BERLAPANG DADA DALAM PERBEDAAN PENDAPAT (KHILAFIAH, IKHTILAF) ADALAH SIKAP SEJATI ORANG ISLAM YANG BERILMU

20 Sept 2018,

Perbedaan pendapat di kalangan umat merupakan sunnatullah yang tak terhindarkan. Perbedaan pendapat selalu ada dalam tabiat manusia. Rasulullah Saw sudah memprediksi, sepeninggal beliau hingga akhir zaman, akan terjadi banyak perselisihan atau perbedaan pendapat.  “Barangsiapa yang masih hidup diantara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barangsiapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Saat Khalifah Harun Ar-Rasyid berniat mengirimkan salinan kitab Al-Muwaththa ke seluruh negeri, sebagai panduan bagi setiap qadhi dalam memutuskan hukum, Imam Malik, sang penulis kitab, menolak hal tersebut. Karena menurut beliau, di setiap negeri sudah ada ulama, dan masing-masing memiliki pandangannya sendiri-sendiri. (Baca: Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, karya Syaikh Manna’ Al-Qaththan, hlm. 350-351)

Inilah sikap sejati orang yang berilmu. Walaupun beliau punya pandangan, dan tentu beliau menganggap pendapatnya itu adalah pendapat yang benar, namun beliau tidak pernah menafikan adanya pandangan ulama lain yang berbeda. Seandainya beliau mau, tentu beliau bisa saja menyetujui keinginan sang Khalifah, hingga Al-Muwaththa dan madzhab beliau tersebar di seluruh negeri Islam yang dikuasai ‘Abbasiyah.

Dalam kesempatan lain, Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata: إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في قولي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوا به وما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه Artinya: “Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, semua yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ambillah. Sedangkan jika itu tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka tinggalkanlah.” (Dikutip dari kitab I’lam Al-Muwaqqi’in ‘An Rabb Al-‘Alamin, Juz 1, hlm. 60 karya Ibn Qayyim Al-Jauziyyah)

Lihatlah perkataan Imam Malik di atas, beliau yang kapasitas keilmuannya tak diragukan lagi, Imam Darul Hijrah, guru para ulama besar, ternyata tak memonopoli kebenaran. Beliau, dengan rendah hati, mengakui bahwa beliau hanyalah manusia biasa, yang bisa jadi benar, bisa juga keliru. Coba bandingkan dengan sikap sebagian orang saat ini, keilmuannya belum sampai setengah dari yang dimiliki Imam Malik, namun lagaknya sudah seperti ulama besar. Dengan gampangnya mereka meremehkan, menghujat dan bahkan menyesatkan pihak lain yang mengikuti pendapat berbeda dengan yang dianutnya

Al-Imam Qatadah berkata: ‘’Barang siapa yang tidak mengetahui perselisihan di antara ulama, maka hidungnya belum mencium bau fiqih. ‘’ (Jami’ Bayanil Ilmi karya Ibnu Abdil Barr: 2/814-815). Perbedaan pendapat (khilafiyah) bukan hal yang harus diributkan, apalagi sampai meretakkan ukhuwah Islamiyah karena suatu kelompok merasa paling benar dan menyalahkan yang lain. Dalam kesempatan yang lain al-Imam Ahmad Bin Hanbal berkata : “Tidak sewajarnya seorang ahli Fiqh memaksa manusia kepada pendapat (mazhab)nya dan bersikeras terhadap mereka”

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Kita, yang tidak sanggup berijtihad sendiri, boleh boleh ittiba’, yakni mengikuti atau memilih pendapat mana saja sesuai keyakinan dan pemahaman kita sendiri, disertai pengetahuan dan pemahaman akan landasan/argumen masing-masing pendapat. Taklid buta atau asal pilih, ikut-ikutan, tanpa mengetahui dan memahami alasannya, juga dilarang. “Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak tahu apa-apa tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan rasa, masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya”(Q.S. 17:36).

Perbedaan pendapat dalam perkara furu’ merupakan kenyataan yang tak dapat ditolak. Dan hal itu tidaklah menimbulkan kerugian dan bahaya, selama berlandaskan ijtihad syar’i yang benar. Dalam sejarah para sahabat Nabi dan para tabi’in pun, sering berselisih pendapat dalam berbagai hukum furu’. Tetapi hal itu tidak sedikit pun merugikan mereka, dan tidak pula meretakkan persaudaraan dan persatuan mereka.

Marilah kita berlapang dada dan memaafkan jika ada perbedaan dan perselisihan pendapat agar kaum Muslimin tidak berpecah belah apalagi sampai berperang dan menumpahkan darah sesama Muslim. Terimalah kebenaran yang datang dari mana saja. Jangan terpengaruh dan jangan melayani orang yang selalu menghujat dan memfitnah kita karena menyibukkan diri dengan melayani mereka hanya menghabiskan waktu dan tenaga serta pikiran dan akhirnya kita tidak bisa berbuat apapun. Jangan menyibukkan diri dengan mencacat dan mencari kejelekan serta mengkotak-kotak umat Islam.

Perbedaan pendapat, dalam perkara ijtihadi, sangat memungkinkan melahirkan beragam pendapat. Menghadapi hal ini, seharusnya kita bisa berlapang dada. Walaupun kita menganggap pendapat yang kita ikuti lebih kuat, kita tetap harus menghormati orang lain yang pendapatnya berbeda. Adanya keragaman pendapat ini juga seharusnya membuka cakrawala berpikir kita, jika ternyata kebenaran ada pada orang lain, kita harus siap untuk menerima kebenaran tersebut dan meninggalkan pendapat kita sebelumnya. Wallahu a’lam bish shawab

Umat Islam akan berjaya jika kita rukun, bersatu dan tidak bercerai berai. Jika kita kehilangan kerukunan dan persatuan maka umat islam akan mengalami kemunduran dan kehancuran.

Disaat Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan untuk mendamaikan perselisihan, mengapa banyak yang berteriak membela islam dengan mengobarkan perpecahan? Sungguh mereka beralasan membela Al-Qur’an namun perbuatan mereka amat jauh dari ajaran kitab suci-Nya.

Jika ada seorang yang acuh melihat perselisihan disekitarnya maka tipe orang yang tersebut adalah tipe orang yang tidak pernah mengharapkan kebaikan bagi orang lain. Rasa kepeduliannya telah mati dan jiwa kemanusiaannya telah pudar.

Jika ingin benar-benar membela Islam, ikuti Al-Qur’an ! Damaikan perselisihan ! Jauhi provokasi dan perpecahan. Semoga kita termasuk orang-orang yang peduli dan benar-benar mengikuti ajaran Al-Qur’an. Aamiin

Cisitu lama I, Bandung

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.