“HAI ORANG ORANG YANG BERIMAN, JIKA DATANG KEPADAMU ORANG FASIK MEMBAWA SUATU BERITA, MAKA PERIKSALAH DENGAN “TELITI” AGAR KAMU TIDAK MENIMPAKAN SUATU MUSIBAH KEPADA SUATU KAUM TANPA MENGETAHUI KEADAAN-NYA YANG MENYEBABKAN KAMU MENYESAL ATAS PERBUATANMU ITU” (QS.49 AL HUJURAAT ; AYAT 6) >>>> Ngeri-nya Siksa Pembuat dan Penyebar Berita Bohong (pendusta) …….Disobek/Digergaji mulutnya sampai tengkuk, dirobek hidungnya sampai tengkuk dan dicabik-cabik matanya sampai tengkuk berulang ulang<<<<<

21 Sept 2018,

MARAK-NYA PENYEBARAN “BERITA BOHONG” YANG DAPAT MEMBAHAYAKAN DAN MENGHANCURKAN PERSATUAN UMAT, BANGSA DAN NEGARA, YANG DAPAT MENGHANCURKAN STABILITAS KEAMANAN, PEREKONOMIAN, KETENTERAMAN UMAT, BANGSA DAN NEGARA.

Di tengah perkembangan media berita disertai dengan adanya perubahan-perubahan sosial yang beraneka ragam, maka muncullah fenomena sosial yang berbahaya yaitu fenomena “isu”, tersiar-nya dan tersebar-nya berita bohong yaitu berita yang tidak valid di tengah masyarakat dan individu-individu tanpa sandaran kebenaran yang jelas, akan tetapi hanya bersandar kepada penukilan dari media semata. Maka mengakibatkan dampak yang buruk bagi individu dan masyarakat bahkan negara. Hal ini tidaklah mengherankan, isu-isu tersebut muncul karena banyak sebab dan tumbuh dibalik banyak faktor, diantaranya yang paling berbahaya adalah bahwa isu-isu tersebut merupakan sarana yang dimanfaatkan oleh musuh untuk memerangi dan menghancurkan persatuan bangsa dan negara, menghancurkan stabilitas keamanan, perekonomian, ketenteraman bangsa dan negara.

SIAPA SAJA YANG MENYEBARKAN BERITA BOHONG ….

Saat ini banyak “ORANG ORANG YANG BERIMAN” yaitu mungkin diri kita sendiri, Kyai, Ustad, Politisi, Pejabat Pemerintahan, DPR, Wartawan, dan masyarakat penting lainya, yang menyebarkan berita dusta atau berita bohong atau memfitnah yaitu menerima berita tanpa diperiksa dengan teliti atau tanpa tabayyun dan langsung menyebarkan-nya ke orang lain atau ke masyarakat luas melalui media sosial dan media massa lain-nya sehingga menimbulkan banyak kerugian dan bahkan musibah seperti permusuhan, perselisihan, perbedaan pendapat, pertengkaran luas di masyarakat, saling menggibah, saling menuntut kebenaran di pengadilan, saling mencurigai, saling mencela dan menghujat, saling memerangi atau membunuh dan lain sebagainya.

SEMUA BERITA YANG KITA TERIMA HARUS DIPERIKSA DENGAN TELITI APALAGI KALAU ADA BERITA DARI ORANG FASIK

Maka sudah sepatutnya atau selayaknya jika kita mengaku sebagai orang beriman harus memeriksa dengan teliti semua berita yang kita terima apalagi kalau berita yang kita terima dari media atau orang fasik sebelum menyebarkan-nya ke orang lain atau ke masyarakat luas supaya tidak terjadi fitnah (Berita Dusta/Berita Bohong) sehingga kita menyesal karena-nya. Fasik secara etimologi berarti “keluar dari sesuatu”. Sedangkan secara terminologi berarti seseorang yang menyaksikan, tetapi tidak meyakini dan melaksanakannya. Dalam agama Islam, pengertian dari fasik adalah orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.

