Allâh memberi kepada seorang hamba apa yang disukainya di dunia padahal dia berbuat maksiat, maka itu adalah istidrâj. Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat (yang artinya-red): “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) untuk mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa. (HR. Ahmad, IV/145)
  9. Dalam mengejar dunia manusia berambisi, bahkan lebih rakus, lebih tamak, lebih serakah, lebih jahat dan lebih zhalim dalam merusak kehormatan dirinya dan agamanya dibanding dua ekor serigala yang dilepas di kerumunan kambing (Duaserigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat rakus manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya (HR. at-Tirmidzi, no. 2376; Ahmad, III/456, 460; ad-Darimi, II/304))
  10. Janganlah bangga hanya dengan keuntungan dunia, bisa jadi keuntungan akhirat tidak dapat (……barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat (QS As Syuro Ayat 20))
  11. Orang orang yang lebih menyukai kehidupan dunia, dan menghalang halangi manusia dari jalan Alloh adalah Orang Orang yang yang berada dalam kesesatan yang sangat jauh (Orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh (QS Ibrahim Ayat 3))
  12. Dalam Alquran, Perintah Alloh kepada Nabi Muhammad Shollallohu Alaihi Wasalam, untuk menceraikan istri istrinya jika mereka lebih menginginkan dunia dan perhiasannya. (Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (QS Al Ahzab Ayat 28).
  13. Amalan amalan yang sholeh lebih baik pahalanya disisi Tuhan serta lebih baik untuk menjadi harapan dari pada Harta dan Anak anak yang kadang kadang susah untuk melakukan amalan sholeh
    • (Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan (QS Al Kahfi Ayat 46))
    • Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allâh. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS Al-Munafikun Ayat 9)

Dari uraian diatas, sudah jelas dan gamblanglah bahwa kita harus menomorsatukan (Nomor 1) Akherat dari pada Dunia. Sekali lagi jangan disamakan. Lihat Alquran “Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allâh kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allâh telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di  bumi. Sungguh, Allâh tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al Qashash Ayat 77). 

Ambilah kebutuhan didunia itu secukupnya. Jangan serakah, tamak, bermegah-megahan dan saling membanggakan kekayaan, kepangkatan, harta dan anak di dunia ini, karena dunia cuma sementara, fana dan binasa. Hidup di dunia ini merupakan kesempatan untuk beramal dan beribadah untuk bekal menuju akhirat. Dunia ini hanya sekejap, jadikanlah ia untuk ketaatan dan melakukan amal sholeh. Kita harus berlomba-lomba melaksanakan ketaatan kepada Allâh dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Semoga Alloh memberi kekuatan lahir batin untuk berada dijalan lurus, istikomah, sabar dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Amin

Cisitu Lama I, Bandung 17.14

 

0043. BETAPA AGUNG DAN MULIANYA SEORANG PENCARI/PENUNTUT ILMU AGAMA (ILMU SYAR’I) DAN ORANG YANG BERILMU DAN FAHAM TENTANG AGAMA (ILMU SYAR’I) ……..”Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Daud no. 3641)

07 Oktober 2018,

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (Bismillahirrahmanirrahim)

Segala puji dan kerajaan hanya milik Allah subhana wata’ala, Shalawat serta salam mari kita curahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, teladan kita sepanjang hayat.

Dalam memaknai hadist diatas, mari kita renungkan ………betapa dahsyat, agung dan mulianya “PENUNTUT ATAU PENCARI ILMU AGAMA (ILMU SYAR’I)) sehingga Allah memberikan keistimewaan keistimewaan yang luar biasa; Alloh akan memberikan kemudahan baginya di antara jalan menuju surga. Malaikat  juga akan meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu dan dan jika sudah berilmu maka semua penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air akan ikut berdoa memintakan ampun kepada NYA. Dalam hadist tersebut diatas juga disebutkan tentang perbandingan keutamaan pencari atau penuntut ilmu dengan ahli ibadah yang digambarkan seperti cahaya bulan purnama dan cahaya bintang bintang. Diterangkan juga bahwa Ulama (Orang yang fakih atau faham dalam ilmu agama) adalah pewaris Nabi dan Nabi tidak mewariskan harta benda melainkan mewariskan ilmu agama. Barangsiapa yang mewariskan ilmu agama, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.

