0036. “SANGAT BERUNTUNG & SUDAH PASTI JAMINANYA”, JIKA SETIAP HARI KITA BISA “MEMBACA, MENGKAJI (MEN-TADABBURI) DAN MENGAMALKAN AL QURAN”

Rabu, 08 Agustus 2018, 10.42AM

Related imageAl Quran sebagai pedoman hidup umat ISLAM harus selalu kita baca, kita pahami, kita kaji, dan kita amalkan. Maka beruntung lah kita jika setiap hari kita bisa membacanya, mentadaburi-nya dan mengamalkannya. Berikut ini adalah manfaat dan keutamaan yang kita dapatkan jika kita membaca, mempelajari dan mengamalkan Al-Quran setiap hari:

  1. Sebaik-Baik Manusia adalah yang Mempelajari dan Mengajarkan Al-Quran; Sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, “Sebaik-baik kalian adalah siapa yang mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya,” (HR. Bukhari).
  2. Pahala Membaca Al-Quran 1 (satu) huruf adalah 1 (satu) kebaikan dan satu (1) kebaikan itu dibalas oleh Alloh sepuluh (10) kali lipat. Sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam“Siapa saja membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat-nya,” (HR. At-Tirmidzi). “Barang siapa yang membaca satu huruf kitab Allah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan dengan huruf itu, dan satu kebaikan akan dilipat gandakan menjadi sepuluh. Aku tidaklah mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (HR. Tirmidzi).
  3. “Perumpamaan orang yang membaca Al-Quran sedang ia hafal dengannya bersama para malaikat yang suci dan mulia, sedang perumpamaan orang yang membaca Al-Quran sedang ia senantiasa melakukannya meskipun hal itu sulit baginya maka baginya dua pahala,” (Muttafaq ‘alaih).
  4. “Siapa saja membaca Al-Qur’an, mempelajari nya dan mengamalkannya, maka dipakai kan kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat mahkota dari cahaya dan sinar nya bagaikan sinar matahari, dan dikenakan pada kedua orang tuanya dua perhiasan yang nilainya tidak tertandingi oleh dunia. Keduanya pun bertanya, ‘Bagaimana dipakai kan kepada kami semuanya itu?’ Dijawab, ‘Karena anakmu telah membawa Al-Qur’an,” (HR. Al-Hakim).
  5. Mendapatkan Syafaat di Akhirat. Sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam “Bacalah Al-Quran karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat kepada para ahlinya,” (HR. Muslim). “Puasa dan Al-Quran keduanya akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat…” (HR. Ahmad dan Al-Hakim).
  6. Mendapatkan Ketenangan, Curahan rahmat, Diliputi Para Malaikat, dan Di sanjung Alloh dihadapan para makhluk dan di sisi-Nya. Sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam “Tidak berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah SWT, sedang mereka membaca kitab-Nya dan mengkaji nya, melainkan mereka akan dilimpahkan ketenangan, dicurahi rahmat, diliputi para malaikat, dan disanjungi oleh Allah di hadapan para makhluk dan di sisi-Nya,” (HR. Abu Dawud).
  7. Dapat Menyembuhkan Penyakit “Hendaknya kamu menggunakan kedua obat-obat: madu dan Al-Qur’an,” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Mas’ud).
  8. Pembaca Al Quran Dikurniakan Hatinya dengan Cahaya oleh Allah SWT Dan Dipeliharanya dari Kegelapan. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra yang maksudnya: “Bahwa Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang mendengar satu ayat daripada Kitab Allah Ta’ala (al-Qur’an) ditulis baginya satu kebaikan yang berlipat ganda. Siapa yang membacanya pula, baginya cahaya di hari kiamat”.  “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah dan Al Qur’an sesungguhnya ia adalah cahaya kegelapan, petunjuk di siang hari maka bacalah dengan sungguh-sungguh,” (HR. Baihaqi).
  9. Pembaca Al-Quran Memperoleh Kemuliaan dan Diberi Rahmat kepada Ibu Bapaknya. “Siapa yang membaca Al-Alquran dan beramal dengan isi kandungannya, dianugerahkan kedua ibu bapaknya mahkota di hari kiamat. Cahayanya (mahkota) lebih baik dari cahaya matahari di rumah-rumah dunia. Kalaulah demikian itu matahari berada di rumahmu (dipenuhi dengan sinar nya), maka apa sangkaan kamu terhadap yang beramal dengan ini (Al-Qur’an),” (HR. Abu Daud).
  10. Pembaca Al Quran Memperoleh Kedudukan yang Tinggi dalam Syurga. Bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam “Dikatakan kepada pembaca al-Qur,an: “Bacalah (al-Qur’an), naiklah (pada derajat-derajat surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil didunia. Sesungguhnya kedudukan derajatmu sehingga kadar akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad).
  11. Orang yang Membaca Al-Quran Secara Terang-Terangan seperti Bersedekah Secara Terang-Terangan “Orang yang membaca Al-Quran terang-terangan seperti orang yang bersedekah terang-terangan, orang yang membaca Al-Quran secara tersembunyi seperti orang yang bersedekah secara sembunyi,” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, lihat shahihul jaami’:3105).
  12. Ahlul Quran adalah menjadi Keluarga Allah  “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga dari kalangan manusia.’ Beliau saw ditanya,’Siapa mereka wahai Rasulullah.’ Beliau saw menjawab,’mereka adalah Ahlul Qur’an, mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang khusus-Nya,” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Marilah kita meniti hidup dan memperbaiki diri kita dan keluarga dengan Membaca, Mengkaji, Mentadaburi, dan Mengamalkan Al Qur’an. Dan ini adalah bisnis kita dengan Allah yang sudah PASTI jaminanya.

