Rasulullah Bersabda “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan “DEBAT” meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan “DUSTA” meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan “AKHLAKNYA”.” (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167]

23 Sept 2018,

Mari kita renungkan makna hadist diatas….. betapa sangat indah dan luar biasa ISLAM ini…. Ya Muqolibal khulub Sabit Qolbi Ala Dini’

  1. Meninggalkan “PERDEBATAN”, walaupun di pihak yang benar akan mendapatkan sebuah rumah di dasar “SURGA”.
  2. Meninggalkan “DUSTA” meskipun dalam keadaan bercanda akan mendapatkan sebuah rumah ditengah “SURGA”.
  3. Membaguskan “AKHLAK” akan mendapatkan sebuah rumah di bagian ter-atas “SURGA”.

MENINGGALKAN “PERDEBATAN”

Kadang dalam hati kita masih ada terbesit bahwa jika kita menang dalam perdebatan atau berargumentasi atau silang pendapat dalam sesuatu persoalan maka hati kita senang dan bangga. Padahal banyak ayat dalam Alquran dan Hadist bahwa kita dilarang untuk saling berbantah bantahan atau melakukan perdebatan yang niatnya bukan amar ma’ruf nahi mungkar, bukan untuk perbaikan akidah, muamalah dan akhlak tapi hanya untuk kemenangan (menjatuhkan lawan) bukan kebenaran. Misalnya berdebat untuk maksud pen-citraan atau menipu masyarakat, berdebat tentang hukum halal haram yang mana dengan menggunakan dan mentakwil Alquran dengan ayat ayat muhtasabihat dan ingin sesuatu yang samar samar tersebut menjadi jelas (padahal yang tahu takfil-nya hanya Alloh).

Berbantah bantahan atau silang pendapat jika tidak didasari dengan niat hati yang baik, ikhlas dan benar dan dengan cara yang baik dan santun, maka akan terjadi permusuhan dan dendam. Mari kita lihat dalil dalil dari Alquran dan Hadist yang memperingatkan kita tentang larangan dan anjuran berdebat:

  1. “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (QS Al Imron Ayat 7).
  2.  “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” ( QS. Al Anfaal-Ayat 46)
  3. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras dalam perbantahan/pertengkaran” (HR. Bukhari & Muslim)
  4. “Bacalah Al-Qur`an selama hati-hati kalian masih bersatu, maka jika kalian sudah berselisih maka berdirilah darinya”. (HR Bukhori & HR Muslim).
  5. “Sesungguhnya Nabi SAW pernah keluar sedangkan mereka (sebagian shahabat-pent.) sedang berselisih tentang taqdir, maka memerahlah wajah beliau bagaikan merahnya buah rumman karena marah, maka beliau bersabda : “Apakah dengan ini kalian diperintah?! Atau untuk inikah kalian diciptakan?! Kalian membenturkan sebagian Al-Qur’an dengan sebagiannya!! Karena inilah umat-umat sebelum kalian binasa” (Al-Musnad dan Sunan Ibnu Majah).
  6. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An-Nahl : 125)
  7. Diriwayatkan dari ‘Aisyah r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang paling dibenci Allah adalah orang yang paling keras penantangnya lagi lihai bersilat lidah’.” (HR Bukhari [2457] dan Muslim [2668]).
  8. Diriwayatkan dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, “Umar pernah berkata kepadaku, ‘Tahukah engkau perkara yang merobohkan Islam?’ ‘Tidak! Jawabku.’ Umar berkata, ‘Perkara yang merobohkan Islam adalah ketergelinciran seorang alim, debat orang munafik tentang Al-Qur’an dan ketetapan hukum imam yang sesat’.” (Shahih, HR Ad-Darimi [I/71], al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Faqiih wal Mutafaqqih [I/234], Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd [1475], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [IV/196]).
  9. Diriwayatkan dari Abu Ustman an-Nahdi, ia berkata, “Aku duduk di bawah mimbar Umar, saat itu beliau sedang menyampaikan khutbah kepada manusia. Ia berkata dalam khutbahnya, Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, perkara yang sangat aku takutkan atas ummat ini adalah orang munafik yang lihai bersilat lidah’.” (Shahih, HR Ahmad [I/22 dan 44], Abu Ya’la [91], Abdu bin Humaid [11], al-Firyabi dalam kitab Shifatul Munaafiq [24], al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimaan [1641]).
  10. Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw., “Perdebatan tentang Al-Qur’an dapat menyeret kepada kekufuran.” (HR Abu Daud [4603], Ahmad [II/286, 424, 475, 478, 494, 503 dan 528], Ibnu Hibban [1464]).
  11. Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amru r.a., ia berkata, “Pada suatu hari aku datang menemui Rasulullah saw pagi-pagi buta. Beliau mendengar dua orang lelaki sedang bertengkar tentang sebuah ayat. Lalu beliau keluar menemui kami dengan rona wajah marah. Beliau berkata, ‘Sesungguhnya, perkara yang membinasakan ummat sebelum kalian adalah perselisihan mereka al-Kitab’.” (HR Muslim [2666]).
  12. Diriwayatkan dari ‘Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya (yakni ‘Abdullah bin ‘Amru r.a.), bahwa suatu hari Rasulullah saw. mendengar sejumlah orang sedang bertengkar, lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya, ummat sebelum kalian binasa disebabkan mereka mempertentangkan satu ayat dalam Kitabullah dengan ayat lain. Sesungguhnya Allah menurunkan ayat-ayat dalam Kitabullah itu saling membenarkan satu sama lain. Jika kalian mengetahui maksudnya, maka katakanlah! Jika tidak, maka serahkanlah kepada yang mengetehuinya.” (Hasan, HR Ibnu Majah [85], Ahmad [II/185, 195-196], dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah [121]).
  13. “Tidaklah suatu kaum menjadi sesat setelah diberi petunjuk kecuali setelah mereka mendapati jidal/berdebat” kemudian Rasulullah SAW membaca ayat “Tidaklah mereka itu memberikan perumpamaan kepada engkau kecuali sekedar untuk untuk membantah saja, tetapi mereka itu adalah kaum yang suka bertemgkar.” (HR. At Tirmizi no: 3253, hasan shahih)