DUSTA ADALAH SALAH SATU SIFAT YANG SANGAT BURUK DAN DICELA DALAM PANDANGAN SYARIAT, AKAL DAN FITRAH YANG LURUS, MEREKA DIANCAM DENGAN SIKSA YANG SANGAT BERAT

  • Dusta adalah akhlak hina. Tidak ada orang yang suka didustai. Seorang istri tidak suka dibohongi suami, seorang suami juga tidak suka dibohongi istri. Rakyat tidak suka pemimpin pembohong, pemimpin juga tidak senang rakyat yang pendusta. Bahkan pendusta sekalipun, dia juga tidak ingin didustai orang lain. Demikian hinanya dusta dan luhurnya kejujuran, sampai-sampai transaksi kemaksiatanpun perlu kejujuran. Buktinya, seorang pelacur akan marah jika pelanggannya membayar kurang dari harga yang disepakati.

  • Apalagi dalam urusan agama. Pantang seseorang yang menyampaikan wahyu dari Allah memiliki sifat dusta, meski hanya sekali. Sebab jika seorang Rasul pernah berdusta (meski sekali saja) maka manusia akan selalu ragu, apakah yang diklaim berasal dari Allah itu benar-benar dari-Nya atau karangannya sendiri yang diatasnamakan Allah?. Oleh karena itu setiap Nabi dan Rasul pasti memiliki sifat wajib; shiddiq (selalu jujur).

  • Demikian bencinya Allah dengan sifat dusta ini sampai Allah menyebut bahwa dusta bisa menghalangi hidayah. Tidak perlu berdusta berkali-kali. Orang sengaja berdusta secara sadar tanpa harus menjadi kebiasaannya saja sudah cukup untuk membuatnya terhalangi hidayah.

  • Demikian berharganya kejujuran dalam dien, sampai Allah memuliakan pemiliknya dengan mimpi yang benar. Rasulullah mengajarkan, umatnya yang paling benar, paling akurat, paling tepat mimpinya adalah yang membiasakan jujur saat tidak tidur. Mafhumnya, yang biasa bohong, mimpinya jangan pernah dipercaya.

  • Penerus Nabi seharusnya juga tidak boleh memiliki sifat dusta. Karena itu kita bisa menegaskan, aliran apapun yang mengaku Islam, tapi membolehkan berdusta sebagai ajaran resminya dengan alasan untuk kebaikan sampai menjadi akhlak meskipun atas nama kebaikan, maka itu adalah aliran menyimpang yang tidak layak diikuti. Betapapun “wah” cara mereka menyusun argumentasi dan betapapun glamour komunitasnya.

  • Karena itulah Allah mengancam dengan siksaan mengerikan bagi para pendusta di akhirat, yaitu digergaji mulutnya sampai tengkuk, dirobek hidungnya sampai tengkuk dan dicabik-cabik matanya sampai tengkuk. Wal ‘iyadzu billah.

  • Sayangnya dusta hari ini seperti dianggap biasa, menjadi bagian lucu-lucuan, bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari profesi-profesi tertentu. Di antara profesi yang saya lihat menganggap biasa berdusta adalah Politisi dan Pengacara. Tidak semua begitu memang, tapi bisa kita katakan bahwa mayoritas mereka ada pendusta. Justru seolah sudah menjadi adagium, “Politisi dan pengacara yang terhebat adalah mereka yang paling pintar berdusta”.

ANCAMAN DAN PERINGATAN DARI ALLOH DAN ROSUL-NYA DALAM MENYEBARKAN BERITA BOHONG (DUSTA) DAN BENTUKNYA 

Dalil-dalil telah memperingatkan terlarang nya menyebarkan berita bohong (dusta) dengan berbagai macam modelnya, diantaranya adalah

  • Allah berfirman; Sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. (QS AN-nuur : 14-15)

  • Allah berfirman : Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.(QS AN-Nuur : 19)

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ; “Dan sesungguhnya kedustaan mengantarkan kepada perbuatan fujur dan perbuatan fujur mengantarkan kepada neraka” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

  • Allah berfirman; Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS Qoof : 18). Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Cukuplah seseorang telah berdosa jika menyampaikan seluruh yang ia dengar”

  • Dan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim; Maukah aku kabakan kepada kalian tentang dosa terbesar dari dosa-dosa besar?. Mereka (para sahabat) berkata ; “Tentu wahai Rasulullah”. Beliau berkata ; “Berbuat syirik kepada Allah, dan durhaka kepada kedua orang tua”. Tadinya Nabi dalam kondisi berbaring maka lalu beliaupun duduk kemudian berkata : “Dan perkataan dusta, bersaksi dusta”, beliau terus mengulang-ngulangnya hingga kami berkata : “Seandainya jika beliau diam”

  • Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Seorang muslim yang sejati adalah yang kaum muslimin selamat dari keburukan lisan dan tangannya” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

  • Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang “katanya dan katanya”, dalam lafal Muslim dari hadits Abu Huroiroh “Dan Rasulullah membenci dari kalian “Katanya dan katanya”, banyak bertanya, dan membuang-buang harta”

  • Dalam sunan Abu Dawud dengan sanad yang shahih bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seburuk-buruk kebiasaan seseorang adalah menjadikan perkataan “persangkaan mereka” sebagai kendaraannya”. Dan dalam shahih Muslim “Barang siapa yang menyampaikan suatu pembicaraan dan ia menyangka bahwa pembicaraan tersebut adalah dusta maka ia adalah salah satu dari dua pendusta”

NGERI-NYA SIKSA DAN AZAB ATAS PENDUSTA

“Wajah disobek atau digergaji mulutnya sampai tengkuk, dirobek hidungnya sampai tengkuk dan dicabik-cabik matanya sampai tengkuk dengan Kait Besi”

Gambaran azab untuk para pendusta yang dikisahkan dalam hadis. Al-Bukhari meriwayatkan kisah Rasulullah yang pada suatu malam diperlihatkan siksaan terhadap para pendusta ini,

…فَانْطَلَقْنَا فَأَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُسْتَلْقٍ لِقَفَاهُ ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِكَلُّوبٍ مِنْ حَدِيدٍ ، وَإِذَا هُوَ يَأْتِى أَحَدَ شِقَّىْ وَجْهِهِ فَيُشَرْشِرُ شِدْقَهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرَهُ إِلَى قَفَاهُ وَعَيْنَهُ إِلَى قَفَاهُ – قَالَ وَرُبَّمَا قَالَ أَبُو رَجَاءٍ فَيَشُقُّ – قَالَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ إِلَى الْجَانِبِ الآخَرِ ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ بِالْجَانِبِ الأَوَّلِ ، فَمَا يَفْرُغُ مِنْ ذَلِكَ الْجَانِبِ حَتَّى يَصِحَّ ذَلِكَ الْجَانِبُ كَمَا كَانَ ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ فَيَفْعَلُ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى…

…وَأَمَّا الرَّجُلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُشَرْشَرُ شِدْقُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَمَنْخِرُهُ إِلَى قَفَاهُ ، وَعَيْنُهُ إِلَى قَفَاهُ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَغْدُو مِنْ بَيْتِهِ فَيَكْذِبُ الْكَذْبَةَ تَبْلُغُ الآفَاقَ…

“…Kami (nabi Muhammad dan dua malaikat yang membawanya) pun pergi, lantas kami mendapati seseorang yang terlentang. Di sampingnya ada orang lain yang berdiri sambil membawa semacam gancu yang terbuat dari besi. Lalu ia memegang salah satu sisi wajahnya dan merobek-robek sudut mulutnya hingga ke arah tengkuk. Ia juga merobek-robek hidungnya hingga ke arah tengkuknya, dan juga merobek-robek matanya hingga ke arah tengkuknya” -Kata Auf, terkadang Abu Raja’ menggunakan redaksi; yasyuqqu bukan yusyarsyiru– “kemudian penyiksa itu berpindah ke sisi wajah yang lain dan memperlakukan korbannya sebagaimana ia lakukan pada sisi wajah pertama. Belum selesai ia merobek-robek sisi wajah kedua, maka sisi wajah pertama sudah utuh kembali seperti semula. Setelah itu Penyiksa tersebut melakukan lagi apa yang ia lakukan pertama kali …”
“…(malaikat menjelaskan kepada Nabi Muhammad siapa orang yang disiksa tadi, katanya;) Adapun orang yang kamu dapati disiksa dengan dirobek-robek sudut mulutnya hingga tengkuknya, hidung hingga dagunya, dan matanya hingga tengkuknya, itu adalah seseorang yang pergi di pagi hari dari rumahnya, lalu ia berdusta, dan kedustaannya mencapai cakrawala…” (H.R. Al-Bukhari, Juz 23 hlm 227)