Sumber:

  1. Al Quran KARIM & Al Hadist
  2. https://www.islampos.com/ini-17-keutamaan-membaca-al-quran-setiap-hari-yang-harus-anda-ketahui-21357
  3. https://kumparan.com/ades-marsela/40-manfaat-membaca-alquran

Cisitu Lama I, Bandung

Iklan

0035. PERSATUAN DAN KERUKUNAN DALAM ISLAM ” Dengan UKHUWWAH ISLAMIYYAH (PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM) maka akan terwujud UKHUWWAH WATANIYYAH (PERSAUDARAAN KEBANGSAAN) sehingga UKHUWWAH BASYARRIAH (PESAUDARAAN KAMANUSIAAN) akan terjalin dengan sendirinya”

Khamis, 02 July 2018,

PERSATUAN DALAM ISLAM

Didalam kamus besar bahasa Indonesia, arti persatuan adalah gabungan yang terdiri atas bagian yang telah bersatu. Persatuan dalam bahasa arabnya di sebut dengan kata ittihad, berarti ikatan. Persatuan adalah menghimpun hal-hal yang terserak menjadi satu atau membentuk sebuah unit yang masing-masing sebuah anggotanya saling menguatkan . Kesatuan di ibaratkan seperti sapu lidi yang memiliki kekuatan dan tidak tercerai berai. Atau ibaratnya seperti genggaman tangan yang kokoh. Di dalam Islam persatuan harus diterapkan untuk melahirkan Izzatul Islam wal muslimin (kemuliaan Islam dan kaum muslim)

Nabi Shallallahu alaihi wassalam Bersabda :

المسلم للمسلم كا لبنيان يشد بعضه بضا (رواه البخارىومسلم)

Artinya : seorang muslim bagi muslim yang lain bagai suatu bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain (HR> Bukhari Muslim)

KERUKUNAN DALAM ISLAM

Didalam kamus besar bahasa Indonesia, kata dasar kerukunan adalah rukun yang artinya hubungan persahabatan, damai dan tidak saling berselisih. Sedang dalam istilah agama Islam, kerukunan itu dinamakan tasamuh (toleransi), yaitu membiarkan secara sadar terhadap pikiran atau pendapat orang lain. Orang yang demikian dinamakan toleran. Oleh karena itu tugas pemimpin didalam pemerintah antara lain adalah berusaha menciptakan kerukunan hidup beragama. Kerukunan merupakan perhimpunan yang damai atau persatuan yang menumbuhkan sikap saling menghargai dalam komunitas yang beragam atau etnis yang berbeda-beda. Ciri kerukunan adalah hidup damai tanpa konflik. Ibaratnya seperti es campur yang bahannya berbeda (es, apukat, kelapa, nangka, susu, coklat, puding dsb) namun menciptakan cita rasa yang nikmat. Jika sesama muslim bersatu dan rukun maka akan terjadi “UKHUWAH ISLAMIYAH (PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM) yang bagus dan ini adalah landasan utama terjadinya UKHUWAH WATANIYYAH (PERSAUDARAAN KEBANGSAAN), dari ukhuwah wataniyyah ini akan menjadikan UKHUWAH BASYARRIAH (PERSAUDARAAN KEMANUSIAAN) terjalin dengan baik” .

PERINTAH UNTUK PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM

Alloh berfirman “orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Al-Hujarat:10)

LARANGAN BERCERAI BERAI SESAMA MUSLIM 

Alloh berfirman “dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadi lah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Q.S Al Imron : 103)

PERBUATAN YANG MENGHANCURKAN PERSATUAN DAN KERUKUNAN SESAMA MUSLIM

Allah Berfirman dalam Al-Qur’an (Q.S. Al Hujarat:12) Artinya: ” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing kan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang “. Dari ayat diatas dapat diambil kesimpulan bahwa penyebab runtuhnya persatuan dan kerukunan adalah sbb :

  1. Memperolok-olok orang lain baik laki-laki maupun perempuan
  2. Mencaci orang lain dengan kata-kata yang menyakitkan
  3. Memanggil orang lain dengan gelar-gelar yang tidak disukai
  4. Berburuk sangka
  5. Mencari kesalahan orang lain
  6. Menggunjing

