TAHUKAH ANDA…….DEFINISI ULAMA?…….CIRI CIRI ULAMA?…….TUGAS ULAMA? HAYOO BACA….. PAHAMI….. DAN LAKUKAN EVALUASI.

Minggu, 27 Mei 2018

DEFINISI ULAMA

  1. Definisi atau pengertian secara umum (Wikipedia bahasa Indonesia).
    • Ulama (Arab:العلماء ʿUlamāʾ, tunggal عالِم ʿĀlim) adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama maupum masalah sehari hari yang diperlukan baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan. Pengertian ulama secara harfiyah adalah “orang-orang yang memiliki ilmu”. Dari pengertian secara harfiyah dapat disimpulkan bahwa ulama adalah:
      • Orang Muslim yang menguasai ilmu agama Islam
      • Muslim yang memahami syariat Islam secara menyeluruh (kaaffah) sebagaimana terangkum dalam Al-Quran dan ”as-Sunnah”
      • Menjadi teladan umat Islam dalam memahami serta mengamalkannya.
  2. Definisi Khusus menurut para ulama salaf
    • Menurut Imam Al-ghazali Ulama dibagi tiga (3), 
      • “Ada ulama yang mencelakakan dirinya dan orang lain, yaitu ulama yang terang-terangan mencari dunia dengan ilmu dan jabatannya.
      • “Ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain, yaitu ulama yang mengajak ummat ke jalan Allah, baik lahir ataupun batin.”
      • “Ada ulama yang mencelakakan dirinya tetapi dapat membahagiakan yang lain, yaitu ulama yang mengajak kepada akhirat dan pada lahiriyahnya ia menolak dunia, tetapi tujuan bathinnya adalah diterima oleh semua makhluk (mendapatkan penghargaan dari mereka) dan mendapatkan sanjungan dan kemuliaan di sisi mereka.”
    • “Barangsiapa yang mengenal Allah, maka dia adalah orang alim.” (Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih, hal. 2/49), inilah pendapat Ibnu Juraij rahimahullah menukilkan (pendapat) dari ‘Atha.
    • “Ulama adalah orang yang ilmunya menyampaikan mereka kepada sifat takut kepada Allah.” (Kitabul ‘Ilmi hal. 147), Inilah pendapat Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah.
    • “Mereka (para ulama) adalah orang-orang yang menjelaskan segala apa yang dihalalkan dan diharamkan, dan mengajak kepada kebaikan serta menafikan segala bentuk kemudharatan.” (Tadzkiratus Sami’ hal. 31), inilah pendapat Badruddin Al-Kinani rahimahullah
    • Abdus Salam bin Barjas rahimahullah mengatakan:
      • “Orang yang pantas untuk disebut sebagai orang alim jumlahnya sangat sedikit sekali dan tidak berlebihan kalau kita mengatakan jarang. Yang demikian itu karena sifat-sifat orang alim mayoritasnya tidak akan terwujud pada diri orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu pada masa ini.
      • Bukan dinamakan alim bila sekedar fasih dalam berbicara atau pandai menulis, orang yang menyebarluaskan karya-karya atau orang yang men-tahqiq kitab-kitab yang masih dalam tulisan tangan. Kalau orang alim ditimbang dengan ini, maka cukup (terlalu banyak orang alim).
      • Akan tetapi penggambaran seperti inilah yang banyak menancap di benak orang-orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu banyak orang tertipu dengan kefasihan seseorang dan tertipu dengan kepandaian berkarya tulis, padahal ia bukan ulama. Ini semua menjadikan orang-orang takjub.
      • Orang alim hakiki adalah yang mendalami ilmu agama, mengetahui hukum-hukum Al Quran dan As Sunnah. Mengetahui ilmu ushul fiqih seperti nasikh dan mansukh, mutlak, muqayyad, mujmal, mufassar, dan juga orang-orang yang menggali ucapan-ucapan salaf terhadap apa yang mereka perselisihkan.” (Wujubul Irtibath bi ‘Ulama, hal 8).