Sikap memperdebatkan ayat-ayat Allah ta’ala – baik berupa kabar maupun hukum, merupakan ciri khas orang-orang munafik, kafir & musyrik. Hal itu dikarenakan hawa nafsu & lemahnya keyakinan mereka terhadap ayat tersebut sehingga cenderung untuk menolaknya. “(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang” [QS. Al-Mukmin : 35].

MENINGGALKAN “DUSTA” (Sudah dibahas di Edisi Tulisan Sebelumnya…tgl 22 Sept 2018.)

Betapa Bahaya-nya Dusta, namun jika kita bisa meninggalkan-nya maka kita akan mendapatkan sebuah rumah di surga (Ya…. Alloh lindungi kami dari sifat dan perbuatan DUSTA..). Kadang kadang kita juga merasa senang, merasa lebih pintar dan bangga jika kita bisa berdiskusi, bercanda, ngobrol dan lain sebagainya bersama teman dengan “Kata kata dusta”, maka berhati hatilah seperti melakukan STAND UP KOMEDI, jangan menggunakan kalimat Dusta!!

Berbohong untuk melucu. “Celakalah orang yang berbicara, padahal ia berbohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Berbohong saat bercanda. “Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong saat bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” (HR. Ahmad).

Oleh karena itu, mari kita mawas diri, jangan sampai tanpa sadar kita melakukan kebohongan, meskipun itu terhadap anak-anak. Sebab, Allah tidak melihat kepada siapa kita berbohong, tetapi kenapa kita masih juga tidak mau berhati-hati dan lebih suka berbohong.

MEMBAGUSKAN “AKHLAK”

Inilah perbuatan yang mempunyai nilai yang sangat tinggi dan agung yang selalu dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. Ada pepatah untuk menyemangati kita “BILA KITA BELUM BAGUS AKHLAK-NYA MAKA KITA BELUM BERAGAMA SECARA BENAR”. Betapa indah kata2 ini, jika ada Pejabat Tinggi, Profesor, dan lain sebagainya…… yang belum berakhlak baik maka perlu mawas diri dan malu dengan masyarakatnya dan mahasiswa nya ……….Karena Waktu tidak cukup maka akan kita bahas di waktu lain. Insyaa Alloh.

Semoga kita bisa memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat untuk selalu meninggalkan perdebatan yang tercela, meninggalkan sifat dan perilaku dusta, dan membaguskan Akhlakul Karimah. Amin

Cisitu Lama I, Bandung 13.45 PM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.