“PESAN PERDAMAIAN YANG DAHSYAT…… SERUAN ANTI PERANG…… SIMPATI….. KEMANUSIAAN…. KEBAIKAN HATI” DALAM FILM TANGERINES

Minggu, 22 April 2018.

tangerines-sebuah-seruan-anti-perang-d613f6

Sangat menyentuh dan mengharukan cerita dalam film ini. Andai dalam kondisi seperti sekarang ini terjadi perang dan kita sebagai pelaku peperangan itu bisa saling memaafkan dan kemudian menjadi teman, dan tidak ada perang lagi didunia ini maka kehidupan ini akan terasa sangat indah dan penuh makna. Peperangan adalah mala petaka dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Coba renungkan!! manusia hidup dibumi ini sudah ribuan tahun lamanya, dari jaman batu sampai jaman yang katanya disebut milenium, tapi masih melakukan peperangan dan penjajahan. Saling membantai dan membunuh untuk mendapatkan keuntungan dan menguasai harta benda dunia yang fana ini. Lho …. terus pinter-nya ditaruh dimana? apakah ini masih bisa disebut peradapan manusia yang maju? atau peradaban manusia jahiliyah? Dulu manusia belum bersekolah, dan sekarang manusia sudah bersekolah ratusan tahun lamanya, apa yang dipelajari? apakah hanya belajar untuk saling memperebutkan sumber daya alam dan makanan? katanya negaranya sudah maju? dan penduduknya sudah maju? Sudah berdemokrasi dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia (HAM), sudah menjadi anggota PBB bertahun tahun, kok masih memerangi bangsa lain atau menciptakan peperangan? lho…. ini manusia pinter atau keblinger? saling menindas dan mencurangi….. kok nggak ada ya… bangsa yang maju betul betul membantu bangsa yang terbelakang…. yang ada adalah bangsa yang sudah maju malah ngakali bangsa bangsa lain yang belum maju (pura pura membantu…). Dunia ini sudah terbalik.

Bangsa yang sudah maju itu …. biasanya menyuruh harus saling tolong menolong, bantu membantu, harus menerima perbedaan, harus saling menyayangi, harus tidak boleh melanggar HAM, harus menyelamatkan manusia dari konflik, harus berperikemanusiaan, harus berdemokrasi, dll .

Bahkan manusia itu sudah belajar beragama bertahun tahun, mana hasilnya? tidak ada agama yang menyuruh perang…. Berarti selama ini manusia yang sudah belajar dan sudah melakukan pendidikan sekolah bertahun tahun… Gagal dong?

Hayoo… tonton film TANGERINES…… agar kita sebagai manusia atau bangsa lebih bijaksana dalam mengarungi kehidupan yang sementara ini. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Zaza Urushadze. Dan dirilis pada tanggal 17 Oktober 2013 lalu di Estonia. Film yang dibintangi oleh Lembit Ulfsak, Elmo Nuganen, dan Giorgi Nakashidze ini berhasil masuk nominasi dalam Oscar 2015 untuk kategori Best Foreign Language Film. Film ini juga mendapat rating 8,7 dari 10 bintang.

Film ini mengisahkan perang yang terjadi di Negara Georgia, tepatnya di daerah Apkhazeti di tahun 1990. Cerita bermula dari seorang warga Estonia yang bernama Ivo dan Margus. Ia adalah seorang petani jeruk. Tiba-tiba sebuah pertikaian berdarah terjadi dan menyebabkan beberapa orang terluka parah. Melihat hal itu, Ivo mengajak mereka masuk ke dalam tempat tinggalnya. Konflik yang terjadi di wilayah Apkhazeti di tahun 90an membuat penduduk setempat muak dan berusaha menyerang balik. Sementara itu, sebuah desa kecil yang terletak di antara 2 bukit pun kosong. Semua orang sudah pergi dan kembali ke kampung halamannya yang aman. Hanya 2 orang yang tetap tinggal di sana: Ivo dan Margus. Margus memutuskan untuk segera pergi setelah ia memanen tanaman jeruk miliknya. Setelah terjadi konflik berdarah, Ivo pun memaksa untuk menyelamatkan beberapa prajurit yang terluka.

Nah, di sini lah cerita sesungguhnya dimulai. Ternyata para prajurit yang terluka tersebut adalah pihak musuh. Inilah yang ditekankan oleh para relawan anti perang. Ketika mereka sedang terluka dan terpaksa harus berlindung di wilayah musuh, apa yang mereka rasakan? Apa yang akan mereka lakukan ketika mereka berteduh di dalam rumah musuh yang seharusnya mereka bantai?

Film ini memang diharapkan membawa pesan perdamaian bagi para penontonnya. Jika kalian termasuk salah seorang yang membenci peperangan, tonton saja film yang sangat menginspirasi ini. Saling Memaafkan dan kemudian menjadi teman padahal mereka adalah musuh adalah sifat mulia yang patut diteladani oleh manusia yang katanya terpelajar ini.

Mari kita tanamkan kepada anak2, saudara, sahabat, masyarakat kita untuk bisa saling memaafkan biarpun kita saling berbeda pendapat, tempat asal, suku, ras, agama,  bahkan bermusuhan sekalipun.

Cisitu Lama I, Bandung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.