CIRI CIRI ULAMA 

Pembahasan ini bertujuan untuk mengetahui siapa sesungguhnya yang pantas untuk menyandang gelar ulama dan bagaimana besar jasa mereka dalam menyelamatkan Islam dan muslimin dari rongrongan penjahat agama, mulai dari masa terbaik umat yaitu generasi sahabat hingga masa kita sekarang. 

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan ciri khas seorang ulama “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah adalah ulama.” (Fathir: 28)
  2. Imam Al Ghazali Mengatakan bahwa Ulama Hakiki adalah Ulama Akherat yaitu
    • “Istiqomah aqidah, ibadah, akhlak dan dakwahnya, takutnya hanya pada Allah” (QS Al Anbiya 28).
    • “Senangnya berjamaah ke masjid, lembut tutur katanya, bicaranya hikmah yang mengajak hijrah menuju Allah, tegas menyampaikan yang haq, tampak sekali kerendahan hatinya, wajahnya murah senyum bercahaya, ikhlasnya mengajar tanpa minta upah apalagi bertarif. Ikutilah mereka yang berdakwah yang tidak minta upah, merekalah hamba-hamba Allah yang mendapat hidayah Allah” (QS Yasin 21).
      • Menerima upah dari berdakwah juga tidak apa-apa asalkan tidak meminta-minta bayaran (pasang tarif).
      • Rasulullah bersabda : Dari Ibnu as Sa’idy al Maliki, bahwasanya ia berkata: “Umar bin Khattab ra mempekerjakanku untuk mengumpulkan sedekah. Tatkala selesai dan telah aku serahkan kepadanya, ia memerintahkan aku untuk mengambil upah.” Lalu aku berkata: ”Aku bekerja hanya karena Allah, dan imbalanku dari Allah.” Lalu ia berkata: “Ambillah yang telah aku berikan kepadamu. Sesungguhnya aku bekerja di masa Rasulullah saw dan mengatakan seperti apa yang engkau katakan. Lalu Rasulullah saw bersabda kepadaku: “Jika aku memberikan sesuatu yang tidak engkau pinta, makanlah dan sedekahkanlah.” (HR. Muslim). Hadits di atas juga menunjukkan bolehnya menerima upah yang tidak dimintanya, karena upah ini memang sudah menjadi hak bagi seorang da’i.
    • Siang malam memikirkan umatnya, umatnyapun selalu ia sertakan dalam doanya terutama setiap tahajjudnya di penghujung malamnya, iapun sibuk berikhtiar untuk keberkahan keluarga dan dakwahnya, keluarganyapun sakinah dan uswah hasanah, kuatnya silaturrahmi.
    • Penghormatan pada perbedaan pendapat, memaafkan pada mereka yang menyakitinya, jauh dari sifat dengki bahkan ia senang untuk selalu belajar, mengaji dan berguru lagi (QS Ali Imran 79).
    • Dakwahnya selalu berisi seruan untuk meraih kehidupan akhirat, tidak membicarakan bagaimana mendapatkan kesejahteraan dunia, sederhana dan menjaga jarak dengan penguasa.
    • Tidak menganggap majelis yang beliau pimpin paling baik, tidak menjelek-jelekkan majelis yang dipimpin ulama’ lain dan tidak memusuhi umat Islam yang berbeda pendapat karena mengingat Firman Allah Ta’ala.“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (QS. Al Hujuraat: 10)
    • BUKAN ULAMA DUNIA (ULAMA SU’) yaitu
      • Pertama (1), Ulama yang menjadikan keulamaannya sebagai komoditas untuk mendapatkan harta duniawi. Al-Ghazali mengutip, misalnya, Imam Hasan: siksaan buat ulama adalah matinya hati mereka jadikan amalan akhirat demi memburu dunia.
      • Kedua (2), Ulama yang dengan keulamaannya merapat ke pemimpin yang zalim dan melegitimasinnya. Menurrt Ghazali, orang beragama harusnya menentng kezaliman si pemimpin. Kalau tak mampu, menyingkir dari mereka. Tapi oleh ulama su’ tersebut mendekat ke penguasa zalim, demi harta dan jabatan. Dengan melegitimasi mereka, ulama justru bersekutu dengan kezaliman. Kata Ghazali, si ulama bisa saja merasa dengan mendekat ke sang penguasa dengan niat menjadikannya orang saleh. Si ulama mengkhayalkan bahwa upayanya untjuk ‘nempel’ penguasa zalim itu demi perjuangan agama. Namun begitu sudah jadi bagian dari sistem si penguasa lalim, sang ulama jadi melunak dan menyokongnya. Dalam situasi demikian, kata Ghazali, “wa fihi halak al din”. disitulah letak hancurnya agama.
