“……DAN TOLONG MENOLONG-LAH KAMU DALAM KEBAJIKAN DAN TAKWA, DAN JANGAN TOLONG-MENOLONG DALAM BERBUAT DOSA DAN PELANGGARAN. DAN BERTAKWALAH KEPADA ALLOH, SESUNGGUHNYA ALLOH AMAT BERAT SIKSA-NYA (QS. Al-Mâidah: 2)

30 September 2018,

Ustad Abdul Somad di Persekusi (Dimusuhi, pengajianya dibubarkan…)

Jaman sudah “Jaman akhir”, lihat diri kita, lihat keluarga kita, lihat masyarakat kita, lihat siapa para pemimpin kita? (Dari aparatur pemerintahan, lembaga tinggi negara, DPR, Polri, TNI, Juga para pemimpin ormas2, partai2, para pemimpin media cetak dll), bagaimana proses mereka menjadi pemimpin? apa yang mereka pikirkan saat ini? Saya sebagai pribadi sebetulnya sangat malu dan sedih karena tidak bisa berbuat apa apa dalam membantu menyelesaikan atau mendamaikan masalah2 perselisihan dan permusuhan bangsa ini. Sudah 73 tahun negara kita merdeka, namun bangsa ini masih belum bisa bersaing dengan negara negara tetangga seperti malaysia, singapura dll. Kenapa? salah satu faktornya adalah  bangsa ini “BELUM BISA RUKUN ALIAS SELALU BERTENGKAR DALAM HAL2 KECIL YANG TIDAK ADA MANFAATNYA”, masing masing golongan dan masyarakat ingin menang sendiri, masih sering saling menghujat, saling menyerang,  sering bertengkar, saling berselisih dan alasan berselisihnya adalah memperebutkan dan mempermasalahkan hal2 yang tidak utama dan cara cara yang ditempuhnya sangat kasar dan sangat tidak bermoral dan tidak etis. Coba bayangkan ….. Orang seperti Ustad Abdul Somad yang sudah mengklarifikasi berkali kali dalam media dan siap dipanggil oleh lembaga apapun masih aja dihubungkan dengan Ormas yang sudah dibubarkan. Dan yang mempersekusi itu adalah ormas yang notabene sering dibela oleh Ustad Abdul Somad. Terus pinter-nya kita itu dimana? Yang diributkan kok cuma hanya pendapat dan Pemikiran yang berbeda yang nota bene tidak penting sama sekali dan sangat mikro. Coba lihat Orang lain? apakah tidak ada perbedaan ediologi pemikiran dengan kita? Tanya Nurani kita-lah? Apakah kalian tahu dosa-nya orang orang yang menyusahkan orang lain apalagi ulama?

Dalam Islam kita diperintah untuk “TOLONG MENOLONG dalam KEBAJIKAN DAN TAKWA, dan dilarang untuk melakukan TOLONG-MENOLONG dalam BERBUAT DOSA DAN PELANGGARAN. Tapi dalam kenyataan-nya banyak pemimpin yang beragama islam yang tidak mempraktekan-nya. Para Pemimpin hendaknya memiliki sifat2 dan karakter seorang pemimpin yang baik, seperti SIDIK, AMANAH, TABLIG, FATHONAH:

  1. Sidik berarti benar. Benar dalam perkataan maupun perbuatan.
  2. Amanah memiliki arti benar-benar dapat dipercaya. Di zaman sekarang, nilai amanah semakin luntur. Banyak sekali kasus korupsi di tempat bekerja atau tempat lain. Karakter pemimpin saat ini banyak yang dianggap tak layak, tetapi haus akan jabatan membuat orang tak peduli untuk saling sikut.
  3. Tablig yang berarti menyampaikan. Sebagai umat muslim, kita memiliki kewajiban untuk menyampaikan kebenaran, meskipun pahit. Berusaha untuk menyampaikan sesuatu yang benar, harus disertai dengan hati yang lapang. Cenderung, orang tidak mau menerima kritik atau masukan yang pahit. Lakukan secara perlahan, pahami karakter orang lain dan berpikiran terbuka.
  4. Fatonah berarti cerdas. Cerdas bukan berarti sesuatu yang harus sempurna di bidang akademik saja, melainkan juga berpikir terbuka dan berbeda. Artinya, kita harus aktif dan memandang sesuatu dari segi kebaikan.

Apa kita tidak malu, ormas islam mempersekusi orang dan ulama islam? tabayun dulu, jika harus memberi kritik ya… harus yang elegan dan saling menghormati” Coba tanyakan ke hati nurani kita? Apakah persekusi seperti ini itu islami? Apakah kalian mau dipersekusi seperti ini?

Hidup di dunia ini hanya sementara dan sangat sebentar. Janganlah terlena oleh gemerlap indahnya dunia karena sesungguhnya keindahan yang hakiki adalah surga-Nya Allah. Para pemimpin yang kurang amanah, kurang dewasa dan kurang bijaksana dalam menyikapi persoalan kebangsaan dan kenegaraan akan ditanya dan mempertanggung jawabkan-nya di akherat kelak.

Semoga Ormas Islam, Partai Islam, Orang dan Masyarakat Islam bisa Islah, saling memaafkan dan saling memperbaiki, saling menolong dalam kebajikan dan takwa dan tidak melakukan TOLONG-MENOLONG dalam BERBUAT DOSA DAN PELANGGARAN (Mempersekusi Orang lain apalagi Ulama).

Cisitu Lama I, bandung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.