CARA BERDAKWAH SESUAI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH

Praktek yang dilakukan Nabi Muhammad ﷺ dalam berdakwah menyebarkan islam adalah sbb:

  1. Bertahap (Lihat  QS Al Mudaththir (74), Ayat 1-7)
    • Pertama (1) dilakukan secara sembunyi2 (Menggunakan Taktik), Dilakukan kepada keluarga terdekat dulu agar tidak terjadi benturan dengan orang-orang yang masih kafir. Pertama dakwah Nabi adalah Tauhid. Menyeru manusia agar menyembah Allah. Membuat manusia bersaksi: “Tidak ada Tuhan selain Allah”.
      • Istrinya Khadijah, keponakannya Ali, budak Beliau Zaid masuk Islam. Kemudian Abu Bakar, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah juga masuk Islam. Dan seterusnya diikuti oleh yang lain seperti Abu Ubaidah, Abu Salamah, Arqom bin Abi al Arqom, dll.
      • Beliau menjadikan rumah Arqom bin Abi al Arqom sebagai pusat pengajaran dan sekaligus pusat kelompok atau sekretariat. Di tempat ini Rasulullah mengajarkan hukum-hukum Islam, membentuk kepribadian Islam serta membangkitkan aktivitas berpikir para sahabatnya tersebut. Beliau menjalankan aktivitas ini lebih kurang selama 3 tahun dan menghasilkan 40 orang lebih yang masuk Islam.
    • Kedua (2) dilakukan dengan terang2an dan terbuka setelah turun QS Hijr (15) Ayat 94-99).
      • Di tahap ini kaum kafir mulai memerangi dan menganiaya Rasulullah dan para sahabatnya. Ini adalah periode yang paling berat dan menakutkan di antara seluruh tahapan dakwah. Bahkan sebagian sahabat yang dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib diperintahkan oleh rasul untuk melakukan hijrah ke Habsyi.
      • Sementara Rasulullah dan sahabat yang lain terus melakukan dakwah dan mendatangi para ketua kabilah atau ketua suku baik itu suku yang ada di Mekkah maupun yang ada di luar Mekkah. Terutama ketika musim haji, dimana banyak suku dan ketua sukunya datang ke Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Rasulullah mendatangi dan mengajak mereka masuk Islam atau minimal memberikan dukungan terhadap perjuangan Nabi.
  1. Melakukan Hijrah
    • Saat kondisi amat membahayakan, para sahabat dan Nabi pun hijrah ke Madinah. Ini agar tidak terjadi pertumpahan darah yang tidak perlu. Bisa saja Nabi melawan/berontak karena beberapa sahabat seperti Abu Bakar, Abdurrahman bin ‘Auf, Umar, dsb adalah bangsawan yang terpandang dan juga cukup disegani. Tapi itu akan menimbulkan korban jiwa baik di kalangan Islam mau pun orang-orang kafir yang jadi target dakwah Nabi.
    • Pada akhirnya, orang-orang kafir ini akan masuk Islam dengan cara yang damai lewat Futuh Mekkah. Jadi Islam amat menghargai nyawa manusia.
  2. Dakwah dengan cara yang lembut (Tidak Kasar dan Keras), sopan, bijaksana, kasih sayang, dan penuh keteladanan (cara yang baik dan bijak) (QS. An-Nahl (16) Ayat 125).. Jika mereka salah Maafkan dan Mohonkan Ampunan dan Bermusyawarahlah. Jika terjadi kesulitan Lakukan Tawakal hanya kepada Alloh (Bertawakal-lah)
    • Saat orang2 kafir Musyrik di Thaif menolak dakwah Nabi bahkan menimpuki Nabi, Malaikat menawarkan Nabi untuk melaknat dan membunuh mereka dengan menjatuhkan gunung ke kaum tsb, Nabi menolaknya. Siapa tahu keturunan mereka akan jadi Muslim yang baik.
    • Rasulullah SAW adalah sebaik-baiknya teladan bagi umat manusia. Dalam berdakwah, Rasul SAW senantiasa mengajak umatnya dengan cara yang lembut, sopan, bijaksana, kasih sayang, dan penuh keteladan.
    • Sebab, sejatinya dakwah adalah menyeru dan mengajak umat manusia untuk menjadi lebih baik. Bukan menakut-nakuti mereka dengan berbagai ancaman.
    • Dalam Alquran, Allah SWT memberikan tuntunan berdakwah dengan tiga cara, yakni dengan hikmah, dengan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl (16) Ayat 125).