      • Ketiga (3), begitu mudahnya mereka mengeluarkan fatwa, demi kepentingan materi atau politik duniawi. Ulama akhirat, menurut Ghazali, akan sangat berhati-hatu untuk berfatwa.Tapi ulama su’ justru mengumbarnya, demi motif duniawi.Nah, tiga hal diatas ini mengejar dunia, pemberi legitimasi pemimpin lalim, dan obral fatwa, itulah ciri ulama busuk. 
      • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengistilahkan mereka ulama su’ dengan sebutan “para dai yang berada di tepi pintu-pintu neraka”. Beliau peringatkan kita dari keberadaan mereka sebagaimana dalam sabdanya, “… Dan sesungguhnya yang aku takutkan atas umatku ialah para ulama-ulama yang menyesatkan.” (H.R. Abu Daud dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu).
  3. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menginginkan kedudukan, dan membenci segala bentuk pujian serta tidak menyombongkan diri atas seorang pun.” Al-Hasan mengatakan: “Orang faqih adalah orang yang zuhud terhadap dunia dan cinta kepada akhirat, bashirah (berilmu) tentang agamanya dan senantiasa dalam beribadah kepada Rabbnya.” Dalam riwayat lain: “Orang yang tidak hasad kepada seorang pun yang berada di atasnya dan tidak menghinakan orang yang ada di bawahnya dan tidak mengambil upah sedikitpun dalam menyampaikan ilmu Allah.” (Al-Khithabul Minbariyyah, 1/177)
  4. Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang tidak mengaku-aku berilmu, tidak bangga dengan ilmunya atas seorang pun, dan tidak serampangan menghukumi orang yang jahil sebagai orang yang menyelisihi As-Sunnah.”
  5. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan: “Mereka adalah orang yang berburuk sangka kepada diri mereka sendiri dan berbaik sangka kepada ulama salaf. Dan mereka mengakui ulama-ulama pendahulu mereka serta mengakui bahwa mereka tidak akan sampai mencapai derajat mereka atau mendekatinya.”
  6. Mereka berpendapat bahwa kebenaran dan hidayah ada dalam mengikuti apa-apa yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan orang-orang yang diberikan ilmu memandang bahwa apa yang telah diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu adalah kebenaran dan akan membimbing kepada jalan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Terpuji.” (Saba: 6)
  7. Mereka adalah orang yang paling memahami segala bentuk permisalan yang dibuat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al Qur’an, bahkan apa yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Demikianlah permisalan-permisalan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (Al-’Ankabut: 43)
  8. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keahlian melakukan istinbath (mengambil hukum) dan memahaminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkan kepada rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang mampu mengambil hukum (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). Kalau tidak dengan karunia dan rahmat dari Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikuti syaithan kecuali sedikit saja.” (An-Nisa: 83)
  9. Mereka adalah orang-orang yang tunduk dan khusyu’ dalam merealisasikan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra: 107-109) [Mu’amalatul ‘Ulama karya Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar bin Salim Bazmul, Wujub Al-Irtibath bil ‘Ulama karya Asy-Syaikh Hasan bin Qasim Ar-Rimi]