Perhatikan firman Alloh berikut ini “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Agama (Al Quran dan As Sunnah)) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (QS Al Baqoroh Ayat 269). 

“Jadi betapa bahagia dan mulia-nya jika seseorang (Kita, anak kita, orang tua kita, tetangga kita, saudara kita, masyarakat kita atau bangsa kita), sudah dipahamkan dalam masalah agama, maka kita sudah mendapatkan anugerah karunia yang banyak dari Alloh.” Alloh Subhanahu wata’ala telah memuji ilmu dan pemiliknya. Alloh juga mendorong para hambanya untuk berilmu dan memebekali diri dengan-nya.

Jadi Orang yang di pahamkan dalam agama, itulah yang dikehendaki kebaikan oleh Alloh. Dari Mu’awiyah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037). Yang dimaksud fakih dalam hadits bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari itu. Dikatakan fakih jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syari’at Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi, hal. 21

Alloh menegaskan bahwa orang yang berilmu dan tidak berilmu sangatlah berbeda jauh (tidak sama), sebagaimana orang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui atau antara orang hidup dan orang mati. Renungkan Firman-Nya berikut ini “……. Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS Az Zumar ayat 9).

Mencari dan menuntut ilmu agama (Ilmu Syar’i) adalah kewajiban bagi setiap muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim.” [HR. Ibnu Majah, no.224)[1]

Dalam hidup ini, kita harus selalu belajar agama (Ilmu Syar’i) secara terus menerus sampai ajal menjemput kita.  Ilmu Syar’i adalah cahaya penerang bagi kehidupan seorang hamba di dunia menuju ke alam akhirat. Maka, barangsiapa menuntut ilmu syar’i dengan niat ikhlas karena Allah dan dengan tujuan agar meraih keridhoan-Nya semata, niscaya ia tidak akan berhenti dan merasa bosan dari menuntut ilmu syar’i sebelum kematian menjemputnya.

Bahkan Dr Zakir Naik berpendapat bahwa salah satu profesi pekerjaan yang paling baik dan mulia yang harus dilakukan adalah BerDakwah untuk Dinul Islam, maka anak anak Dr Zakir Naik baik yang laki-laki atau perempuan disekolahkan untuk profesi berdakwah.

Diantara keutamaan keutamaan ilmu yang paling penting adalah:

  1. Ilmu adalah warisan para Nabi, karena para nabi tidak mewariskan dirham dan dinar, tetapi mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mendapatkan ilmu maka ia telah mendapatkan warisan Nabi. Jika anda adalah diantara Alhi Ilmu maka anda adalah pewaris Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassalam.
  2. Ilmu itu kekal sedangkan harta benda itu fana. Ilmu bermanfaat adalah salah satu pahala yang terus menerus didapat oleh para ahli ilmu biarpun mereka sudah meninggal. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang manusia mati maka terputuslah darinya amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
  3. Ilmu tidak membuat pemiliknya payah dalam menjaganya, karena tempatnya di hati dan pikiran, tempatnya dijiwa dan raga, sehingga tidak membutuhkan peti atau kunci. Ilmu akan menjaga kita dan membuat ketenangan, tetapi harta harus dijaga dan membuat tidak tenang.
  4. Dengan Ilmu, seseorang akan sampai menjadi saksi kebenaran. Allah berfirman ” Alloh menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Imron Ayat 18)
  5. Ilmu menghidupkan hati sebagaimana hujan menyuburkan tanah. Dari Abu Musa, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
  6. Ahli ilmu adalah salah satu dari dua bagian Ulil Amri yang diperintahkan Alloh untuk ditaati. Lihat Surat QS An Nisa ayait 49. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.
  7. Ahli ilmu adalah orang2 yang menegakan perintah Alloh sampai hari kiamat.
  8. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menganjurkan boleh atau untuk iri dengan Ahli ilmu yang mengamalkan ilmu-nya.
  9. Ilmu adalah jalan kemudahan menuju surga (Lihat Hadist diatas)
  10. Mempelajari Ilmu Agama adalah kebaikan dan anugerah hikmah yang banyak.
  11. Ilmu adalah cahaya penerang atau petunjuk bagi hamba sehingga dia mengetahui bagaimana cara beribadah kepada Robbnya dan bermuamalah dengan Mahkluknya (Hablu Minalloh dan hablu Minanas).
  12. Alloh mengangkat Derajat Ahli Ilmu beberapa derajat diatas manusia biasa. Lihat QS Al Mujadilah ayat 11 ” Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah selalu membawa Pena dan Tinta (untuk mencatat hadits dan faedah ilmiyah, pent) meskipun Beliau telah lanjut usia. Maka Ada seseorang yang bertanya kepadanya: “Sampai kapankah engkau berbuat demikian?” Beliau jawab: “Hingga aku masuk ke liang kubur.” (Lihat Manaaqibu Ahmad, karya Ibnul Jauzi hal.31, dan Talbiisu Ibliis, karya Ibnul Jauzi hal.400) .Beliau juga pernah berkata: “Aku akan terus-menerus menuntut ilmu agama sampai aku masuk ke liang kubur.” (Lihat Syarofu Ashhaabi Al-Hadiits, karya Al-Khothib Al-Baghdadi hal.136). Abu Ja’far Ath