    • “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al Ambia (21) Ayat 107). Karena itu, Allah dan Rasul-Nya mengharamkan segala bentuk praktik kotor dengan mengatasnamakan dakwah. Misalnya, memanipulasi atau menjual ayat-ayat Allah demi keuntungan sesaat, mengeksploitasi potensi umat demi kepentingan pribadi atau melakukan pemaksaan dan tindakan anarkis atas nama agama. Dalam berdakwah, Rasulullah SAW mendahulukan prinsip rahman (kasih sayang), karena beliau diutus ke muka bumi ini sebagai rahmat bagi semesta alam. Sebab, dengan cara ini, metode dakwah lebih berjalan efektif untuk memberikan kesadaran umat.
      • Seorang pemuda pernah bertemu dan bertanya pada Rasul SAW. ”Ya Rasulullah, izinkan saya berzina.” Rasul memandangi pemuda tersebut dengan penuh kasih sayang dan mengajaknya berdialog. ”Sukakah kamu bila itu terjadi pada ibumu?” tanya Rasul. ”Tidak, demi Allah,” jawab anak muda itu. ”Sukakah kamu bila itu terjadi pada saudara perempuanmu?” tanya Rasul. ”Tidak, demi Allah.” ”Sukakah kamu bila itu terjadi pada anak perempuanmu?.” ”Tidak, demi Allah.” Sukakah kamu bila itu terjadi pada istrimu?” Anak muda itu menjawab, ”Tidak, Demi Allah.” Rasulullah lalu berkata, ”Demikianlah halnya dengan semua perempuan, mereka itu berkedudukan sebagai ibu, saudara perempuan, istri, atau anak perempuan.” Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya di dada pemuda itu, lalu mendoakannya. Alangkah indahnya teladan Rasulullah SAW. Begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang. Nasihatnya tak menyakitkan si pendengarnya, bahkan menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Dan si pendengar tidak menganggap nasihat itu sebagai sebuah larangan, melainkan contoh yang akan terjadi terhadap dirinya dan keluarganya.
    • Bahkan terhadap Fir’aun yang super Kafir karena mengaku Tuhan dan paling zalim sekalipun Allah memerintahkan Nabi Musa untuk berdakwah kepada Fir’aun dengan baik. Padahal Fir’aun ini zalimnya luar biasa karena sudah membunuh banyak bayi lelaki dan ingin membunuh Nabi Musa dan pengikutnya. Allah tidak memerintahkan Nabi Musa membunuh Fir’aun atau pun Bughot karena kekafiran dan kezaliman Fir’aun. Jadi aneh jika zaman sekarang ada yang membantai puluhan ribu manusia dengan alasan si Fulan yang sebenarnya masih sholat sebagai Kafir dan Zalim. Itu bertentangan dengan AL Qur’an: Apa firman Allah kepada Musa? Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku; Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. …………… (QS Taahaa (20) Ayat 42-46).
    • Dari Aisyah ra, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lemah Lembut dan mencintai sikap yang lemah lembut dalam segala perkara.” (Muttafaq ‘alaih) Saat seorang Arab kampung kencing di masjid, banyak sahabat yang ingin memukulnya karena “kurang ajar”: Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Ada seorang A’rab -orang Arab dari daerah pedalaman- kencing dalam masjid, lalu berdirilah orang banyak padanya dengan maksud hendak memberikan tindakan padanya. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda: “Biarkanlah orang itu dan di atas kencingnya itu siramkan saja setimba penuh air atau segayung yang berisi air. Karena sesungguhnya engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan kemudahan dan bukannya engkau semua itu dibangkitkan untuk memberikan kesukaran.” (Riwayat Bukhari). Namun Nabi melarang mereka dan menyiramnya dengan air. Jika orang itu dipukul, niscaya dia akan benci terhadap Islam dan mati sebagai orang kafir. Namun kelembutan Nabi membuat orang itu tetap di dalam Islam.
    • “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS Al Imron (3) Ayat 159).
    • Saat para sahabat disiksa di Mekkah dan Nabi juga dihina seperti dilempari tahi unta bahkan hendak dibunuh, Nabi tidak meminta para sahabat memerangi mereka. Karena Nabi menghindari pertumpahan darah. Nabi memilih hijrah ke Madinah dan menghindari peperangan.