RASULULLAH shallallahu alaihi wasallam bersabda “ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama.” (HR ad-Darimi).

Abdullah bin Amru mendatangi kami dan kudengar ia berkata, ‘Aku
mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah tidak mencabut ilmu setelah Ia berikan kepada kalian secara spontanitas (sekaligus), namun Allah mencabutnya dari mereka dengan cara mewafatkan para ‘ulama yang sekaligus tercabut keilmuan mereka, sehingga yang tinggal hanyalah manusia-manusia bodoh, mereka dimintai fatwa, lalu mereka memberikan fatwa berdasarkan logika mereka sendiri, mereka sesat dan juga menyesatkan.” (HR Bukhari 6763)

Inilah beberapa sifat ulama hakiki yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya. Dengan semua ini, jelaslah orang yang berpura-pura berpenampilan ulama dan berbaju dengan pakaian mereka padahal tidak pantas memakainya.

TUGAS / PERAN DAN FUNGSI ULAMA 

Agar mudah di pahami dan di praktekan oleh masyarakat umum maka Dewan pertimbangan MUI Prof KH Didin Hafidhuddin MSc saat pembukaan Rakernas MUI ke-3 menyampaikan tentang tugas / peran dan fungsi ulama. Menurut pandangannya, ada tiga (3) peran dan fungsi ulama menurut Alquran. Didin mengatakan, kalau memperhatikan Alquran, ada tiga ayat yang berkaitan dengan peran dan fungsi ulama. Dua ayat langsung secara tersurat terdapat kata-kata ulama. Yaitu Surat Asy-Syu’araayat 197 dan Surat Fatir ayat 28. Satu ayat lagi yang tidak langsung memuat kata-kata ulama, tapi berkaitan dengan fungsi ulama yaitu Surat At Taubah ayat 122. “Dalam pemahaman saya ketiga ayat ini memuat kriteria utama dari ulama,” kata KH Didin saat memberikan pidato pembukaan Rakernas MUI, Selasa (28/11).

  1. Ulama harus tafaqquhu fiddin, yakni memahami ilmu agama secara mendalam. Sehingga menjadi rujukan masyarakat untuk bertanya berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan mereka. Ulama adalah sosok yang dekat dengan masyarakat. Ulama adalah orang-orang yang bisa dipercaya oleh masyarakat.
  2. Ulama adalah sosok yang memahami perkembangan keadaan. Juga memahami perkembangan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat dalam berbagai macam aspek. “Apakah aspek-aspek yang positif yang memberikan harapan-harapan, maupun aspek-aspek negatif yang mengkhawatirkan masa yang akan datang,” ujarnya. Mengutip Imam Bayhaki dalam Kitab Dalalun Nubuwah, Didin mengatakan, ulama adalah sosok yang memahami dan mengerti zaman. Ulama juga tidak ketinggalan zaman, selalu mencari informasi dan perkembangan hal-hal lainnya. Guna memberikan solusi bagi setiap persoalan yang dihadapi masyarakat.
  3. Ulama sosok yang akhlakul karimah. Artinya memiliki integritas dan pribadi yang kuat serta menjadi panutan masyarakat. Jadi masyarakat bukan sekedar melihat pada ilmunya ulama. Tetapi melihat pada opini, pendapat, akhlak dan keseharian kehidupan ulama. “Tidak ada gap antara yang diucapkan dengan apa yang dilakukan (ulama),” ujarnya.

Harapan kita kepada masyarakat adalah mari kita membaca, memahami dan mengevaluasi bersama mengenai hakekat ULAMA yang sebenarnya SEHINGGA secara kolektif kita dapat mengaplikasikan nilai2 ke-islam-an sesuai Alquran dan Assunah tanpa ragu dengan petunjuk ULAMA yang benar, sehingga keluarga, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia menjadi negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur ( negeri yang subur dan makmur, adil dan aman). Amin 

Referensi: 

  1. http://www.mudhiatulfata.net/2017/01/sifat-dua-macam-bentuk-ulama-menurut.html
  2. http://www.darussalaf.or.id/manhaj/ciri-ciri-ulama-ahlusunnah/ (Dikutip dari majalah Asy Syariah, Vol. I/No. 12/1425 H/2005, judul asli Ciri-Ciri Ulama, karya Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi, url http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=229
  3. Ihya ulumuddin,  Imam Alghazali
  4. http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/11/28/p04x5o396-ini-peran-dan-fungsi-ulama-menurut-alquran

Cisitu Lama, Bandung

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.