Thobari rahimahullah menjelang wafatnya berkata: “Sepantasnya bagi seorang hamba agar tidak meninggalkan (kewajiban) menuntut ilmu agama sampai ia mati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir di dlm Tarikh Dimasyqo juz.52 hal.199. Lihat pula Al-Jaliisu Ash-Shoolih karya Al-Mu’afi bin Zakariya III/222)

Ada seseorang bertanya kepada Abdullah bin Al-Mubarok (ulama tabi’in) rahimahullah: “Sampai kapan engkau menulis (mempelajari) hadits?”  Beliau jawab: “Selagi masih ada kalimat bermanfaat yang belum aku catat.” (Lihat Al-Jaami’ Li Akhlaaqi Ar-Roowi, karya Al-Khothib Al-Baghdadi IV/419)

Adapun kunci penilaian dalam proses belajar harus kita lakukan (dalam Akidah, Ibadah, Muamalah dan Akhlak), apakah dalam proses dan hasil belajar kita itu betul atau tidak . Artinya jika kita setelah belajar itu, kita mendapat hidayah dan taufik maka itulah belajar yang betul. Jika setelah kita belajar atau mendengarkan ceramah2, menjadikan kita lebih tawadhu, lebih bijaksana, menjadi lebih sabar, tidak fanatik, dan menjadikan hati kita enak.

Saat ini teknologi berdakwah semakin beragam dan mudah diakses baik melalui media elektronik (TV, Radio, dll) dan Internet (Youtube, WA,… ) dan lain lain, sehingga kita dapat memilih ceramah atau tausiah yang berbobot dan bermanfaat buat kita sebagai pribadi, keluarga dan masyarakat.

MARI KITA TINGKATKAN IMAN, ISLAM DAN IHSAN KITA DENGAN BELAJAR LANGSUNG ATAU MENDENGARKAN CERAMAH2 ATAU TAUSIAH2 DARI PARA ULAMA / HABAIB / USTADZ / DA’I YANG LURUS DAN BENAR AKIDAH-NYA, IBADAH-NYA, MUAMALAH-NYA DAN AKHLAK-NYA”, SEHINGGA IMAN, ISLAM DAN IHSAN KITA BISA MENINGKAT MENJADI LEBIH BAIK, BERGUNA DAN BERMANFAAT BUAT DUNIA DAN AKHIRAT KELAK. Aamiin

Referensi:

  1. Alquranul Karim dan Hadist2 Rosullulloh
  2. Halal haram dalam islam (Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin)
  3. https://rumaysho.com/3314-keutamaan-ilmu-agama.html

Cisitu lama I, bandung