    • Saat diserang kaum kafir Quraisy di Madinah pun Nabi memilih bertahan membela diri pada perang Badar, perang Uhud, dan Perang Khandaq. Saat musuh kalah dan mundur, beliau tidak mengejar dan menghabisi mereka. Tapi membiarkan mereka lari menyelamatkan diri. Setelah itu, baru Nabi menaklukkan kota Mekkah dengan Futuh Mekkah. Itu pun tidak dengan peperangan. Dan nyaris tidak ada korban jiwa. Ini karena Nabi bukanlah orang yang kejam dan haus darah.
    • Abu Sofyan dedengkot orang kafir yang jadi musuh bebuyutannya beliau hormati dan dijadikan sahabat. Hindun yang membunuh paman Nabi, Sayyidina Hamzah, dengan keji hingga tidak berbentuk lagi serta memakan jantungnya beliau maafkan. Padahal bisa saja beliau jadikan dia sebagai penjahat perang yang dihukum mati karena telah bertindak kejam melampaui batas.
    • Nabi juga memaafkan Wahsyi yang membunuh paman beliau. Sehingga Wahsyi bisa jadi Muslim yang baik dan kelak tombaknya membunuh satu Musuh Islam yang mengaku sebagai Nabi, yaitu Musailamah Al Kazzab
  3. Tidak meminta Upah ketika berdakwah dan Tidak mengada adakan kebatilan (QS Saad (38) Ayat 86)
    • Ketika Rasulullah saw menyampaikan kebenaran, beliau tidak berharap apapun untuk keuntungan pribadinya. “Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku).”
    • Semua yang disampaikan Rasulullah berdasarkan kebenaran dan bukti yang nyata. Beliau tidak pernah sekalipun mengada-ada. Dan aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada.”
    • Jangan malu untuk berkata “Saya tidak tau”. Jangan malu untuk diam jika tidak mengerti. Sampaikan kebenaran dengan argumen dan bukti yang jelas, jangan pernah mengada-ngada !
  4. Berdakwah kepada Semua Orang, Semua Golongan, Baik kaya atau miskin (Tidak Diskriminasi) (QS Saad (38) Ayat 87)
    • Dakwah beliau tidak pernah ditujukan untuk golongan atau ras tertentu. Dakwah beliau disampaikan untuk seluruh umat manusia. (Al-Quran) ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.”
    • Berdakwalah kepada semua orang. Jangan pilih-pilih mimbar. Kaya dan miskin, penguasa dan orang biasa sering dibedakan. Hati-hati dengan sifat ini, sampaikan kebenaran dimanapun dan kepada siapapun.
  5. Selalu Optimis dan Yakin akan berhasilnya Tujuan Dakwah (QS Saad (38) Ayat 88)
    • Rasulullah saw memiliki optimisme yang tinggi bahwa perjuangan dakwah beliau akan berhasil dan orang-orang akan mengetahui kebenarannya. Dan sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (al-Quran) setelah beberapa waktu lagi.”
    • Selalu optimis dalam berdakwah. Semua yang dilakukan tidak akan pernah sia-sia. Jika sekarang belum ada hasil yang terlihat, janganlah putus asa ! Karena Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang berjuang dijalan-Nya dalam keadaan sendirian.
  6. Keras terhadap orang2 kafir dan Kasih Sayang kepada sesama Muslim.
    • “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar “. (QS Al Fath (48) Ayat 29).
  7. Berdakwah Menyeru dan menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia hanya untuk Ridho Alloh.
    • “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisa (4), Ayat 114).
    • Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (QS Al Hujurat (49) ayat 9 dan 10).
  8. Sabar.
    • “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”. Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” (QS Al Fussilat (41) Ayat 33-35).
  9. Tidak melakukan Ghibah atau Adu Domba,

    Kalau ada kelompok islam yang melakukan buruk sangka (Su’udzon), melakukan ghibah dan fitnah, tidak tabayun/memeriksa berita dari orang fasik, melakukan adu domba/namimah, maka itu bukanlah dakwah yang benar karena bertentangan dengan Surat Al Hujutrat ayat 11 dan 12 dibawah ini

    • Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
    • Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Inilah yang menjadi tantangan dan tugas pada dai untuk mengajak umat menuju kebaikan, serta menghindarkan mereka dari perbuatan dosa. Rasulullah SAW telah mengajarkan dan mencontohkan cara berdakwah yang baik dan penuh hikmah. Wa Allahu a’lam

Cisitu Lama, Bandung 10 Maret 2018

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.