MENJALANKAN SIKAP PERSATUAN DAN KERUKUNAN SESAMA MUSLIM

Pada umumnya manusia cenderung di kuasai oleh hawa nafsu untuk merasa menang dan benar sendiri dalam berbagai hal. Supaya persatuan dan kerukunan dapat tegak dengan kokoh diperlukan empat tiang penyangga yaitu hal-hal berikut:

  1. Ta’aruf, yaitu saling kenal mengenal yang tidak hanya bersifat fisik atau biodata ringkas belaka, tetapi lebih jauh lagi menyangkut latar belakang pendidikan, budaya, keagamaan, pemikiran, ide-ide, cita-cita, serta problem hidup yang di alami.
  2. Tafahum, yaitu saling memahami kelebihan dan kekurangan, kekuatan dan kelemahan masing – masing, sehingga segala macam bentuk kesalahpahaman dapat di hindari.
  3. Ta’awun, yaitu tolong menolong dimana yang kuat menolong yang lemah dan yang memiliki kelebihan menolong orang yang kekurangan.
  4. Takaful,  yaitu saling memberikan jaminan, sehingga menimbulkan rasa aman, tidak ada rasa kekhawatiran dan kecemasan menghadapi hidup ini, karena ada jaminan dari semua saudara untuk memberikan pertolongan yang diperlukan dalam menjalani hidup.

Untuk mewujudkan ukhuwah islamiyyah, para pemimpin Islam, para ulama, tokoh masyarakat, dan para cendikiawan hendaknya mempunyai kesamaan visi dalam tiga hal yaitu wawasan keagamaan, wawasan kemasyarakatan, dan wawasan universal.

KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA

Toleransi antar umat beragama telah diajarkan dan dicontohi oleh Rasulullah SAW kepada para sahabat dan seluruh umat-Nya. Agama Islam membolehkan umatnya untuk berhubungan dengan pemeluk agama lain, bahkan toleransi antar umat beragama sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Batasan toleransi antar umat beragama yang diajarkan oleh Rasul SAW adalah dalam batasan mu’amalah, yaitu hubungan kerjasama dalam hal kemanusiaan. Sedangkan toleransi yang menyangkut dalam hal ibadah dan akidah Islam secara tegas  Allah SWT melarangnya. sebagaimana Firman Allah SWT yang Artinya : 1). Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, 2). Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3). Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. 4). Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, 5). Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. 6). Untukmu agamamu, dan untukku lah, agamaku.” (Q.S. Al Kafirun {109} : 1 – 6 ).

KERUKUNAN UMAT BERAGAMA DENGAN PEMERINTAH

Menurut istilah agama Islam pemerintah disebut ulil amri (yang memiliki kekuasaan atau mengurusi). Menurut ahli tafsir ulil amri adalah orang-orang yang memegang kekuasaan diantara mereka (umat Islam), yang meliputi pemerintah, penguasa, alim ulama dan pemimpin lainnya. Islam mengajarkan kepada umatnya, bahwa menaati pemerintah nilainya sama dengan menaati Allah dan Rasul-nya. Firman Allah : Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu…… (Q.S. An Nisa’ {4} : 59). Ayat tersebut mewajibkan setiap umat Islam wajib patuh kepada pemerintah, patuh pada peraturan perundangan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, selama peraturan tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip ajaran agama. Tetapi jika terdapat peraturan yang tidak sejalan dengan prinsip ajaran agama, umat Islam wajib mengingatkan dengan cara-cara yang baik dan bijaksana yang  tidak saling merugikan baik kepada masyarakat islam dan pemerintah.

APAKAH KITA SUDAH BERSATU DAN RUKUN????? 

Bagaimana cara menilai Persatuan dan Kerukunan DALAM ISLAM yang sudah kita jalankan SUDAH sesuai dengan Perintah Alloh dan Rasul nya? jika hasilnya membuat ISLAM tidak kuat atau NILAI NILAI ISLAM runtuh/lemah (MEDIA ISLAM tidak kuat, LEMBAGA ISLAM tidak kuat, ORANG ISLAM MUDAH DI-ADU DOMBA DAN DIJAJAH (baik Ekonomi, Sosial, Politik, Pendidikan, kesehatan, keamanan, dll), PARTAI ISLAM tidak kuat, NILAI & SYARIAT ISLAM tidak ter implementasi atau ditinggalkan Umat Islam, dll) maka KITA SESAMA MUSLIM BELUM BERSATU DAN BELUM RUKUN DALAM ARTI YANG SESUNGGUHNYA dan PERLU BERSATU DAN RUKUN. Dan yang bertanggung jawab adalah PARA PEMIMPIN ISLAM DI-SEGALA BIDANG, termasuk diri kita masing masing. Wallahu a’lam bish-shawabi

Cisitu Lama, Bandung