ASBABUN NUZUL DARI QS.49 AL HUJURAAT ; AYAT 6 DIATAS ADALAH;

Banyak ulama tafsir menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Al-Haris bin Abu Dhirar Banil Mustaliq yang akan masuk islam dan berjanji akan mengumpulkan zakat kaumnya untuk diserahkan kepada Rosullulloh, namun pemungut zakat utusan Rosullulloh tidak datang sesuai waktunya. Akhirnya Al haris beserta kaumnya menyuruh membawa zakat sendiri sendiri menuju Tempat Rosullulloh. Dalam perjalanan Al Haris ketemu pasukan Rosullulloh yang dikirimkan untuk mengepung-nya karena atas berita atau laporan Utusan Al walid kepada Rosullulloh bahwa Al Haris menolak bayar zakat dan bahkan akan membunuh Al Walid. Ketika Al-Haris masuk menemui Rasulullah Saw., beliau bertanya, ‘Apakah engkau menolak bayar zakat dan hendak membunuh utusanku?’ Al-Haris menjawab, ‘Tidak, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, aku belum melihatnya dan tiada seorang utusan pun yang datang kepadaku. Dan tidaklah aku datang melainkan pada saat utusan engkau datang terlambat kepadaku, maka aku merasa takut bila hal ini membuat murka Allah dan Rasul-Nya.’ (Al-Haris melanjutkan kisahnya) lalu turunlah ayat dalam surat Al-Hujurat ayat 6 tersebut.

PESAN-NYA ADALAH, Ibnu Katsir menyatakan: “Allah Swt. memerintahkan kaum mukmin untuk memeriksa dengan teliti berita dari orang fasik, dan hendaklah mereka bersikap hati-hati dalam menerimanya dan jangan menerimanya dengan begitu saja, yang akibatnya akan membalikkan kenyataan. Orang yang menerima dengan begitu saja berita darinya, berarti sama dengan mengikuti jejaknya. Sedangkan Allah Swt. telah melarang kaum mukmin mengikuti jalan orang-orang yang rusak. Berangkat dari pengertian ini terdapat sejumlah ulama yang melarang kita menerima berita (riwayat) dari orang yang tidak dikenal, karena barangkali dia adalah orang yang fasik. Tetapi sebagian ulama lainnya mau menerimanya dengan alasan bahwa kami hanya diperintahkan untuk meneliti kebenaran berita orang fasik, sedangkan orang yang tidak dikenal (majhul) masih belum terbukti kefasikannya karena dia tidak diketahui keadaannya.”

Oleh Karena itu syari’at yang mulia datang untuk memberikan pengarahan yang jelas untuk menjaga masyarakat dan melindunginya dari isu-isu yang tidak benar, serta tersiarnya berita-berita dusta, maka syari’at memerintahkan untuk menjaga lisan dan menahan pena-pena agar tidak menulis dan menyatakan perkara-perkara yang tidak ada bukti kebenarannya. Allah berfirman ; “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al-Isroo’ : 36)”

Saudaraku sekalian, waspadalah…!, waspadalah..! jangan sampai kalian ikut berpartisipasi dalam menyebarkan berita-berita yang tidak ada dasar akan kebenarannya, dan tanpa ilmu akan benarnya berita tersebut, karena hal itu termasuk dari ikut menyebarkan kedustaan.

Maka jagalah lisanmu wahai saudaraku, jagalah penamu dan tulisan-tulisanmu dari menyebarkan berita-berita yang tidak ada bukti kebenarannya, maka engkau akan selamat dan mendapatkan pahala. Jika tidak, maka engkau akan terjerumus dalam dosa  besar yang nyata dan kedustaan yang besar …!

Wajib bagi seorang muslim untuk menjauhkan diri dari menyebarkan berita-berita buruk demikian juga kabar-kabar yang membongkar aib-aib hingga ia selamat dari dosa dan kesalahan yang besar.

Mulai saat ini, Marilah kita STOP menyebarkan Berita Bohong….. Atau Diam jika tidak tahu…….. Semoga diri kita, keluarga kita, masyarakat kita ditolong dan dilindungi oleh Alloh dari penyebaran Berita Bohong. Aamiin

Cisitu lama I, bandung 01.40 AM

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.